Ketika Sang Juara Turun dari Panggung

oleh

Dari riuh warung kopi di Takengon hingga bergantinya amanah kepala sekolah, Piala Dunia mengingatkan kita bahwa setiap panggung memiliki batas. Yang tinggal adalah kebaikan yang sempat kita kerjakan.

Oleh: Khairul Huda Jaya*

Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 1–0 melalui perpanjangan waktu. Para pemain berpelukan, bendera dikibarkan, dan piala diangkat tinggi-tinggi. Di layar televisi, wajah bahagia para juara berpadu dengan air mata mereka yang kalah. Rodri pun dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen.

Gema pertandingan itu juga terasa sampai ke negeri di atas awan, yaitu Kota Takengon. Selama Piala Dunia berlangsung, obrolan tentang sepak bola mudah dijumpai di warung kopi, tempat kerja, dan grup percakapan keluarga.

Ada yang datang dengan kaus tim kesayangannya. Ada pula yang sekadar ikut duduk, menyeruput kopi, lalu mendadak menjadi komentator ketika pemain gagal memasukkan bola.

Pada malam pertandingan besar, layar di sejumlah tempat menjadi pusat perhatian. Udara dingin di dataran yang berketinggian di atas 1200 MDPL tersebut terasa berbeda saat sorak penonton pecah karena sebuah gol.

Orang-orang yang mungkin berbeda pekerjaan, usia, dan pilihan tim duduk berdekatan. Mereka menahan napas bersama, bersorak bersama, lalu saling menggoda ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.

Saya sendiri tidak menonton semua pertandingan secara keseluruhan. Banyak laga tayang sekitar pukul dua dini hari. Keinginan untuk menonton tentu ada, tetapi saya juga khawatir pekerjaan keesokan harinya terganggu jika kurang tidur. Karena itu, beberapa pertandingan cukup saya ikuti melalui kabar dan cuplikan.

Namun, saya tetap ikut merasakan euforianya. Pada beberapa laga, terutama pertandingan final, rasa tegang itu datang juga. Jantung seperti ikut berlari bersama para pemain. Setiap serangan membuat deg-degan; setiap peluang yang gagal membuat kita spontan menghela napas.

Barangkali di situlah daya tarik sepak bola: selama sembilan puluh menit, bahkan orang yang berjauhan dapat merasakan kegembiraan dan kecemasan yang sama.

Setelah final selesai, Takengon perlahan kembali ke irama biasanya. Layar yang sebelumnya menampilkan pertandingan kembali diisi acara sehari-hari. Pembicaraan di warung kopi bergeser kepada pekerjaan, harga kebutuhan, harga pupuk dan kopi, pendidikan anak, dan antrian BBM. Kaus tim mungkin masih dipakai, cuplikan gol masih beredar, tetapi sorak yang riuh itu mulai mereda.

Lantas, Ketika sorak-sorai berhenti, apa yang masih tinggal dari sebuah kemenangan?

Pertanyaan itu tidak hanya untuk para pemain di lapangan. Ia juga patut kita tujukan kepada diri sendiri.

Panggung yang Selalu Berganti

Sepak bola menunjukkan dengan jelas bahwa panggung selalu berganti. Pemain yang hari ini berada di puncak suatu saat akan melambat, mengalami cedera, menua, lalu memberi tempat kepada generasi baru. Rekor yang dianggap hebat akhirnya dapat dipecahkan. Nama yang setiap hari disebut-sebut perlahan menjadi kenangan.

Tentu saja, ini bukan berarti prestasi mereka tidak penting. Untuk sampai ke tingkat tertinggi, para atlet berlatih bertahun-tahun, menjaga disiplin, menerima kegagalan, dan terus memperbaiki diri.

Kerja keras semacam itu layak dihargai. Hanya saja, prestasi tidak dapat menghentikan waktu. Piala dapat disimpan dan rekaman pertandingan bisa diputar kembali, tetapi masa kejayaan tidak dapat dibekukan.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pejabat akan sampai pada akhir masa jabatannya. Seorang guru kelak memasuki masa pensiun. Pedagang mengalami pasang surut. Orang yang hari ini sehat dan kuat mungkin suatu saat membutuhkan bantuan. Kepandaian, kekayaan, jabatan, kecantikan, dan kekuatan fisik semuanya memiliki batas.

Kita baru saja melihat contoh yang dekat. Pada 23 Juli 2026 yang lalu, sebanyak 248 kepala SMA, SMK, dan SLB dari berbagai kabupaten dan kota dilantik oleh Gubernur Aceh. Dua belas di antaranya berasal dari Aceh Tengah.

Ada yang menerima tugas baru dan ada yang melanjutkan amanah di tempat berbeda. Pergantian seperti ini tentu membawa harapan, sekaligus perasaan yang bermacam-macam bagi orang yang mengalaminya.

Mutasi kepala sekolah tidak tepat dilihat hanya sebagai siapa yang naik dan siapa yang turun. Di balik sebuah jabatan ada tanggung jawab terhadap guru, murid, orang tua, dan masa depan pendidikan. Kursi kepala sekolah bukan milik pribadi. Ia adalah amanah yang suatu hari akan diserahkan kepada orang lain—seperti ban kapten yang berpindah lengan ketika waktunya tiba.

Manusia dalam Bentuk Terbaik

Al-Qur’an telah mengingatkan perjalanan manusia tersebut melalui Surah At-Tin ayat 4–6. Allah Swt. berfirman:

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin: 4)

“Kemudian, Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (QS At-Tin: 5)

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS At-Tin: 6)

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang sangat baik. Kita diberi tubuh, akal untuk berpikir, hati untuk merasakan, serta kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk. Semua itu adalah karunia. Namun, karunia juga berarti tanggung jawab.

Tentang ayat kelima, para ahli tafsir memberikan beberapa penjelasan. Ada yang memahaminya sebagai keadaan ketika manusia kembali lemah setelah sebelumnya kuat. Ada pula yang mengartikannya sebagai tempat yang paling rendah bagi orang yang menyia-nyiakan karunia Allah dan menjauh dari iman serta amal baik. Pesannya mudah dipahami: kelebihan yang kita miliki tidak boleh membuat kita lupa diri.

Namun, melemahnya tubuh tidak berarti hilangnya martabat seseorang. Orang yang telah lanjut usia, sakit, atau tidak lagi produktif tetap memiliki kehormatan sebagai manusia. Nilai manusia tidak ditentukan oleh kecepatan berlari, banyaknya harta, tingginya jabatan, atau ramainya pujian. Justru ketika kekuatan berkurang, kasih sayang, penghormatan, dan kepedulian dari orang-orang di sekitarnya semakin dibutuhkan.

Gunakan Nikmat Sebelum Berkurang

Ayat keenam membawa harapan. Iman dan amal baik membuat hidup tidak berakhir sebagai cerita tentang kekuatan yang hilang. Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat melampaui usia, jabatan, dan popularitas. Jadi, yang paling penting bukan berapa lama kita berada di atas panggung, melainkan apa yang kita kerjakan selama kesempatan masih ada.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering membuat manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR Bukhari). Ketika sehat, kita merasa tenaga akan selalu tersedia.

Ketika memiliki waktu, kita mengira kesempatan akan terus datang. Akibatnya, kebaikan sering ditunda: beribadah menunggu tua, meminta maaf menunggu suasana tepat, membantu orang lain menunggu kaya, dan berbagi ilmu menunggu benar-benar sempurna.

Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan “peluit panjang” kehidupannya akan dibunyikan. Karena itu, kekuatan hendaknya digunakan untuk menolong, bukan menindas. Ilmu digunakan untuk mencerdaskan, bukan merendahkan.

Jabatan digunakan untuk melayani, bukan memperkaya diri. Harta digunakan untuk berbagi, bukan sekadar dibanggakan. Waktu digunakan untuk beribadah dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Dari Piala Dunia, kita dapat belajar tentang disiplin, kerja sama, kesabaran, dan kesiapan menerima hasil. Kita boleh mengagumi seorang bintang. Kita boleh bergembira ketika tim pilihan menang. Namun, jangan sampai ukuran keberhasilan hidup hanya kita letakkan pada ketenaran, jabatan, atau banyaknya pujian.

Yang Tinggal Setelah Sorak Mereda

Ketika seorang atlet pensiun, pertanyaan yang tersisa bukan hanya berapa banyak gol yang dicetak atau berapa piala yang dimenangkan. Orang juga akan mengenang sikapnya, keteladanannya, dan manfaat yang ia berikan.

Demikian pula dengan kita. Pada akhirnya, orang mungkin melupakan jabatan, gelar, kendaraan, atau rumah yang pernah kita miliki. Namun, kebaikan yang menyentuh kehidupan orang lain dapat terus meninggalkan jejak.

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR Muslim). Inilah warisan yang tidak bergantung pada tepuk tangan manusia. Ia mungkin tidak menghasilkan piala, tetapi mendatangkan pahala yang terus mengalir di sisi Allah.

Kini Piala Dunia telah menemukan juaranya. Empat tahun mendatang, dunia akan mencari juara baru. Nama-nama baru akan muncul, rekor baru akan tercipta, dan panggung kembali berganti pemilik. Begitulah dunia: yang hari ini berada di puncak tidak selamanya tinggal di sana.

Takengon telah kembali kepada kesibukannya. Sorak di warung kopi telah mereda. Di tempat lain, kursi jabatan pun berganti pemilik. Semua itu mengingatkan kita untuk memakai kesempatan sebaik-baiknya sebelum waktu berakhir.

Tepuk tangan akan berhenti dan piala akan berpindah tangan sebagaimana pemegang jabatan akan berganti, tetapi iman serta kebaikan yang dikerjakan dengan ikhlas tidak akan sia-sia di sisi Allah. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.