Oleh: Ahmad Dardiri (Kepala MAS Al-Huda Jagong)
Hampir setengah tahun berlalu sejak bencana hidrometeorologi melanda sebagian wilayah Sumatera dan Aceh. Namun hingga hari ini, luka itu belum sepenuhnya hilang.
Di beberapa tempat, sarana transportasi masih belum sempurna diperbaiki. Ada warga yang masih menunggu kepastian hunian sementara. Ada pula luka-luka batin yang belum sepenuhnya pulih dari ingatan dan perasaan masyarakat terdampak.
Bencana telah mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia begitu rapuh. Dalam hitungan jam, banjir dan longsor mampu mengubah kenyamanan menjadi kesedihan, kemapanan menjadi kehilangan, dan rasa aman menjadi kecemasan. Manusia kembali diingatkan bahwa sehebat apa pun perencanaan hidup, semuanya tetap berada dalam kuasa Allah.
Namun di sisi lain, masyarakat Gayo yang dikenal dengan hasil kopinya sedang merasakan nikmat Allah yang besar. Kopi Gayo sebagai komoditas unggulan masyarakat menunjukkan hasil panen yang melimpah dengan harga yang cukup menggembirakan.
Para petani tersenyum bahagia melihat hasil kebun mereka. Para pedagang ikut merasakan dampak perputaran ekonomi yang semakin baik. Warung-warung ramai, transaksi meningkat, dan denyut ekonomi masyarakat kembali hidup.
Semua ini tentu merupakan rezeki dari Allah yang patut disyukuri jika kita benar-benar mengaku beriman kepada-Nya.
Akan tetapi, di sinilah letak ujian yang sesungguhnya. Tidak semua ujian datang dalam bentuk kesusahan dan bencana. Terkadang manusia lebih mudah bersabar dalam musibah daripada bersyukur dalam kelapangan. Banyak orang begitu dekat kepada Allah ketika hidup terasa sulit, tetapi perlahan lalai saat nikmat dunia mulai melimpah.
Panen yang banyak jangan sampai melalaikan kita dari akhirat. Jangan sampai kesibukan mengumpulkan hasil kebun membuat manusia lupa akan tujuan hidupnya. Jangan sampai memanen kopi membuat shalat ditinggalkan, jamaah di masjid dilalaikan, sedekah dilupakan, dan hati semakin jauh dari Allah.
Padahal Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa tugas utama manusia bukan sekadar mencari penghasilan, memperluas kebun, atau mengejar keuntungan dunia. Semua itu hanyalah sarana kehidupan, bukan tujuan akhir kehidupan.
Dunia pada hakikatnya fana dan tidak kekal. Harta yang hari ini dibanggakan suatu saat akan ditinggalkan. Kebun yang luas tidak akan ikut masuk ke alam kubur. Jabatan dan kemapanan dunia tidak akan mampu menolong manusia ketika berhadapan dengan hisab Allah.
Karena itu, bencana hidrometeorologi yang kita alami sebenarnya belum seberapa dibandingkan dengan bencana yang lebih besar, yaitu ketika manusia lalai kepada Allah saat sedang diberi nikmat dunia yang melimpah.
Inilah yang dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah istidraj: ketika Allah tetap memberikan kenikmatan dunia kepada seseorang, sementara ia terus lalai, bermaksiat, dan semakin jauh dari jalan Allah.
Rasulullah Muhammad bersabda:
“Apabila engkau melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba atas kemaksiatan yang ia lakukan, maka itu adalah istidraj.”
(HR. Musnad Ahmad)
Istidraj sangat berbahaya karena membuat manusia merasa aman, padahal ia sedang perlahan dijauhkan dari rahmat Allah. Nikmat dunia membuat hati menjadi keras, ibadah terasa berat, dan akhirat semakin terlupakan.
Karena itu, melimpahnya rezeki hari ini seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah: semakin rajin shalat berjamaah, semakin gemar bersedekah, semakin peduli kepada korban bencana, dan semakin sadar bahwa semua nikmat hanyalah titipan sementara.
Kita harus belajar dari bencana yang telah terjadi. Jangan sampai musibah hanya menjadi cerita yang perlahan dilupakan tanpa melahirkan perubahan dalam diri.
Sebab sesungguhnya, manusia yang cerdas bukan hanya yang pandai mencari dunia, tetapi yang mampu menjadikan dunia sebagai jalan menuju keselamatan akhirat.
Pada akhirnya, semua yang kita miliki akan kembali kepada Allah. Yang tersisa bukan banyaknya hasil panen, tetapi amal saleh yang pernah kita kerjakan. []





