Oleh Ansar Salihin*
Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh–Indonesia Tahun 2026 resmi dibuka Senin malam, 22 Juni 2026, di Istana Wali Nanggroe, Darul Imarah, Aceh Besar. Ratusan penyair dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara hadir dalam perhelatan sastra yang akan berlangsung hingga 28 Juni 2026 tersebut.
Sebagai peserta yang mengikuti langsung kegiatan ini, saya merasakan bahwa pembukaan PPN XIV bukan sekadar seremoni untuk menandai dimulainya sebuah agenda sastra. Lebih dari itu, malam pembukaan menghadirkan berbagai gagasan tentang pentingnya sastra di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin dipengaruhi teknologi dan arus informasi yang bergerak sangat cepat.
Acara dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., melalui pemukulan rapai. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun karakter, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, ketika ruang publik sering dipenuhi ujaran kebencian, informasi yang tidak terverifikasi, dan komunikasi yang kehilangan etika, sastra justru mengajarkan manusia untuk lebih bijaksana dalam memahami diri sendiri maupun orang lain.
Pandangan tersebut menarik untuk dicermati. Saat ini, kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan. Kecerdasan buatan, media sosial, dan berbagai platform digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Namun di sisi lain, perkembangan itu juga menghadirkan tantangan baru. Informasi dapat tersebar dengan sangat cepat, tetapi tidak selalu disertai dengan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Dalam kondisi seperti ini, sastra menjadi penting karena mengajarkan kepekaan, refleksi, dan kemampuan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
Apa yang disampaikan Menteri Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa sastra tidak boleh dipandang hanya sebagai aktivitas membaca puisi atau menulis karya sastra. Sastra merupakan bagian dari pendidikan karakter yang membantu manusia tetap memiliki empati di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, penyair dan sastrawan sesungguhnya memiliki peran sosial yang tidak kalah penting dibandingkan profesi lainnya, yaitu menjaga nilai-nilai kemanusiaan melalui kata-kata.
Gagasan tentang pentingnya kata-kata disampaikan oleh Ketua Kurator PPN XIV, Salman Yoga S. Dalam pidato kuratorialnya, ia mengingatkan bahwa perjalanan sejarah manusia selalu berkaitan dengan kekuatan bahasa. Menurutnya, peradaban besar lahir dari kata-kata, gagasan, dan kesepakatan yang dibangun melalui bahasa.
Pernyataan tersebut mengajak kita melihat kembali sejarah bangsa. Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan pada dasarnya adalah rangkaian kata-kata yang mampu mengubah arah perjalanan Indonesia. Kata-kata tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mampu membangun kesadaran bersama, menyatukan perbedaan, dan menggerakkan perubahan.
Dalam konteks itulah penyair memiliki posisi yang penting. Penyair bukan sekadar pencipta keindahan bahasa, tetapi juga penjaga ingatan kolektif masyarakat. Melalui karya-karyanya, penyair merekam berbagai peristiwa, kegelisahan, harapan, dan pengalaman manusia agar tidak hilang ditelan zaman. Di tengah dunia yang sering lebih menghargai angka dan keuntungan ekonomi, sastra mengingatkan bahwa kehidupan manusia juga dibangun oleh nilai, perasaan, dan makna.
Salman Yoga juga menyebutkan, ia bersama sembilan kurator lainnya yang berasal dari berbagai daerah Indonesia dan luar negeri telah mengkreasi 1018 judul puisi dari 552 penyair dengan latar belakang yang berbeda mulai dari pejabat, anggota parlemen, profesor, doktor, guru, mahasiswa hingga siswa SD. Dan hasil kurasi berdasarkan kata-kata, bukan jabatan dan gelarnya. Hingga mengkurasi 300 karya dari 300 penyair. Buku Antologi Puisi tersebut berdasarkan hasil diskusi kurator diberi judul Nurasi Kemanusiaan.
Sementara itu, Direktur Pelaksana PPN XIV, Noviati MR, menyampaikan besarnya antusiasme penyair terhadap kegiatan ini. Ratusan penyair dari berbagai daerah dan sejumlah negara turut berpartisipasi dalam PPN XIV. Awalnya panitia sempat pesimis karena Aceh baru saja menimpa musibah, tiket pesawat naik. Namun, jumlah peserta yang hadir melebihi kuota yang telah ditetapkan panitia.
Tingginya minat peserta menunjukkan bahwa sastra masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Anggapan bahwa puisi dan sastra semakin ditinggalkan ternyata tidak sepenuhnya benar. Kehadiran ratusan peserta dari berbagai latar belakang membuktikan bahwa masih banyak orang yang percaya pada kekuatan kata-kata sebagai media ekspresi, dialog, dan pemersatu.
Selain itu, PPN XIV juga memperlihatkan perkembangan yang menarik melalui kolaborasinya dengan berbagai cabang seni lain seperti seni rupa, musik, tari, dan film. Langkah ini menunjukkan bahwa sastra tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang saling mendukung dan memperkaya.
Dalam acara pembukaan tersebut diawali penampilan Parade Puisi untuk Kemanusiaan. Inilah bagian yang paling menarik sekaligus paling menyentuh dari keseluruhan acara pembukaan.
Jika sambutan menghadirkan gagasan dan pemikiran, maka parade puisi menghadirkan pengalaman yang lebih emosional. Kata-kata yang sebelumnya dibicarakan dalam pidato berubah menjadi suara, intonasi, dan penghayatan yang dapat dirasakan langsung oleh penonton.
Penyair yang tampil dalam parade puisi diantaranya penyair senior dari Aceh Tengah LK Ara, Imam Maarif dari Jakarta, Bara Pattyradja dari Flores, Ranie Kasmir dari Jakarta, dan penyair Aceh Tuyed Legam. Berbagai tema diangkat dalam pembacaan puisi malam itu, mulai dari perdamaian, kemanusiaan, lingkungan hidup, hingga hubungan manusia dengan alam.
Tema-tema tersebut terasa relevan dengan kondisi dunia saat ini. Ketika berbagai konflik masih terjadi di sejumlah wilayah, ketika kerusakan lingkungan semakin mengkhawatirkan, dan ketika manusia sering terjebak dalam kepentingan masing-masing, puisi hadir sebagai pengingat tentang nilai-nilai kemanusiaan yang harus terus dijaga.
Yang menarik, meskipun para penyair berasal dari daerah dan negara yang berbeda, pesan yang mereka bawa memiliki semangat yang sama. Melalui puisi, mereka mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap sesama manusia dan terhadap lingkungan tempat kita hidup. Perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang tidak menjadi penghalang karena puisi mampu menjangkau wilayah yang lebih dalam, yaitu perasaan manusia.
Pembukaan PPN XIV Aceh 2026 akhirnya memperlihatkan bahwa sastra masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Melalui sambutan para pembicara dan parade puisi yang berlangsung malam itu, terlihat jelas bahwa kata-kata tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kesadaran, merawat ingatan, dan menumbuhkan empati.
Di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat, PPN XIV mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan ruang untuk merenung, mendengar, dan memahami satu sama lain. Ruang itu salah satunya dapat ditemukan dalam sastra dan puisi. Kata-kata masih memiliki kekuatan untuk menyatukan manusia dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
*Peserta PPN XIV asal Aceh-Indonesia





