
DARI tahun ke tahun Kabupaten ini terus berbenah, tentunya berbenah menjadi lebih baik. Sempat terpuruk dalam hal ekonomi dan pendidikan, tidak menyurutkan ambisi daerah berjuluk Negeri Seribu Bukit ini menjadi Kabupaten yang layak di favoritkan di Provinsi Aceh.
Terlepas dari komentar negatif tentang proses pembangunan daerahnya, rasanya Gayo lues saat ini patut diapresiasi. Pasalnya, jika kita melirik umur Gayo Lues yang masih sangat muda yakni 13 tahun lebih, tentu akan menjadi sulit bagi Gayo Lues untuk merengsek bersaing di antara Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh yang sudah berdiri sejak puluhan hingga ratusan tahun lalu.
Namun faktanya bercerita lain, saat ini Gayo Lues cukup baik membuktikan konsistensinya dalam mengelola dan mewujudkan promosi wisata dan budaya. Kabupaten ini seakan haus, bergairah dan terlihat sangat berambisi untuk menunjukkan dan mengelola lebih dalam segala potensi daerahnya kepada orang banyak.
Bukan tanpa dasar, namun begitulah gambaran yang diperlihatkan oleh Pemerintah dan Masyarakat Gayo Lues. Misalnya, akhir tahun 2014 lalu Gayo Lues berhasil mengguncang dunia seni tari tradisional. Sebanyak 5.057 Pemuda Gayo Lues dari berbagai kalangan dan umur menari Saman menyambut hari jadi Gayo Lues.
Selain menghibur masyarakat dan membawa udara segar bagi Provinsi Aceh di Negara ini, Pagelaran menari Saman massal itu juga meruntuhkan pernyataan miring orang banyak baik dari dalam ataupun luar Aceh yang sebelumnya menganggap Pemerintah dan Masyarakat Gayo Lues tidak peka menjaga kekayaan seni budayanya.

Selesai pagelaran digelar, ribuan pujian mengalir. Bukan merasa puas, namun nampaknya Pemerintah dan Masyarakat Gayo Lues masih sangat haus, pagelaran seni tradisional yang menoreh rekor dunia itu bagi mereka belum cukup. Belum lama ini Pemerintah mewacanakan akan kembali menggelar Tari Saman massal pada tahun 2016. Tidak tanggung-tanggung, jumlah penari akan ditambah menjadi 10.000 penari. Rasanya bukan berlebihan jika saya menyebut Gayo Lues saat ini haus prestasi.
Pasca pagelaran yang cukup menghebohkan masyarakat sekaligus media baik nasional atau luar, Gayo Lues kembali membawa angin surga dan bagi saya itu wajib di apresiasi oleh seluruh masyarakat di Provinsi Aceh dan bahkan seluruh masyarakat Indonesia. Tepat saat memperingati HUT Republik Indonesia beberapa bulan lalu, Desa Uning Pune di Kecamatan Putri Betung dipilih sebagai salah satu dari 6 Desa Teladan se-Indonesia. Pernyataan tersebut langsung diumumkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
Berhasil mengukir prestasi tingkat dunia dan nasional, Gayo Lues selalu semakin haus. Nampaknya Pemerintah dan Masyarakat setempat sedang dalam masa percaya diri yang tinggi. Siapa sangka, Gayo Lues kembali menjadi pusat perhatian masyarakat Aceh. Sebab Gayo Lues menjadi Kabupaten pertama di Aceh yang mampu menggelar Kejuaraan Arung Jeram yang akan digelar pada 9-12 Oktober tahun ini. Tentu ini menjadi catatan sejarah dalam prestasi bidang olah raga Aceh.
Itulah sedikit gambaran bagaimana hausnya Gayo Lues saat ini akan prestasi, Gayo Lues sepertinya tidak mau dianggap anak kecil lagi karena umurnya yang masih muda. Ambisi Gayo Lues saat ini benar-benar dalam kondisi yang tepat, rasa percaya diri mereka juga dinilai dalam situasi yang baik.
“Kabupaten ini semakin bergairah,” begitulah ungkapan awal dari seorang pengunjung warung kopi yang duduk disamping saya, yang akhirnya memecah kebuntuan saya untuk menulis ini. Saya sebagai masyarakatnya sudah patut bersyukur dan semoga Gayo Lues terus semakin baik. Baik untuk daerahnya dan tentu baik juga untuk masa depan masyarakatnya.
Lalu, kapan Gayo Lues merasa puas? Saya berharap jangan pernah sama sekali. (Supri Ariu)





