JAKARTA-LintasGAYO.co : Peneliti jejak nenek moyang urang Gayo di Mendale dan Ujung Karang, Dr. Ketut Wiradnyana, menerbitkan sebuah artiker tentang DNA orang-orang Mendale di jurnal internasional bereputasi tinggi.
Artikel dengan judul Recontructing the west-east genetik division in Indonesia using ancient genomes, terbit di jurnal iScience bereputasi tinggi.
Sebagaimana diketahui iScience adalah jurnal ilmiah akses terbuka (open access) interdisipliner dari Cell Press yang menerbitkan penelitian orisinal di bidang ilmu hayati, fisik, bumi, dan kesehatan. Jurnal ini berfokus pada penelitian yang memberikan kontribusi signifikan dengan metodologi yang kuat, serta menerima studi replikasi dan hasil negatif.
Ketut Wiradnyana kepada LintasGAYO.co, Selasa 12 Mei 2026 mengatakan, di artikel ini, dia menulis bersama lima dengan peneliti dari China, diantara Yu Xu, Hui Zhou, Xuiping Zi, Chuan-Chao Wang dan Xioming Zhang.
Dijelaskan, dalam artikel ini menunjukkan bahwa adanya campuran DNA antara orang-orang Hoa Binh dan Autronesia di Loyang Mendale ribuan tahun yang lalu.
“Disini dibuktikan bahwa Hoa Binh dan Autronesia sudah berbaur di Mendale, dan menunjukkan adanya pruralisme jauh sebelum kehiduoan orang Gayo sekarang ini,” kata Ketut.
Selain adanya campuran DNA Hoa Binh dan Aurtronesia, Ketut menambahkan, campuran budaya antara keduanya juga ditemukan di Mendale.
“Ya, pruralisme dan multiculturalisme sudah ditemukan disana ribuan tahun lalu. Hal ini juga dibuktikan dengan penelitian arkeologis,” tegas Ketut.
Dijelaskan, Hoa Binh tertua ditemukan di Yunan China yang berusia 43.500 tahun yang lalu. Selama ini, peneliti menganggap Hoa Binh yang berasal dari Vietnam Bagian Utara sudah terbantahkan dengan terbitnya artikel ini.
“Ternyata di China lebih tua. Sementara, DNA yang kita temukan di Mendale, itu sama dengan DNA Hoa Binh yang ditemukan di Andaman. Dengan begitu, teori asal mula Hoa Binh berubah,” tegasnya.
Ketut menegaskan, artikel yang terbit di jurnal bereputasi tinggi tersebut, membuktikan hasil penelitiannya sejak 2009 silam di Ceruk Mendale dan Loyang Ujung Karang.
Dalam membuktikan itu, Ketut mengaku sudah 5 kali bolak-balik ke China, untuk mengunjungi situs-situs Hoa Binh disana dan dibandingkan dengan di Sumatera.
“Dan pada Juni 2026 nanti, peneliti dari China akan melihat situs penelitian kita Mendale dan Ujung Karang,” tandas Ketut yang akan orasi Profesornya pada akhir tahun ini.
[Darmawan]





