Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu Bagian 27: Gere Ara Loh

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di tengah masyarakat Gayo, terdapat sebuah ungkapan sederhana namun sarat makna, yaitu “Gere ara loh.” Secara harfiah berarti tidak ada pengkhianat. Kalimat ini bukan sekadar penegasan bahwa seseorang setia, melainkan sebuah pengingat bahwa pengkhianatan tidak akan tumbuh di lingkungan yang dipenuhi kejujuran, amanah, dan saling menghormati.

Sesungguhnya, tidak ada manusia yang sejak lahir memilih menjadi pengkhianat. Pengkhianatan sering kali lahir dari benih-benih kecil yang dibiarkan tumbuh: keserakahan, iri hati, ambisi yang tak terkendali, serta hilangnya rasa syukur.

Ketika sifat-sifat itu menguasai hati, persaudaraan perlahan berubah menjadi persaingan, kepercayaan berganti kecurigaan, dan kebersamaan berakhir dengan perpecahan.

Karena itu, makna “Gere ara loh” sesungguhnya tidak berhenti pada menilai orang lain. Ungkapan ini lebih tepat diarahkan kepada diri sendiri. Sudahkah kita menjaga amanah? Sudahkah kita menepati janji? Sudahkah kita berbicara dengan jujur ketika kepentingan pribadi mulai menggoda?

Dalam kehidupan bermasyarakat, kepercayaan adalah modal yang jauh lebih mahal daripada jabatan maupun harta. Sekali kepercayaan itu retak, membangunnya kembali membutuhkan waktu yang panjang. Sebaliknya, orang yang memegang teguh amanah akan selalu dikenang, meski tidak memiliki kekuasaan atau kemewahan.

Pepatah Gayo ini juga mengajarkan bahwa kesetiaan tidak cukup diucapkan melalui kata-kata. Kesetiaan dibuktikan melalui tindakan, terutama ketika keadaan sedang sulit. Mudah berdiri bersama saat keadaan menguntungkan, tetapi hanya pribadi berkarakter yang tetap menjaga komitmen ketika badai datang menerpa.

Dalam kepemimpinan, nilai “Gere ara loh” menjadi fondasi yang sangat penting. Seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara atau membangun citra. Ia harus mampu membangun kepercayaan melalui keteladanan, konsistensi, dan keberanian menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab, loyalitas sejati tidak pernah lahir dari rasa takut, melainkan dari keyakinan bahwa pemimpin dan rakyat berjalan di jalan yang sama.

Begitu pula bagi masyarakat. Kesetiaan kepada daerah tidak diwujudkan dengan saling menjatuhkan, menyebarkan fitnah, atau memelihara kebencian. Kritik tetap diperlukan dalam demokrasi, tetapi hendaknya disampaikan dengan kejujuran, etika, dan niat memperbaiki keadaan, bukan sekadar memenangkan ego.

Pada akhirnya, “Gere ara loh” bukanlah sebuah kenyataan yang hadir dengan sendirinya. Ia adalah cita-cita yang harus terus dirawat oleh setiap pribadi. Selama manusia mampu menundukkan kesombongan, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi sifat tamak, serta memelihara kejujuran dan amanah, maka pengkhianatan tidak akan menemukan ruang untuk tumbuh.

Mungkin inilah pelajaran paling berharga dari warisan kearifan Gayo. Bukan tentang mencari siapa pengkhianat, melainkan bagaimana setiap orang menjaga dirinya agar tidak pernah menjadi pengkhianat. Sebab ketika setiap hati berhasil menjaga amanahnya, maka ungkapan itu akan selalu hidup dalam kenyataan: Gere ara loh—tidak ada pengkhianat.

Bersambung ke bagian 28…

(Mendale, Juni 24, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.