Pang Junthe, Dari Medan Perjuangan ke Lapak Sepatu di Pinggir Jalan

oleh

Banda Aceh-LintasGAYO.co : Dulu, Awla dikenal dengan sandi Pang Junthe, seorang mantan kombatan dari wilayah Linge. Hari ini, medan yang ia hadapi bukan lagi hutan dan konflik, melainkan deretan sepatu yang dipajang sederhana di pinggir jalan.

Sudah sekitar tiga tahun Awla menjalani profesi sebagai pedagang sepatu. Ia memilih bertahan dengan cara yang sederhana: membeli barang dengan modal terbatas, kemudian menjualnya kembali kepada orang-orang yang melintas.

Lapaknya berada di sekitar Simpang Mesra, Lingke, Banda Aceh. Tidak ada toko besar, tidak ada etalase mewah. Hanya sepatu-sepatu yang ditata semampunya, menjadi tumpuan untuk menghidupi keluarga.

“Modalnya terbatas,” begitu kira-kira persoalan yang dihadapi Awla.

Menurut Awla, hingga kini dirinya belum memperoleh bantuan sebagaimana yang diharapkan dari Pemerintah Aceh. Kondisi tersebut membuat pilihan untuk membuka usaha sendiri menjadi jalan yang harus ditempuh.

Bagi orang lain, berjualan sepatu di pinggir jalan mungkin terlihat sebagai pekerjaan biasa. Tetapi bagi Awla, setiap pasang sepatu yang terjual memiliki arti yang jauh lebih besar: ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi dan ada anak-anak yang harus tetap bersekolah.

Ia memiliki tiga orang anak. Kehidupan keluarga menjadi alasan utama mengapa ia tidak ingin terlalu lama menunggu datangnya bantuan.

Dua tahun berdagang mengajarkan satu hal: hidup setelah konflik tidak otomatis menjadi mudah setelah senjata berhenti berbicara.

Perdamaian memang telah membuka ruang bagi mantan kombatan untuk kembali ke tengah masyarakat. Namun, bagi sebagian orang seperti Awla, tantangan berikutnya justru dimulai setelah perang selesai, bagaimana membangun kehidupan ekonomi yang mandiri.

Ia tidak meminta kembali ke masa lalu. Ia hanya ingin memiliki kesempatan untuk berdiri dengan kaki sendiri.

Di pinggir jalan Simpang Mesra, sepatu-sepatu itu seolah menjadi simbol perjalanan panjang seorang Pang Junthe. Dulu ia berjuang di medan konflik. Kini ia berjuang di medan ekonomi.

Tidak ada suara tembakan. Tidak ada komando. Tidak ada barisan pasukan. Yang ada hanya suara kendaraan yang lalu-lalang, tawar-menawar pembeli, dan harapan seorang ayah agar dagangannya hari itu laku.

Bagi Awla, mungkin inilah bentuk perjuangan yang paling nyata setelah perdamaian: bukan lagi bagaimana memenangkan perang, tetapi bagaimana memenangkan kehidupan.

[FA]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.