Banda Aceh–LintasGAYO.co : Seniman dan budayawan Gayo, Onot Kemara, menegaskan bahwa kesenian Didong merupakan identitas utama masyarakat Gayo yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Onot Kemara dalam diskusi memperingati Hari Didong ke-3 yang berlangsung di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Rabu malam (5/8/2026).
Dalam pemaparannya, Onot Kemara mengingatkan bahwa hilangnya Didong sama artinya dengan hilangnya jati diri masyarakat Gayo.
“Hilang Didong, hilang urang Gayo. Didong adalah identitas urang Gayo, Didong merupakan benteng terakhir urang Gayo,” tegasnya di hadapan para peserta diskusi.
Menurutnya, Didong bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan wadah yang menyimpan nilai-nilai adat, sejarah, bahasa, serta falsafah hidup masyarakat Gayo. Karena itu, pelestarian Didong harus menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, tokoh adat, seniman, maupun generasi muda.
Diskusi tersebut dihadiri sekitar 500 peserta yang berasal dari berbagai organisasi, yaitu Keluarga Negeri Antara (KNA), Ikatan Pemuda Mahasiswa Takengon (IPEMATA), dan Himpunan Pemuda Mahasiswa Bener Meriah (HPBM).
Antusiasme peserta menunjukkan masih besarnya perhatian generasi muda terhadap upaya menjaga warisan budaya Gayo. Dalam forum itu juga mengemuka berbagai gagasan agar Didong semakin dikenal melalui pendidikan, festival budaya, dokumentasi digital, hingga pembinaan kelompok-kelompok Didong di kampung-kampung.
Peringatan Hari Didong ke-3 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlangsungan seni Didong sebagai warisan budaya yang menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Gayo.
[FA]





