Oleh: Ahmad Dardiri (Kepala MAS Al-Huda Jagong)
Beberapa hari lagi kita InsyaAllah akan kembali dipertemukan dengan bulan Dzulhijjah, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Bulan ini termasuk bagian dari empat bulan haram yang memiliki keistimewaan dalam Islam.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.
Di antara seluruh hari dalam setahun, sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Rasulullah Muhammad bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini.” (HR. Sahih Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa awal Dzulhijjah adalah momentum besar untuk memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang justru sibuk dengan urusan dunia sehingga kehilangan kesempatan meraih pahala besar pada hari-hari yang mulia ini.
Padahal kehidupan dunia terus mengingatkan manusia tentang kefanaan. Musibah, kehilangan, sakit, dan berbagai ujian hidup datang silih berganti. Semua itu seharusnya menyadarkan manusia bahwa dunia bukan tempat tinggal yang abadi.
Karena itu, Dzulhijjah sejatinya bukan hanya perayaan ritual tahunan, tetapi juga momentum muhasabah untuk kembali memperkuat hubungan dengan Allah.
Pada tanggal 9 Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa Arafah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Sahih Muslim)
Sementara pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik, umat Islam melaksanakan shalat Idul Adha dan ibadah kurban. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol ketakwaan dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah.
Allah berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini mengingatkan bahwa inti ibadah bukan hanya pada simbol lahiriah, tetapi pada keikhlasan dan ketakwaan hati manusia.
Di tengah kehidupan modern hari ini, manusia sering terjebak dalam kesibukan dunia. Banyak yang sibuk mengejar pekerjaan, harta, dan kenyamanan hidup, tetapi lalai memperbaiki ibadah dan akhlaknya.
Ada yang begitu semangat mencari keuntungan dunia, tetapi berat melangkah menuju masjid. Ada yang rela mengorbankan waktu dan tenaga demi urusan dunia, tetapi enggan berkorban demi agama.
Padahal Allah telah mengingatkan manusia tentang “perdagangan” yang sesungguhnya menguntungkan. Dalam Surah Ash-Shaff ayat 10–11, Allah menawarkan perdagangan yang menyelamatkan manusia dari azab, yaitu: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
serta berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah.
Jihad dalam kehidupan hari ini bukan semata dimaknai perang fisik, tetapi juga kesungguhan menjaga iman, memperbaiki akhlak, mendidik generasi, membantu sesama, dan berjuang mempertahankan nilai-nilai Islam di tengah berbagai tantangan zaman.
Karena itu, Dzulhijjah seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat semangat pengorbanan: berkorban melawan hawa nafsu, berkorban demi ibadah,
berkorban membantu sesama, dan berkorban untuk memperbaiki diri.
Jangan sampai hari-hari mulia ini berlalu tanpa meninggalkan bekas dalam hati kita. Bisa jadi inilah kesempatan yang Allah berikan untuk menghapus dosa, memperbaiki kehidupan, dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Perlu kita ingat bahwa manusia tidak akan membawa harta dan kesibukan dunianya ke alam kubur. Yang tersisa hanyalah iman, amal saleh, dan ketakwaan yang pernah dikerjakan selama hidup di dunia.





