Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 13: Matinya Aktivis Anti Tambang

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di negeri yang dinginnya bisa membuat kopi lupa mendidih, ada satu fenomena baru yang lebih menarik dari kabut pagi di Tanoh Gayo: hilangnya suara aktivis anti tambang.

Bukan hilang karena diculik. Bukan juga karena masuk hutan lalu tersesat di jalur pembukaan lahan. Mereka masih ada. Masih hidup. Masih minum kopi di warung yang sama. Masih aktif mengunggah foto senja dengan caption “selamatkan bumi”.

Tapi entah kenapa, ketika investor tambang datang dan bupati menggelar audiensi, suara mereka mendadak seperti sinyal Telkomsel di pedalaman Linge: muncul sebentar lalu hilang.

Kawan wartawan pun kebingungan.

Ia datang bukan untuk mencari keributan. Wartawan hanya ingin menunaikan tugas suci demokrasi: mencari komentar penyeimbang. Sebab berita tanpa kritik ibarat mie Aceh tanpa bumbu; panas, tapi hambar.

Masalahnya, semua orang di ruangan tampak sudah sepakat sejak sebelum rapat dimulai.

Investor bicara “lapangan kerja.”

Pejabat bicara “pertumbuhan ekonomi.”

Tokoh tertentu bicara “peluang besar daerah.”

Dan semua kepala mengangguk dengan kompak, seperti jamaah tarian saman yang sudah latihan seminggu penuh.

Wartawan mulai gelisah.

Karena ia tahu, di luar sana masih ada masyarakat yang bertanya:
“Kalau gunung dibongkar, air kami nanti bagaimana?”
“Kalau hutan habis, kebun kopi mau hidup dari mana?”
“Kalau tambang selesai, siapa yang membersihkan luka tanah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mati. Yang mati hanya orang-orang yang dulu berani mengucapkannya keras-keras.

Kini banyak aktivis anti tambang memasuki fase baru kehidupan: menjadi penonton profesional.

Mereka hadir dalam diskusi, tapi hanya mengangguk pelan.

Mereka menulis status samar:
“Kadang yang berisik bukan yang paling peduli.”

Lalu hilang lagi.

Ada juga yang berubah profesi menjadi “aktivis konsultatif”. Tidak lagi menolak tambang, hanya “mendorong kajian mendalam”. Bahasa ini sangat elegan. Sangat aman. Sangat cocok dipakai agar tetap terlihat kritis sambil tidak terlalu mengganggu investor.

Padahal dulu mereka paling depan.

Dulu, baru dengar kata eksplorasi saja mereka sudah membuat spanduk.

Sekarang, mendengar kata investasi malah bertanya:
“Coffee break-nya jam berapa?”

Inilah evolusi paling modern dalam dunia pergerakan: dari aktivis jalanan menjadi aktivis pendingin ruangan.

Tentu kita tidak boleh naif. Tambang memang menjanjikan uang besar. Bahkan terlalu besar untuk sekadar ditolak dengan idealisme dan dua gelas kopi sanger.

Daerah miskin mudah tergoda.

Pejabat mudah tergoda.

Elite mudah tergoda.

Kadang yang paling sulit bertahan justru suara hati.

Karena itu wartawan tadi terus mencari. Ia berharap masih ada satu orang saja yang berani bicara jujur. Bukan untuk menghambat pembangunan, tapi untuk memastikan pembangunan tidak berubah menjadi pesta kecil elite dan musibah panjang rakyat.

Sebab pembangunan tanpa kritik biasanya hanya melahirkan dua hal:
gunung yang hilang dan pidato yang semakin panjang.

Dan di Tanoh Gayo, kita mulai melihat gejala aneh itu.

Semua orang bicara investasi.

Tapi semakin sedikit yang bicara keselamatan lingkungan.

Semua bicara masa depan ekonomi.

Tapi lupa bahwa kopi Gayo tumbuh bukan di atas beton, melainkan di tanah yang dijaga hutan.

Lucunya lagi, di negeri ini orang yang mempertanyakan tambang sering dianggap anti kemajuan. Padahal belum tentu.

Kadang mereka cuma takut cucunya nanti mandi di air keruh.

Kadang mereka cuma takut longsor datang lebih cepat dari bantuan pemerintah.

Kadang mereka cuma tidak ingin kampungnya berubah jadi cerita penyesalan.

Namun begitulah nasib aktivis anti tambang hari ini.

Mereka tidak benar-benar mati.

Mereka hanya pelan-pelan dikuburkan oleh tepuk tangan forum, proposal investasi, dan kalimat sakti:
“Ini demi kemajuan daerah.”

Sementara wartawan tadi akhirnya menutup bukunya pelan.

Ia gagal menemukan suara penyeimbang.

Yang tersisa hanya gema pendingin ruangan dan bunyi sendok kopi yang beradu dengan gelas.

Bersambung ke bagian 14…

(Mendale, Mei 8, 2026)

Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 12: Nama Itu Doa, Tapi Belum Tentu Terkabul

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.