Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)
Banyak orang tua beranggapan bahwa kasih sayang diukur dari seberapa banyak keinginan anak dapat dipenuhi. Ketika anak meminta mainan, segera dibelikan. Ketika menginginkan makanan tertentu, langsung dipenuhi. Ketika teman-temannya memiliki sesuatu yang baru, orang tua merasa harus membelikannya agar anak tidak merasa kurang.
Padahal, kasih sayang yang paling berharga bukanlah memberikan semua yang diminta anak, melainkan mengajarkan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar keinginan.
Kita sedang menghadapi zaman yang menjadikan konsumsi sebagai ukuran kebahagiaan. Media sosial menampilkan gaya hidup mewah, sementara iklan terus membujuk anak-anak agar selalu ingin memiliki barang baru. Jika orang tua tidak berhati-hati, rumah akan berubah menjadi tempat lahirnya generasi yang mudah meminta, tetapi sulit bersyukur.
Kesederhanaan bukan berarti hidup miskin atau pelit. Kesederhanaan adalah kemampuan mengendalikan diri meskipun memiliki kemampuan untuk membeli lebih. Islam mengajarkan keseimbangan, tidak boros dan tidak pula kikir. Allah Swt. berfirman:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67).
Karena itu, belilah mainan untuk anak secara proporsional. Jangan sampai kamar penuh dengan mainan yang hanya dimainkan beberapa hari, lalu terlupakan. Anak justru perlu belajar merawat barang, menghargai pemberian, dan memahami bahwa setiap benda diperoleh melalui kerja keras orang tuanya.
Begitu pula dengan kebiasaan jajan. Tidak semua keinginan membeli makanan harus dipenuhi. Anak perlu dibiasakan menikmati makanan yang tersedia di rumah. Sesekali membeli jajanan tentu tidak masalah, tetapi jika menjadi kebiasaan setiap hari, anak akan tumbuh dengan pola hidup konsumtif dan sulit mengendalikan keinginan.
Yang lebih penting lagi adalah melatih kepekaan sosial. Ajak anak menyaksikan bahwa tidak semua orang hidup berkecukupan. Libatkan mereka saat mengantar bantuan kepada tetangga yang sakit, mengisi kotak infak di masjid, menyantuni anak yatim, atau berbagi makanan dengan orang yang membutuhkan. Dari pengalaman nyata itulah lahir empati, bukan sekadar dari nasihat.
Anak yang sejak kecil dibiasakan hidup sederhana biasanya memiliki daya juang yang lebih kuat. Mereka tidak mudah mengeluh ketika menghadapi keterbatasan, tidak minder karena hidup apa adanya, dan tidak mudah silau oleh kemewahan orang lain. Sebaliknya, anak yang selalu hidup dalam kemudahan berisiko kehilangan ketangguhan ketika suatu saat menghadapi kesulitan.
Rasulullah saw. mendidik para sahabat dengan kehidupan yang sederhana, tetapi melahirkan pribadi-pribadi yang luar biasa. Mereka kuat, dermawan, rendah hati, dan peduli kepada sesama. Kekuatan mereka bukan berasal dari banyaknya harta, melainkan dari kokohnya karakter.
Sesungguhnya, warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua bukanlah lemari penuh mainan atau kebiasaan hidup mewah. Warisan terbaik adalah karakter yang baik: hidup sederhana, pandai bersyukur, mampu menahan keinginan, gemar berbagi, dan peka terhadap penderitaan orang lain.
Di tengah derasnya arus materialisme, mengajarkan kesederhanaan kepada anak bukan berarti membuat mereka tertinggal. Justru itulah ikhtiar agar mereka tidak diperbudak oleh keinginan. Anak yang mampu mengendalikan diri akan lebih siap menghadapi kehidupan dibandingkan anak yang terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan mudah.
Mari mendidik anak dengan cinta yang disertai kebijaksanaan. Belikan mainan secukupnya, beri jajanan sewajarnya, biasakan hidup apa adanya, dan tanamkan kepedulian kepada sesama.
Sebab, anak-anak kita kelak tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga hati yang penuh syukur, empati yang tulus, dan akhlak yang mulia. Itulah bekal yang akan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang sukses di dunia sekaligus beruntung di akhirat.[]





