Oleh : Prof Ahmad Humam Hamid*
Dunia sudah lama mengenal kopi Gayo. Orang Amerika menyeruputnya pada pagi hari, orang Eropa memperdebatkan aroma dan tingkat keasamannya, sementara para pedagang internasional menghitung harga dan keuntungan dari setiap kontainer yang melintasi samudra. Di tanah asalnya, petani masih harus memikirkan ongkos pupuk, upah pemetik, dan harga kopi yang kadang bergerak lebih cepat daripada kabar baik dari pemerintah.
Tetapi kali ini, yang mendapat perhatian dunia bukan biji kopi, melainkan seorang perempuan bernama Istiqamah.
Pada 15 Oktober 2026, namanya masuk dalam daftar 100 perempuan yang mendapat pengakuan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) sebagai Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development. Dari dataran tinggi Gayo, kisah perjuangannya sampai ke Roma, kota yang dahulu menjadi pusat imperium besar dan kini menjadi tempat organisasi pangan dunia berkantor.
Rupanya, untuk menjadi pahlawan dunia, seseorang tidak harus memimpin pasukan, menemukan teknologi luar angkasa, atau mempunyai jutaan pengikut di media sosial. Kadang pekerjaan itu dimulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana: mendampingi petani, mengurus koperasi, dan membantu perempuan desa memperoleh tempat yang lebih adil dalam kegiatan ekonomi.
Namun, apa sebenarnya yang membuat Istiqamah layak mendapat pengakuan tersebut? Dan mengapa kisah seorang perempuan Gayo penting bagi masa depan pertanian Aceh?
Anak Petani yang Mengenal Kopi Sejak Kecil
Istiqamah tidak datang ke dunia kopi sebagai orang luar. Kedua orang tuanya adalah petani kopi. Sejak kecil ia mengenal kebun, pekerjaan petani, dan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada tanaman tersebut. Baginya, kopi bukan sekadar minuman yang disajikan dalam cangkir cantik di hotel berbintang. Kopi adalah kehidupan keluarga.
Ketika kuliah, ketertarikannya berkembang. Ia mempelajari berbagai teknik pengolahan kopi, termasuk proses natural, honey, dan wine. Pengetahuan itu membawanya pada pemahaman bahwa harga kopi tidak hanya ditentukan oleh jumlah panen, tetapi juga mutu, pengolahan, sertifikasi, dan kemampuan menjangkau pembeli.
Sejak 2019, ia bekerja dalam lingkungan koperasi kopi. Ia memulai pekerjaan pada sistem pengawasan internal atau Internal Control System (ICS), yang berhubungan dengan pemenuhan standar produksi dan sertifikasi. Pekerjaan yang mungkin terdengar administratif ini sesungguhnya menyangkut nasib petani. Sebab di pasar internasional, kopi yang enak saja tidak selalu cukup. Pembeli juga ingin mengetahui bagaimana kopi ditanam, diproses, dan diperdagangkan.
Istiqamah kemudian terlibat dalam pendampingan petani dan menjadi Master Trainer pada Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI). Ia membantu petani memahami praktik budidaya berkelanjutan, termasuk pentingnya standar produksi dan pengelolaan kebun.
Perjalanan itu memperlihatkan sesuatu yang sering terlupakan dalam pembangunan pertanian. Pengetahuan tidak hanya lahir dari laboratorium universitas atau ruang rapat kementerian. Pengetahuan juga tumbuh ketika seseorang berulang kali memasuki kebun, berbicara dengan petani, dan berusaha menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Perempuan Bekerja, Siapa Menentukan Harga?
Dalam kehidupan pertanian, perempuan sering mengerjakan banyak hal tanpa selalu memperoleh pengakuan yang sebanding. Mereka membantu pekerjaan kebun, menangani hasil panen, mengurus rumah tangga, dan menjaga agar ekonomi keluarga tetap berjalan ketika harga komoditas sedang buruk.
Tetapi ada perbedaan besar antara ikut bekerja dan ikut menentukan keputusan.
Siapa memutuskan kapan kopi dijual? Siapa berunding dengan pembeli? Siapa memperoleh informasi harga? Siapa duduk dalam pengurus koperasi? Dan siapa menentukan bagaimana keuntungan usaha digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena pemberdayaan perempuan bukan sekadar menambah jumlah perempuan dalam kegiatan pelatihan. Pemberdayaan berarti memperluas kemampuan mereka menguasai pengetahuan, sumber daya, pendapatan, dan keputusan ekonomi.
Di sinilah pekerjaan Istiqamah memperoleh makna yang lebih luas.
Menurut FAO, koperasi tempat ia menjadi sekretaris mewakili 980 anggota dengan luas kebun kopi kolektif lebih dari 1.200 hektare. Itu bukan skala usaha yang kecil. Jika dikelola dengan baik, koperasi semacam ini mempunyai potensi memperkuat posisi tawar petani terhadap pedagang, eksportir, dan pembeli internasional.
Koperasi memungkinkan petani kecil mengerjakan sesuatu yang sulit dilakukan sendirian: menjaga standar mutu, memenuhi persyaratan sertifikasi, mengumpulkan volume perdagangan, dan menjangkau pasar ekspor.
Namun, jumlah anggota dan luas kebun belum otomatis membuktikan peningkatan kesejahteraan. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan harga yang diterima petani, pendapatan bersih keluarga, biaya pemasaran, dan pembagian manfaat ekonomi.
Koperasi yang besar belum tentu koperasi yang adil. Sebaliknya, koperasi yang berhasil bukan hanya yang mampu mengekspor kopi, melainkan juga yang membuat kehidupan anggotanya lebih baik.
Dalam pengakuan FAO terhadap kiprahnya, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu unsur penting. Perempuan perlu memperoleh pendidikan, keterampilan, dan kesempatan menjadi pengambil keputusan dalam rantai usaha kopi.
Pesannya sederhana, tetapi mendasar: perempuan petani tidak cukup hanya diajak bekerja. Mereka harus diajak menentukan masa depan pekerjaannya.
Dari Kebun Kopi ke Perdebatan Kebijakan Eropa
Ada satu bagian perjalanan Istiqamah yang membuat kisahnya lebih menarik daripada sekadar cerita keberhasilan seorang pengurus koperasi.
Ia pernah terlibat menyuarakan persoalan petani Indonesia dalam pembahasan European Union Deforestation Regulation (EUDR), regulasi Uni Eropa yang dirancang untuk mencegah produk tertentu yang berkaitan dengan deforestasi memasuki pasar Eropa.
Tujuan melindungi hutan tentu penting. Tetapi pelaksanaannya dapat menimbulkan kesulitan bagi petani kecil yang tidak mempunyai dokumen lahan lengkap, kemampuan pemetaan digital, atau akses teknologi yang memadai.
Bayangkan seorang petani kopi di Gayo yang telah puluhan tahun menggarap kebun keluarga. Kopinya bagus, kebunnya terpelihara, dan hasilnya selama ini dapat dijual. Tiba-tiba ia harus berhadapan dengan persyaratan geolokasi, penelusuran rantai pasok, dan pembuktian legalitas lahan.
Bagi perusahaan besar, pekerjaan itu mungkin dapat diserahkan kepada konsultan. Bagi petani kecil, bahkan memahami istilahnya saja sudah memerlukan pendampingan.
Di sinilah peran orang seperti Istiqamah menjadi penting. Berdasarkan wawancaranya dengan Seputar Aceh, ia pernah mewakili kepentingan petani Indonesia dalam pembahasan EUDR di Eropa, khususnya mengenai legalitas lahan dan geolokasi. Persoalan tersebut menyangkut bukan hanya kopi, tetapi juga komoditas seperti kakao, sawit, dan karet.
Perjuangannya memperlihatkan perubahan besar dalam dunia pertanian. Nasib petani di sebuah kampung dapat dipengaruhi keputusan yang dibuat ribuan kilometer dari kebunnya.
Globalisasi rupanya tidak hanya membawa pembeli dan harga internasional. Ia juga membawa peraturan, standar, sertifikasi, dan biaya kepatuhan.
Karena itu, petani memerlukan lebih dari sekadar bibit unggul dan pupuk. Mereka membutuhkan organisasi yang mampu membaca perubahan dunia, memahami kebijakan perdagangan, dan memperjuangkan kepentingan mereka.
Seorang perempuan Gayo yang tumbuh dalam keluarga petani kini ikut menyuarakan persoalan tersebut dalam percakapan kebijakan internasional. Perjalanan seperti inilah yang membuat pengakuan FAO terhadap Istiqamah mempunyai arti.
Mengapa Roma Memberikan Penghargaan?
Pada 15 Oktober 2026, FAO memberikan pengakuan kepada 100 perempuan dari berbagai negara melalui program 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development. Kegiatan itu berkaitan dengan perhatian internasional terhadap peran perempuan dalam pertanian dan pembangunan pedesaan.
Dari 609 nominasi yang diajukan oleh 131 negara anggota, dipilih 100 perempuan dengan beragam kontribusi dalam pertanian, pangan, lingkungan, dan pembangunan pedesaan.
Indonesia memperoleh dua tempat. Selain Istiqamah dari Aceh, terdapat Rulyantina dari Banten yang dikenal melalui pengembangan talas Beneng.
Penghargaan ini bukan kompetisi untuk menentukan siapa petani perempuan nomor satu di dunia. FAO memberikan pengakuan kepada perempuan yang dinilai telah memberikan kontribusi penting dalam bidang masing-masing.
Bagi Istiqamah, pengakuan itu berkaitan dengan kepemimpinan koperasi, penguatan kapasitas petani, praktik pertanian berkelanjutan, dan perjuangan memperluas peran perempuan dalam ekonomi kopi.
Ada ironi kecil yang menarik. Selama bertahun-tahun, nama Gayo sudah hadir dalam perdagangan kopi internasional. Namun, perhatian publik lebih sering tertuju pada merek, cita rasa, harga ekspor, dan indikasi geografisnya.
Kali ini, dunia memberikan perhatian kepada manusia yang berada di belakang komoditas tersebut.
Kopi Gayo memang terkenal. Tetapi petani Gayo juga mempunyai nama, pengetahuan, dan perjuangan yang layak dikenal.
Pelajaran untuk Pemerintah Aceh
Penghargaan kepada Istiqamah seharusnya tidak berhenti sebagai bahan ucapan selamat, unggahan media sosial, atau acara penyambutan.
Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan organisasi usaha perlu melihatnya sebagai kesempatan mempelajari model penguatan ekonomi petani.
Selama ini, pembangunan pertanian sering terlalu terpaku pada produksi. Berapa hektare ditanam, berapa ton dipanen, berapa bibit dibagikan, dan berapa anggaran disalurkan. Semua penting, tetapi belum cukup.
Pertanyaan berikutnya justru lebih menentukan: berapa banyak nilai ekonomi yang akhirnya tinggal di tangan petani?
Kopi Gayo mempunyai reputasi internasional. Namun, reputasi komoditas tidak otomatis berubah menjadi kemakmuran masyarakat yang menghasilkannya. Di antara kebun dan cangkir konsumen terdapat pengolahan, perdagangan, pembiayaan, logistik, pemasaran, dan pembentukan merek. Setiap tahapan menciptakan nilai tambah.
Petani yang hanya menjual bahan mentah biasanya mempunyai ruang lebih terbatas untuk menikmati nilai tersebut.
Karena itu, koperasi petani perlu diperkuat bukan sekadar sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai lembaga bisnis yang profesional. Mereka memerlukan manajemen yang transparan, akses modal kerja, fasilitas pengolahan, informasi pasar, dan kemampuan memenuhi standar perdagangan internasional.
Perguruan tinggi di Aceh juga mempunyai pekerjaan besar. Penelitian pertanian seharusnya tidak berhenti pada publikasi akademik. Kampus dapat membantu koperasi menghitung biaya produksi, mengembangkan teknologi pengolahan, memperbaiki tata kelola, dan mengukur peningkatan pendapatan anggota.
Lebih penting lagi, pemerintah perlu memastikan perempuan memperoleh akses yang setara terhadap pelatihan, pembiayaan, kepemimpinan koperasi, dan pengambilan keputusan.
Pengalaman Istiqamah memperlihatkan bahwa pembangunan pedesaan tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa. Kadang perubahan besar justru tumbuh dari organisasi petani yang bekerja tekun, belajar terus-menerus, dan memperoleh kesempatan mengembangkan diri.
Aceh mempunyai banyak perempuan dengan pengalaman serupa yang mungkin belum dikenal publik. Mereka tidak selalu tampil dalam seminar pembangunan, tetapi bekerja setiap hari menjaga kehidupan ekonomi keluarga dan masyarakatnya.
Tantangannya adalah membangun sistem yang memungkinkan lebih banyak perempuan seperti Istiqamah tumbuh, bukan sekadar menunggu sampai organisasi internasional menemukan mereka.
Pahlawan Tidak Selalu Memakai Seragam
Ada sesuatu yang patut direnungkan dari perjalanan Istiqamah.
Dalam imajinasi kita, pahlawan sering dikaitkan dengan peperangan, pengorbanan besar, atau tindakan luar biasa yang mengubah sejarah dalam sekejap. Padahal, sebagian perubahan sosial berlangsung jauh lebih sunyi.
Seorang petani belajar memperbaiki mutu kopi. Seorang perempuan mulai berani berbicara dalam rapat koperasi. Sekelompok anggota memperoleh pengetahuan tentang standar ekspor. Sebuah organisasi desa belajar menghadapi aturan perdagangan internasional.
Tidak ada dentuman meriam. Tidak ada parade kemenangan. Bahkan mungkin tidak ada pejabat yang datang memotong pita.
Tetapi kehidupan masyarakat perlahan berubah.
Di Roma, nama Istiqamah telah memperoleh pengakuan dunia. Di Gayo, pekerjaan yang membuatnya memperoleh pengakuan itu tentu belum selesai. Kopi masih harus dipetik, harga masih harus diperjuangkan, dan perempuan petani masih membutuhkan kesempatan yang lebih adil.
Dunia telah memberikan penghargaan. Kini giliran Aceh memberikan perhatian.
Sebab pahlawan pangan tidak hidup dari tepuk tangan. Mereka hidup dari tanah, kerja keras, organisasi yang kuat, dan kesempatan yang adil.
Dan barangkali pertanyaan paling penting bukan lagi mengapa kopi Gayo terkenal di dunia, melainkan kapan kesejahteraan petani Gayo akan menjadi seterkenal kopinya. []





