Oleh Johansyah*
Idul Adha atau hari raya kurban tinggal menghitung hari. Jika ditelisik dari berbagai sudut pandang, tentu banyak muatan nilai dan hikmah yang dapat dipetik dari momentum hari raya ini, terutama dalam kaitannya dengan kurban.
Maka dalam tulisan singkat ini saya akan mengulas kurban sebagai wujud cinta sejati, yakni cinta yang membawa seseorang kepada kedamaian jiwa dan kebahagiaan tanpa batas.
Kurban merujuk kepada kosa kata bahasa Arab, yaitu qaruba yang berarti dekat. Yakni upaya yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui persembahan hewan kurban.
Dalam pandangan Fakhruddin Faiz, berkurban berarti merelakan kehilangan sesuatu yang dicintai untuk memperoleh sesuatu yang lebih kita cintai.
Sekiranya merujuk kepada kisah nabi Ibrahim AS, secara umum kurban dapat dimaknai sebagai salah satu ajang pembuktian cinta sejati, yakni cinta kepada Allah SWT dan sesama manusia.
Pertama adalah pembuktian cinta kepada Allah SWT. Dalam hal ini kita dapat bercermin kepada kisah nabi Ibrahim AS. Seperti yang diulas dalam sejarah para nabi, beliau memang diketahui lama tidak memiliki anak, tapi terus berikhtiar dan terus memohon kepada Allah SWT agar dikarunia anak. Setelah sekian lama akhirnya terkabul dan lahirnya seorang putra yang diberi nama Ismail.
Pada saat Ismail tumbuh besar, di momen inilah ujian pembuktian cinta itu terjadi. Suatu malam nabi Ibrahim AS bermimpi seakan Allah SWT memintanya untuk mempersembahkan anaknya.
Awalnya beliau sempat ragu, namun setelah mimpinya berulang beliau pun yakin bahwa ini benar perintah Allah SWT. Berat memang, tapi beliau bertekad melaksanakan dengan keyakinan bahwa semua yang diperintahkan Allah SWT itu pasti mengandung kebaikan.
Meski begitu sebagai ayah yang demokratis, beliau tidak mengambil keputusan sepihak, tapi menyampaikan terlebih dahulu kepada anaknya dan meminta tanggapannya. Ternyata Ismail juga menerima dengan lapang dada dan meminta ayahnya untuk segera melaksanakan perintah tersebut.
Inilah puncak pembuktian mahabbah sejati di mana beliau merelakan anaknya Ismail untuk dipersembahkan kepada Allah SWT meski pun sangat mencintai dan menyanginya karena cintanya kepada Allah melebihi dari apa pun dan siapa pun.
Namun begitulah, pada puncak persembahannya, Ismail kemudian digantikan dengan seekor qibas. Inilah yang kemudian disyari’atkan kepada kita umat nabi Muhammad SAW agar menyembelih hewan kurban sebagai bentuk rasa syukur dan cinta kita kepada Allah SWT.
Jika nabi Ibrahim AS mampu membuktikan cinta sejati kepada Allah SWT dengan persembahan yang bagi kebanyakan orang mustahil, lalu bagaimana dengan kita yang hanya dimintai untuk mempersembahkan hewan sebagai kurban, apakah kita mampu memenuhinya tanpa rasa keberatan, atau mungkin mengabaikannya karena dalih banyak kebutuhan lain yang mendesak?
Kalau memang kurban terlalu besar untuk mengukur cinta kita kepada Allah SWT, mari kita lihat untuk hal-hal kecil yang tidak membutuhkan modal uang. Misalnya tentang sikap kita dalam merespon kumandang azan.
Apakah kita bergegas melaksanakan shalat, atau lebih mementingkan pekerjaan dengan berbagai alasan; pekerjaan tanggung, sekali istirahat, dan sebagainya. Ataukah suara azan itu bahkan kita anggap sebagai suara angin lalu? Tidak perlu dihiraukan dan lewat begitu saja.
Mungkin dapat pula dibandingkan dengan sikap kita dalam merespon panggilan dan undangan orang lain. Katakan saja ketika dipanggil salah seorang pejabat, apakah kita bergegas untuk hadir atau biasa saja? Jika memang kita lebih merespon panggilan manusia daripada panggilan Tuhan, maka sungguh naif cinta kita kepada Allah SWT.
Hal ini mungkin dianggap oleh banyak orang sebagai sesuatu yang remeh, tapi cukup untuk dijadikan barometer betapa rapuhnya cinta kita kepada Allah SWT.
Kedua, kurban juga merupakan ajang pembuktian cinta terhadap sesama manusia. Ketika Ismail digantikan dengan seekor qibas, itu adalah isyarat bahwa Allah SWT sangat memuliakan dan menyayangi manusia.
Dia tidak menginginkan manusia itu menjadi tumbal maupun sesembahan karena Dia bukanlah Penguasa jagad yang haus darah dan daging manusia. Satu-satunya yang Dia inginkan dari hamba-Nya adalah kepatuhan paripurna untuk melakukan pengabdian kepada-Nya.
Nilai-nilai kasih sayang dan empati inilah yang sejatinya kita tumbuhkembangkan dalam sanubari dan terus kita rawat menjadi pohon kasih sayang yang tidak pernah kering dan tumbang.
Buahnya nanti berwujud amal, di antaranya tolong menolong terhadap sesama manusia. Dalam istilah Gayo disebut ‘alang tulung beret berbantu’, di mana kelompok yang mapan membantu kelompok yang membutuhkan, baik dalam wujud materi, moril, tenaga, maupun sumbangan pemikiran.
Saat ini, nilai-nilai kasih sayang dan tolong menolong tersebut kelihatan rapuh dalam masyarakat kita. Bahkan banyak yang mengabaikannya. Hidup sejatinya bermanfaat untuk orang lain, bukan memanfaatkan orang lain.
Di mana ada orang atau kelompok dengan tanpa rasa bersalah mengambil hak orang lain. Maka tepatlah jika Ceh didong Arita membuat satu saer yang salah satu penggalan baitnya saya kutip; ‘jema empuni pola dabuh kite nama lenge, jema miskin empu ni bata, dabuh jema kaya nyempak jele’. Intinya dia mengambil yang bukan haknya karena kehilangan kasih sayang.
Sewaktu bencana hidrometeorologi akhir tahun 2025 kemarin, saya menyaksikan sendiri sebuah peristiwa unik tapi memilukan dan memalukan. Kala itu ada sebuah kampung yang saluran air bersihnya sebelumnya rusak karena bencana sudah mulai normal karena telah diperbaiki sehingga warga kampung tersebut tidak perlu lagi mengambil dari tempat yang jauh dari rumah mereka.
Melihat itu, lalu beberapa warga kampung tetangga bermohon air tersebut kepada pengelolanya, tapi sayangnya tidak diperbolehkan dengan alasan keterbatasan air, padahal sebenarnya melimpah.
Beginilah salah satu potret masyarakat kita, betapa rapuhnya rasa kasih sayang dan tolong menolong. Ini benar-benar aneh menurut saya karena begitu banyak orang luar yang menyalurkan bantuan kepada kita, tapi sesama kita di wilayah bencana malah sama sekali tidak peduli antara satu dengan yang lainnya.
Karakter dalam masyarakat Gayo seperti ini saya istilahkan dengan ‘penyakit it’; wit, iwit, lit, serit, jangkit, lempit, salit, sungkit, jangkit, dan seterusnya. Kurang lebih sama halnya dengan penyakit Senang Melihat orang Susah (SMS) atau sebaliknya, dan ini karakter buruk yang tidak seharusnya dipelihara.
Akhir kalam, momen hari raya kurban ini sejatinya kita manfaatkan untuk menguatkan lagi akar-akar cinta sejati, yakni cinta kepada Sang Pencipta dan kasih sayang terhadap sesama.
Spirit kurban harus senantiasa dijaga berlandaskan fondasi tauhid yang kokoh sebagai modal untuk melakukan jihad sosial di tengah goncangan situasi global, nasional, dan regional saat ini.
Mengobarkan semangat berkurban berarti merangkai empati, membangun kebersamaan dan persatuan, serta mewujudkan keharmonisan sosial. Wallahu a’lam bishawab!
*Johansyah, Abdi Negara pada Dinas Syari’at Islam Kabupaten Aceh Tengah





