Polemik Dewa Kipas vs Irene, Ibarat Tottenham Hotspur melawan Persekol

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Setelah heboh di jagat media sosial, hari ini pukul 15.00 nanti, polemik Dewa Kipas akan diselesaikan di podcast Deddy Corbuzier, setelah GMW Irene Kharisma Sukandar menerima tantang Deddy untuk melawan Dadang Subur, orang yang berada di balik akun Dewa Kipas di Chess.com yang sejak beberapa hari belakangan ini dielu-elukan sebagai “local hero” oleh masyarakat Indonesia yang tidak mengerti tentang dinamika dunia catur professional.

Seperti luas diketahui, nama Dewa Kipas mencuat setelah Ali Akbar, anak semata wayang Dadang Subur yang berada di akun itu, memposting di akun media sosialnya, bahwa sang bapak diblokir oleh Chess.com karena berhasil mengalahkan Levy Rozman yang memilih nama GothamChess sebagai nama akunnya.

Saya tidak terima. Mentang-mentang publik figure (GothamChess) bisa senaknya saja memblokir akun orang,” tulis Ali Akbar dalam cerita yang dia unggah di akun media sosial pribadinya.

Tanpa merasa perlu menyelidiki, benar tidaknya klaim Ali Akbar bahwa Dewa Kipas diblokir karena mengalahkan Levy Rozman (yang namanya seperti nama orang Yahudi) warganet Indonesia alias netizen + 62, tanpa ba bi bu, langsung menyerang GothamChess maupun Chess.com di dunia maya untuk membela Dadang.

Tanpa mau tahu duduk persoalannya, segala media sosial milik Levy dihujani hujatan publik Indonesia yang anti penjajahan. Beberapa akun twitter ber-follower besar seperti Mazzini yang banyak membahas soal sejarah misalnya, ikut mengompori dengan mengangkat sentiment kolonialisme.

Alhasil serangan yang diterima oleh Levy dan Chess.com pun semakin menggila. Yang diserang bukan lagi hal terkait catur, bahkan, keluarga sampai ibu Levy pun dimaki-maki oleh netizen +62 dengan berbagai kalimat yang tidak pantas untuk dituliskan di media ini.

Akhirnya nama Dewa Kipas pun viral, di Indonesia, orang mulai merendahkan para pecatur professional yang digambarkan seolah hidup di menara gading yang tidak tahu kalau di luar sana, di pos-pos ronda Indonesia ada banyak pendekar catur sakti yang tidak pernah dikenal dunia. Berbagai komentar ini mengarah pada pelecehan profesi atlet catur.

Fenomena tidak sehat ini jelas membuat gerah Percasi, federasi olahraga catur di Indonesia. Para pecatur professional di Indonesia jelas lebih gerah lagi, karena yang dirisak dan dimaki-maki oleh Netizel +62 adalah kolega mereka sesame pecatur professional yang sangat mungkin akan mereka temui di pelbagai turnamen internasional.

Kalau mereka tidak bersuara dan menjernihkan masalah ini, kemana mereka harus menyembunyikan muka ketika mengikuti pertandingan internasional, bertemu dengan para pecatur dari negara lain?

Tapi karena catur bukanlah olahraga tontonan yang sepopuler sepakbola, niat baik dari Percasi dan para atlet catur Indonesia yang sudah berkali-kali mengharumkan nama bangsa ini malah dipandang oleh netizen +62 sebagai kesombongan. Netizen menganggap, Percasi dan para atlet professional Indonesia ini takut tersaingi, kalah pamor dengan seorang bapak tua dari antah berantah yang cuma hobi catur tapi tidak menjadikan itu sebagai profesi.

Bagi atlet catur sekelas Susanto Megaranto dan Irene Kharisma Iskanda, pernyataan seperti itu jelas terdengar lucu sekaligus membuat mereka mengelus dada, sebab pernyataan seperti itu menunjukkan kalau orang Indonesia secara umum sama sekali tidak mengerti kedalaman dunia catur.

Seandainya catur sepopuler sepakbola, pernyataan yang melecehkan Percasi dan para atlet kebanggaan Indonesia ini jelas tidak akan pernah terjadi.

Atlet terbaik Indonesia, seperti Susanto Megaranto dan Irene Kharisma Sukandar memang bukan pecatur terbaik di dunia, tapi mereka masuk jajaran elit. Kalau ini dibandingkan dengan sepakbola, tak satupun pemain sepakbola Indonesia atau klub di Indonesia yang dalam peta persaingan olahraga ini berada di level yang sudah dicapai dua pecatur terbaik Indonesia ini.

Kalau diibaratkan klub sepakbola, level Irene Kharisma Sukandar di persaingan elit catur dunia itu setara level klub Tottenham Hotspur. Bukan klub terbaik, ada di jajaran elit. Kalau di level pemain, kalau dibandingkan dengan pemain sepakbola, mereka itu selevel Raphael Varane, Adrian Rabiot, Marcos Alonso atau Tammy Abraham.

Dewa Kipas mungkin jago, tapi levelnya adalah juara tarkam atau maksimal juara kabupaten. Kalau dalam sepakbola, levelnya setingkat Persekol (Persatuan Sepakbola Koyon Lah) atau Putra Bale, jago dan mengagumkan di level kabupaten. Tapi siapapun yang mengerti sepakbola akan tertawa jika ada yang mengatakan dua klub hebat di Gayo itu mampu mengalahkan Tottenham Hotspur.

Atau mengatakan Marbek, pemain legendaris Putra Bale, di masa jayanya kalau diberi kesempatan mampu bersaing dengan para pemain AC Milan. Bahkan baik Marbek maupun Katung sendiripun saya yakin merasa jengah dengan adanya pernyataan semacam itu.

Persoalan lain yang berbeda antara catur dan sepabola, kalau sepakbola, selain membutuhkan kekuatan mental, kemampuan analisa dan kecerdasan, kemampuan fisik sangat dominan, catur tidak. Kemampuan fisik nyaris tidak diperlukan di permainan ini, kehebatan seorang pemain catur terletak pada kekuatan mental, kemampuan analisa dan kecerdasan serta pengendalian emosi.

Tidak seperti sepakbola yang hanya bisa dimainkan secara langsung, catur bisa dimainkan secara online. Nah, kemajuan teknologi komputer membuat gerakan catur bisa dianalisa oleh mesin dengan akurasi langkah yang sempurna.

Orang bisa berlatih menggunakan langkah-langkah ini. Langkah mesin pasti akan selalu akurat, karena mesin tak punya emosi, mesin tak takut kalah, mesin tak memikirkan uang sekolah anak yang belum terbayar, mesin tak memikirkan pulsa listrik yang sudah menjerit-jerit minta diisi.

Inilah yang menjadi pokok persoalan polemik Dewa Kipas. Dia bermain online, tak ada mekanisme yang bisa memastikan dia benar-benar main sendiri atau dibantu mesin. Karena menurut klaim anaknya, dia gaptek, jadi tidak mungkin bisa main curang dengan menggunakan mesin.

Argumen inilah yang langsung ditelan bulat-bulat oleh netizen Indonesia, sehingga Dewa Kipas pun muncul sebagai sosok bapak tua innocent yang dizalimi oleh elit catur global. Tentu saja ini menggugah emosi dan naluri siapapun untuk membela.

Karena dimunculkan dengan gambaran seperti ini, beberapa kejanggalan dalam argumen inipun tak lagi dipedulikan netizen +62. Sebut saja misalnya cerita dari Ali Akbar sendiri bahwa bapaknya sering main melawan Bot komputer untuk berlatih. Jadi kalau sudah tahu bot ini, apa pengaruhnya gaptek atau tidak untuk bermain curang.

Cukup bermain dengan dua HP, ketika main melawan orang betulan di layar komputer atau HP, tinggal hidupkan satu HP lagi bermain dengan bot, semua langkah lawan masukkan ke HP lalu jawaban dari bot, gerakkan sebagai gerakan kita waktu berhadapan dengan lawan.

Selanjutnya kitapun membaca berbagai pembelaan yang lucu, misalnya membandingkan Dewa Kipas dengan Alip Ba Ta, pemain gitar dari antah berantah yang menggemparkan dunia dengan skill-nya.

Setidaknya ada dua kekeliruan fatal dalam perbandingan yang sama sekali tidak tepat ini.

Pertama, untuk kehebatan skill gitar seseorang, tidak ada tolok ukur yang pasti, hebat tidaknya seorang pemain gitar, itu tergantung persepsi, tidak ada skornya. Sementar kehebatan pemain catur jelas dinilai dari kalah atau menangnya dia di sebuah pertandingan.

Kedua, skill gitar Alip Ba Ta jelas bisa disaksikan oleh siapapun yang menonton YouTube-nya, semua orang jelas bisa melihat bagaimana jemari Alip Ba Ta menari di leher gitarnya. Skill Alip Ba Ta, mendapat apresiasi dari banyak gitaris hebat dunia.

Sementara Dewa Kipas, siapa yang sudah pernah menyaksikannya langsung bermain di papan catur melawan seorang rival yang mumpuni?

Ya begitulah di level awam, tapi untuk para profesional, tentu “tidak semudah itu Ferguso”

Para pecatur professional sekilas saja bisa langsung menilai, mana orang yang bermain dengan segala emosinya dan mana mesin yang datar tanpa emosi sama sekali. Inilah yang terjadi pada Dewa Kipas.

Karena sudah heboh, maka berbagai informasi tentang Dewa Kipas pun mulai dapat dari sumber selain postingan Ali Akbar, anaknya.

Salah satu fakta yang terungkap adalah ; akun Dewa Kipas tidak di-ban karena dia mengalahkan Levy dan direport beramai-ramai oleh pendukungnya sebagaimana diduga oleh Dadang Subur dan Ali Akbar.

Akun itu diblokir karena Algoritma Chess.com melihat adanya kejanggalan dari akun ini yang kenaikan ratingnya sangat tajam dan dalam waktu dua bulan bermain, ketepatan akurasi langkahnya konsisten di angka 95 -99 %. Tak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang mampu melakukan hal sekonsisten itu, bahkan sekelas Gary Kasparov atau Magnus Carlsen, juara dunia saat inipun tidak mampu.

Di podcast Deddy Corbuzier, Levy Rosman sendiri mengaku kalau setidaknya dia sudah pernah delapan kali dikalahkan pecatur asal Indonesia. Tapi karena tidak ada indikasi kecurangan, tidak ada akun pecatur Indonesia yang mengalahkannya itu yang diblokir oleh Chess.com.

Untuk yang menganggap report atau laporan dari fans bisa membuat Chess.com memblokir sebuah akun, Irene Kharisma Sukandar bahkan sampai menantang, silahkan siapapun beramai-ramai melaporkan akunnya dengan tuduhan curang. Dia berani jamin akunnya akan tetap aman karena algoritma situs itu tidak akan membaca pergerakannya curang.

Fakta lain yang ditelusuri oleh Percasi, ternyata Dadang Subur memang pernah ikut turnamen entah itu tingkat perusahaan atau kabupaten. Yang mereka dapatkan, dari banyak turnamen yang diikuti Dadang Subur, dia hanya pernah juara di Singkawang. Selebihnya, bahkan untuk bersaing di level provinsi pun dia tidak mampu.

Kalau di masa jayanya saja dia tidak mampu, apalagi sekarang. Sebagai gambaran, GM top seperti Yasser Seirawan bahkan Gary Kasparov sendiri yang sudah pensiun dari catur professional, sekarang sudah tak mampu lagi bersaing dengan para pecatur professional yang masih aktif. Apalagi cuma untuk sekelas jago kecamatan.

Segala ephoria terkait Dewa Kipas, terjadi akibat kurangnya wawasan tentang catur. Ini terjadi karena masyarakat Indonesia memahami catur sebatas melihat kehebatan para pemain catur sekelas juara pos ronda dan menganggap mereka itu sebenarnya bisa melawan juara dunia.

Ini ibarat penonton sepakbola di Gayo yang seumur hidupnya cuma pernah menontoh pertandingan Tarkam, sehingga dalam benaknya gambaran pemain hebat itu adalah Marbek dan Katung. Tidak terbayang di benak mereka ada pemain seperti Ronaldo Tonggos, Roberto Carlos, Ronaldinho, Marco van Basten, sampai CR 7 dan Lionel Messi.

Sebagai gambaran, bagaimana canggihnya permainan pecatur pro. Saya sendiri di Bali, kalau bermain catur di tongkrongan, di pos ronda dan warung kopi, jarang sekali yang mampu mengalahkan saya. Bisa dihitung dengan jari, pemain catur kelas tongkrongan yang bisa mengalahkan saya.

Suatu waktu, Lintang anak saya yang waktu itu berumur 9 tahun ikut sekolah catur gratis yang diasuh seorang Master Nasional bernama Ketut Sana Widiantara. Ketika mengantarkan anak saya berlatih, kadang saya ikut bertanding dengan anak-anak sekolah catur itu yang sudah duduk di bangku kelas V dan kelas VI SD dan sudah berlatih lebih dari setahun.

Sekali saya pernah menang melawan anak-anak itu, setelahnya sampai sekarang, jangankan menang, remis pun tidak pernah. Itu baru untuk anak-anak yang baru belajar catur, bayangkan bagaimana yang pro, sekelas master nasional, master Internasional, apalagi GM seperti Irene Kharisma Sukandar.

Untuk kawasan Gayo sekitarnya, yang mau menguji kebenaran pernyataan ini mudah saja, cari saja jago catur tongkrongan yang paling jago, tapi bukan pecatur professional. Ajak ke WRB Café di depan gedung BRI dan suruh melawan Master Nasional Irwandi yang sering nongkrong di sana. Bisa menang?

Tapi begitulah netizen +62, kalau sudah tersentuh sisi nasionalismenya, segala penjelasan sejernih dan semasuk akal apapun akan mental semua.

Hari ini, polemik ini akan diakhiri. Irene Kharisma Sukandar akhirnya direstui oleh Percasi untuk membuka mata masyarakat Indonesia tentang dunia catur profesional.

Siapa yang menang dan kalah di pertandingan ini jelas sudah tidak relevan dibicarakan, ibarat sepakbola, sehebat-hebatnya Persekol, tentu bukan levelnya untuk disandingkan dengan Tottenham Hotspur.

Tapi yang kita harapkan dengan pertandingan ini, mata masyarakat Indonesia jadi terbuka. Catur itu bukanlah olahraga yang mengandalkan keberuntungan seperti Ludo, Monopoli dan Ular Tangga. Catur itu seperti juga sepakbola, untuk bisa berprestasi, tak bisa tidak, hanya bisa didapat dengan latihan yang disiplin dan terpola.

Kemudian, hikmah lain dari segala kehebohan Dewa Kipas ini kita jadi tahu kalau Irene Kharisma Sukandar ternyata bukan ibu-ibu sepuh dengan wajah serius dan kaku, ternyata Irene Kharisma Iskandar adalah seorang perempuan muda yang cantik, imut dan berkharisma sesuai namanya. []

Comments

comments