Catatan : Mahbub Fauzie*
Kita sedang dihadapkan pada sebuah fenomena yang patut menjadi renungan bersama: krisis akhlak dan krisis keteladanan.
Hari ini kita menemukan banyak orang pintar, tetapi belum tentu menjadi orang yang benar. Banyak yang berpendidikan tinggi, tetapi pendidikan belum selalu melahirkan kesantunan.
Banyak yang mengetahui aturan, tetapi belum tentu mau menaati aturan. Banyak yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi belum tentu mampu memberikan teladan dalam kehidupan nyata.
Fenomena ini tidak mengenal batas usia, status sosial maupun jabatan. Bukan hanya persoalan rakyat, bukan hanya persoalan pejabat. Bukan hanya persoalan remaja dan anak-anak, dan bukan pula semata-mata kesalahan orang tua. Kita semua perlu bercermin.
Allah SWT mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2โ3)
Ayat ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Sebab, salah satu persoalan terbesar dalam pendidikan akhlak bukan kurangnya nasihat, melainkan kurangnya keteladanan.
๐๐๐ญ๐ข๐ค๐ ๐๐ง๐๐ค ๐๐๐ง๐ฒ๐๐ค ๐๐ข๐ง๐๐ฌ๐๐ก๐๐ญ๐ข, ๐๐๐ญ๐๐ฉ๐ข ๐๐๐๐ข๐ค๐ข๐ญ ๐๐ข๐๐๐ซ๐ข ๐๐จ๐ง๐ญ๐จ๐ก
Kita sering mendengar keluhan tentang kenakalan remaja, perundungan atau bullying, kekerasan, tawuran, penyalahgunaan narkoba, perilaku tidak sopan kepada orang tua dan guru, hingga lunturnya etika, adat dan adab dalam pergaulan.
Tentu tidak adil jika seluruh generasi muda kemudian dicap buruk.
Masih banyak anak-anak kita yang baik. Masih banyak remaja yang santun, berprestasi, rajin beribadah, peduli kepada sesama dan membanggakan orang tua.
Namun, berbagai fenomena negatif yang terjadi tidak boleh kita abaikan.
Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab?
Apakah hanya anak-anak? Tidak.
Apakah hanya sekolah dan guru? Tidak.
Apakah hanya orang tua? Juga tidak.
Pembentukan karakter seorang anak merupakan tanggung jawab bersama. Ada keluarga, sekolah dan masyarakat yang secara bersama-sama membentuk lingkungan kehidupan seorang anak.
๐๐๐ฅ๐ฎ๐๐ซ๐ ๐: ๐๐๐๐ซ๐๐ฌ๐๐ก ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ฆ๐
Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Bahkan sebelum mengenal guru dan ruang kelas, anak terlebih dahulu belajar dari orang tuanya.
Anak belajar berbicara dari rumah. Belajar menghormati dari rumah. Belajar kejujuran dari rumah. Belajar disiplin dari rumah. Belajar shalat dari rumah. Bahkan cara memperlakukan orang lain pun banyak dipelajari dari lingkungan keluarga.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya memberikan nasihat. Anak membutuhkan contoh.
Jangan hanya menyuruh anak shalat sementara orang tua meninggalkan shalat. Jangan hanya meminta anak berkata sopan sementara di rumah ia mendengar kata-kata kasar.
Jangan hanya melarang anak menggunakan gawai secara berlebihan sementara orang tua sendiri tidak pernah melepaskan telepon genggam.
Anak-anak sering kali lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Jika kita ingin anak jujur, tunjukkan kejujuran. Jika ingin anak disiplin, tunjukkan kedisiplinan. Jika ingin anak menghormati orang lain, berikan contoh bagaimana menghormati sesama.
๐๐๐ค๐จ๐ฅ๐๐ก: ๐๐ฎ๐ค๐๐ง ๐๐๐ค๐๐๐๐ซ ๐๐๐ง๐๐๐ซ๐๐๐ฌ๐ค๐๐ง
Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar. Pendidikan tidak boleh hanya dimaknai sebagai proses mengejar nilai akademik, ijazah, ranking atau prestasi.
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses membentuk manusia.
Anak harus cerdas, tetapi juga berakhlak. Harus berprestasi, tetapi memiliki empati. Harus menguasai teknologi, tetapi tidak kehilangan etika. Harus berani menyampaikan pendapat, tetapi tetap memahami adab dan sopan santun.
Guru bukan sekadar pengajar. Guru adalah figur yang dilihat, didengar dan ditiru oleh peserta didik.
Guru mengajarkan disiplin dengan kedisiplinannya. Mengajarkan kejujuran dengan kejujurannya. Mengajarkan kesantunan dengan kesantunannya. Mengajarkan tanggung jawab dengan tanggung jawabnya.
Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh hanya menjadi materi di atas kertas atau slogan dalam berbagai kegiatan sekolah. Ia harus menjadi budaya yang hidup dalam keseharian.
๐๐๐ฌ๐ฒ๐๐ซ๐๐ค๐๐ญ ๐๐ฎ๐ ๐ ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐ ๐๐๐ฐ๐๐
Anak-anak kita tidak hidup hanya di rumah dan sekolah. Mereka hidup di tengah masyarakat.
Mereka melihat bagaimana orang dewasa berbicara. Mereka melihat bagaimana tetangga memperlakukan sesama. Mereka melihat bagaimana tokoh masyarakat bersikap. Mereka melihat bagaimana pemimpin menjalankan amanah.
Masyarakat dengan segala unsur di dalamnya sesungguhnya merupakan ruang pendidikan yang sangat besar.
Karena itu, para tokoh masyarakat, tokoh agama, pemimpin dan pejabat juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan keteladanan.
Jangan meminta masyarakat disiplin jika kita sendiri tidak disiplin. Jangan meminta masyarakat jujur jika kita justru mempertontonkan ketidakjujuran. Jangan berbicara tentang akhlak jika perilaku kita justru memberikan contoh buruk kepada generasi muda.
Keteladanan pemimpin memiliki pengaruh yang besar. Apa yang dilakukan oleh orang yang dituakan sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada apa yang sekadar diucapkan.
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ง๐ฒ๐ ๐๐๐ง๐ ๐ก๐ฎ๐ค๐ฎ๐ฆ, ๐๐๐ญ๐๐ฉ๐ข ๐๐๐ฆ๐๐ข๐ง๐
Dalam menghadapi kenakalan remaja dan berbagai persoalan moral, kita juga perlu mengubah cara pandang.
Tidak semua persoalan harus berakhir dengan menyalahkan dan menghukum.
Anak yang melakukan kesalahan memang harus diberi pemahaman dan, jika diperlukan, konsekuensi yang mendidik. Tetapi mereka juga membutuhkan perhatian, pendampingan dan kasih sayang.
Perundungan, misalnya, tidak cukup hanya dikecam setelah terjadi. Pencegahannya harus dimulai jauh sebelumnya melalui pendidikan karakter, empati, penghormatan terhadap perbedaan dan pembiasaan adab dalam pergaulan.
Begitu pula penyalahgunaan narkoba dan berbagai bentuk kenakalan remaja. Pencegahannya membutuhkan keluarga yang peduli, sekolah yang responsif dan masyarakat yang tidak membiarkan anak-anak tumbuh tanpa pendampingan.
๐๐ ๐๐ฆ๐ ๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ก๐๐ง๐ญ๐ข ๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐ซ๐๐ฆ๐จ๐ง๐ข
Kita juga perlu mengevaluasi kegiatan keagamaan kita. Jangan sampai pengajian semakin banyak, tetapi perilaku tidak semakin baik. Jangan sampai ceramah agama semakin sering, tetapi kejujuran, amanah dan kepedulian justru semakin berkurang.
Jangan sampai kegiatan keagamaan hanya menjadi seremoni. Nilai agama harus diterjemahkan menjadi perilaku.
Shalat harus melahirkan kedisiplinan. Puasa harus melahirkan pengendalian diri. Zakat dan sedekah harus melahirkan kepedulian. Membaca Al-Qur’an harus mendorong kita untuk mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan.
Masjid juga harus menjadi pusat pembinaan umat, bukan hanya tempat pelaksanaan ibadah ritual. Pengajian remaja perlu dihidupkan. Ruang dialog dan pendampingan bagi generasi muda perlu diperbanyak. Anak-anak perlu dirangkul, bukan hanya ditegur.
๐๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐ข ๐ค๐๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐ญ๐๐ฅ๐๐๐๐ง๐๐ง ๐๐๐ฌ๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฅ๐ฅ๐๐ก ๐๐๐
Allah SWT telah memberikan teladan terbaik melalui Rasulullah SAW:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi menghidupkan ajaran itu dalam perilakunya.
Karena itu, persoalan akhlak pada akhirnya kembali kepada keteladanan.
Kita tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang bersedia menjadi contoh dalam kebaikan.
Orang tua menjadi teladan. Guru menjadi teladan. Tokoh agama menjadi teladan. Tokoh masyarakat menjadi teladan. Pemimpin menjadi teladan. Dan kita semua menjadi teladan.
๐๐ฎ๐ฅ๐๐ข ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ข๐ซ๐ข ๐๐๐ง๐๐ข๐ซ๐ข
Krisis akhlak tidak akan selesai hanya dengan aturan. Ia membutuhkan keteladanan.
Krisis moral tidak cukup diatasi dengan ceramah. Ia membutuhkan pendidikan yang terus-menerus.
Kenakalan remaja tidak cukup diselesaikan dengan hukuman. Ia membutuhkan perhatian, pendampingan dan kasih sayang.
Perundungan tidak cukup dikecam setelah terjadi. Ia harus dicegah sejak dini melalui pendidikan karakter, empati dan adab.
Karena itu, jangan selalu bertanya, “Siapa yang salah?”
Mari mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Jangan menunggu anak berubah. Jangan menunggu siswa berubah. Jangan menunggu masyarakat berubah.
Mulailah dari diri sendiri. Dari rumah kita. Dari keluarga kita. Dari sekolah kita. Dari lingkungan kita. Dari tempat kita bekerja dan mengabdi.
Sebab perubahan besar sering kali bermula dari keteladanan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kita tentu berharap lahir generasi yang bukan hanya cerdas ilmunya, tetapi kuat imannya, mulia akhlaknya, santun adabnya, menghormati orang tua dan guru, mencintai sesama, mampu menggunakan teknologi secara bijak, serta bertanggung jawab terhadap agama, masyarakat dan bangsa.
Pertanyaan “Krisis akhlak dan keteladanan: siapa yang bertanggung jawab?” sesungguhnya memiliki jawaban yang sederhana: Kita semua bertanggung jawab. Dan perubahan itu tidak harus dimulai dari orang lain. Mulailah dari diri kita sendiri.[]
Atu Lintang, 28 Agustus 2026





