Mendidik Anak Bukan Sekadar Membuatnya Pintar, tetapi Menjaganya dari Kekerasan

oleh

Oleh: Ahmad Dardiri*

Miris dan mengundang keprihatinan ketika kita menyaksikan perilaku kekerasan di kalangan anak usia sekolah menengah atas. Peristiwa dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar di Kabupaten Bener Meriah yang terjadi pada Sabtu, 22 Agustus 2026, bahkan berujung pada korban yang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Polisi masih mendalami perkara tersebut dan telah memeriksa pelajar yang diduga terlibat.

Peristiwa seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan siapa yang salah dan siapa yang dihukum. Lebih jauh, kita perlu bertanya: mengapa anak-anak seusia SMA bisa sampai melakukan kekerasan yang begitu jauh dari akal sehat, kasih sayang, dan nurani?

Pertanyaan ini penting bagi orang tua, guru, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat.
Anak tidak lahir dengan kecenderungan menyakiti orang lain. Pada dasarnya anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, penerimaan, dan teladan.

Ketika seorang anak mampu melakukan kekerasan terhadap teman sebaya, kita perlu melihat banyak faktor yang mungkin berkelindan: cara pengasuhan di rumah, lingkungan pergaulan, budaya kekerasan, kemampuan mengendalikan emosi, tekanan kelompok sebaya, penggunaan media sosial, lemahnya pengawasan, hingga kurangnya keteladanan orang dewasa.

UNICEF Indonesia sendiri menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak dapat terjadi di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Perundungan dan tindakan mempermalukan juga masih menjadi persoalan di lingkungan sekolah.

Karena itu, jangan terburu-buru mengatakan, “Anak sekarang memang rusak.” Bisa jadi yang perlu kita evaluasi bukan hanya anak, tetapi juga ekosistem pendidikan yang membentuk anak tersebut.

Ketika pendidikan hanya mengejar kecerdasan

Kita sering bangga ketika anak mendapatkan nilai tinggi, masuk sekolah unggulan, memenangkan perlombaan atau diterima di perguruan tinggi. Semua itu baik.

Tetapi pendidikan akan kehilangan ruhnya apabila anak pintar tetapi tidak mampu mengendalikan amarah; berprestasi tetapi merendahkan orang lain; berani tetapi tidak mengenal batas; dan memiliki ilmu tetapi kehilangan adab.

Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan anak yang mampu menjawab soal ujian. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang ketika marah mampu menahan diri.

Ketika dihina mampu bersabar.
Ketika berbeda pendapat mampu berdialog.
Ketika memiliki kekuatan mampu melindungi, bukan menyakiti. Dan ketika memiliki kesempatan membalas, ia memilih memaafkan karena takut kepada Allah.
Inilah hakikat pendidikan karakter.

Orang tua adalah sekolah pertama
Kita tidak bisa menyerahkan seluruh pendidikan anak kepada guru.
Anak berada di sekolah mungkin hanya beberapa jam. Selebihnya ia tumbuh dalam keluarga dan lingkungan.

Kementerian Agama juga menyoroti pentingnya pendidikan keluarga dalam menghadapi berbagai persoalan seperti perundungan, kekerasan fisik dan verbal, tawuran, pergaulan bebas, serta perilaku tidak menghormati guru.

Maka orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah di rumah anak mendapatkan teladan yang baik?
Apakah anak terbiasa melihat ayah dan ibunya menyelesaikan masalah dengan dialog?

Apakah anak diajarkan meminta maaf?
Apakah anak dibiasakan menghormati orang lain?

Apakah anak memiliki waktu untuk berbicara dengan orang tua tentang persoalan yang dihadapinya?

Jangan sampai kita menuntut anak tidak melakukan kekerasan, sementara di rumah ia terbiasa melihat kemarahan, bentakan, penghinaan, atau kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah. Anak lebih banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar.

Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembentuk karakter

Sekolah juga harus menjadi tempat yang aman bagi anak. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru perlu mengenali perubahan perilaku siswa: anak yang tiba-tiba menjadi pemarah, menarik diri, sering terlibat konflik, menjadi korban ejekan, atau mulai menunjukkan perilaku agresif.

Konflik kecil jangan selalu dianggap sebagai persoalan sepele.

Sebab konflik yang tidak diselesaikan dapat berkembang menjadi dendam, pengeroyokan, bahkan kekerasan yang lebih serius.

Data KPAI yang dikutip dalam pemberitaan Polri menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat ratusan pengaduan terkait kekerasan di lingkungan satuan pendidikan; perundungan serta kekerasan fisik dan psikis termasuk persoalan yang menonjol.

Karena itu, sekolah perlu membangun budaya:
“Masalah diselesaikan dengan dialog, bukan dengan tangan.”

Pendidikan Agama Harus Menjadi Benteng

Di sinilah pendidikan agama memiliki posisi yang sangat penting.
Namun pendidikan agama jangan berhenti pada hafalan ayat, hadis, tata cara ibadah, atau nilai ujian.

Agama harus masuk ke dalam perilaku.
Anak yang belajar tentang Allah harus memahami bahwa Allah melihat perbuatannya.

Anak yang belajar shalat harus belajar bahwa shalat membentuk dirinya agar menjauhi perbuatan keji dan mungkar.

Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Maka ketika anak rajin shalat tetapi masih mudah menghina, menyakiti, memukul, atau merendahkan orang lain, kita perlu bertanya: apakah nilai shalat itu sudah benar-benar masuk ke dalam akhlaknya?

Tauhid harus ditanamkan bukan sekadar sebagai pengetahuan, tetapi sebagai kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita.
Ketika tidak ada guru.
Ketika tidak ada orang tua.
Ketika tidak ada kamera.
Ketika teman-temannya mengajak melakukan kekerasan.
Di situlah iman diuji.
Jangan hanya takut kepada hukuman manusia

Pendidikan karakter yang kokoh membangun dua kesadaran sekaligus.
Pertama, anak memahami konsekuensi sosial dan hukum dari perbuatannya.
Kedua, yang lebih dalam, anak memiliki rasa takut kepada Allah dan kesadaran bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan.
Allah berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Inilah pendidikan yang membangun pengawasan dari dalam diri.
Sebab kamera bisa mati.
Guru tidak selalu berada di samping siswa.
Orang tua tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam. Tetapi seorang anak yang memiliki iman akan membawa kesadaran kepada Allah ke mana pun ia pergi.

Yang Harus Kita Benahi
Peristiwa kekerasan di kalangan pelajar semestinya menjadi momentum evaluasi bersama.
1. Orang tua
Lebih banyak berdialog dengan anak, bukan hanya memerintah.
2. Guru
Lebih peka terhadap perubahan perilaku dan konflik antarsiswa.
3. Sekolah
Membangun sistem pencegahan perundungan dan kekerasan yang nyata, bukan hanya tertulis dalam dokumen.
4. Pendidikan agama
Menghubungkan ilmu agama dengan perilaku sehari-hari.
5. Lingkungan pergaulan
Mengajarkan bahwa keberanian bukan berarti berani memukul, tetapi berani menahan diri.
6. Media sosial
Anak perlu dididik agar tidak menjadikan kekerasan sebagai tontonan, bahan lelucon, atau konten untuk mendapatkan perhatian.
7. Masyarakat
Jangan menjadikan perkelahian anak sebagai tontonan. Jangan pula menyebarluaskan video kekerasan yang dapat mempermalukan dan semakin melukai korban.
Kita ingin anak yang kuat, tetapi bukan anak yang kasar.

Anak laki-laki tidak harus dididik menjadi keras agar disebut kuat.
Anak yang kuat adalah anak yang mampu mengendalikan dirinya.
Marah tetapi mampu menahan tangan.
Tersinggung tetapi mampu menjaga lisan.
Disakiti tetapi mampu mencari jalan penyelesaian.

Memiliki kekuatan tetapi menggunakannya untuk melindungi yang lemah.
Itulah keberanian yang sesungguhnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat relevan untuk pendidikan anak-anak kita hari ini.

Penutup

Peristiwa yang terjadi di Bener Meriah hendaknya menjadi cermin bagi kita semua, bukan sekadar bahan perbincangan.
Jangan menunggu anak menjadi korban atau pelaku baru kita berbicara tentang pendidikan karakter. Pendidikan harus dimulai sebelum konflik terjadi.

Dari rumah dengan keteladanan. Dari sekolah dengan pembinaan. Dari guru dengan kasih sayang dan ketegasan. Dari masyarakat dengan kepedulian. Dan dari agama dengan tauhid, ibadah dan akhlak.

Sebab tujuan akhir pendidikan bukan hanya membuat anak cerdas menghadapi dunia, tetapi juga membuatnya mampu mengendalikan diri, menghormati manusia, takut kepada Allah, dan mempertanggungjawabkan kehidupannya di akhirat.

Mari kita mendidik anak-anak kita bukan sekadar agar menjadi orang pintar, tetapi menjadi manusia yang beriman, beradab dan berakhlak.

Karena ilmu tanpa adab dapat menjadi kekuatan yang salah arah, sedangkan ilmu yang dibimbing iman akan menjadi cahaya bagi kehidupan. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.