Oleh: Ahmad Dardiri*
Di berbagai daerah hari ini, masjid tumbuh megah dan indah. Kubah menjulang tinggi, bangunan berdiri kokoh, lantai berkilau, dan pengeras suara terdengar hingga penjuru kampung. Pemandangan ini tentu menggembirakan karena menunjukkan semangat umat Islam dalam membangun rumah ibadah.
Namun di balik kemegahan itu, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan: banyak masjid justru sepi dari jamaah dan aktivitas keilmuan. Saf-saf shalat sering kosong, kajian agama hanya dihadiri segelintir orang, bahkan sebagian generasi muda semakin jauh dari masjid.
Fenomena ini layak menjadi bahan introspeksi bersama. Sebab dalam Islam, memakmurkan masjid bukan sekadar membangun fisiknya, tetapi menghidupkan fungsi dan ruhnya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.”
(QS. At-Taubah: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemakmuran masjid bukan terletak pada megahnya bangunan, tetapi pada hidupnya ibadah, ilmu, dan keimanan di dalamnya.
Beberapa waktu lalu, penulis berbincang dengan seorang muazin di sebuah masjid kampung. Dengan wajah sedih ia berkata,
“Saya sudah azan setiap waktu, tetapi yang datang berjamaah hanya beberapa orang saja. Bahkan orang yang nampak berilmu pun banyak yang tidak peduli.”
Kalimat itu terasa menyesakkan hati. Sebab azan bukan sekadar panggilan shalat, melainkan panggilan iman. Di balik suara azan itu ada harapan agar manusia kembali mendekat kepada Allah. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan keikhlasan seorang muazin yang berharap rumah Allah tetap hidup.
Kepada muazin tersebut, penulis hanya bisa menyampaikan:
“Tetaplah berazan. Tetaplah korbankan waktu untuk itu. Meski belum banyak yang mau berjamaah dan memakmurkan masjid, jangan pernah lelah memanggil manusia menuju kebaikan.”
Dalam sejarah Islam, syiar agama sering kali dijaga oleh orang-orang ikhlas yang tetap istiqamah walaupun tidak banyak mendapat perhatian manusia.
Pada masa kenabian, masjid memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan umat. Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, pembinaan akhlak, dan penguatan persaudaraan. Dari masjid lahir generasi yang kuat iman, ilmu, dan kepeduliannya terhadap masyarakat.
Sayangnya, di era modern saat ini, banyak manusia lebih sibuk memakmurkan dunia daripada memakmurkan masjid. Waktu berjam-jam bisa dihabiskan untuk media sosial, hiburan, atau aktivitas duniawi lainnya, tetapi terasa berat untuk melangkahkan kaki menuju rumah Allah.
Kondisi ini juga dipengaruhi oleh pola hidup masyarakat modern yang semakin individualis. Teknologi memang mendekatkan manusia secara virtual, tetapi sering kali menjauhkan secara spiritual. Akibatnya, masjid perlahan kehilangan kedudukannya sebagai pusat kehidupan umat.
Selain itu, pendekatan dalam memakmurkan masjid juga perlu dievaluasi. Sebagian generasi muda merasa masjid terlalu formal, kaku, bahkan kurang ramah terhadap mereka.
Tidak sedikit anak-anak dan remaja yang justru dimarahi ketika datang ke masjid karena dianggap ribut atau mengganggu.
Padahal generasi muda tidak cukup hanya diperintah datang ke masjid, tetapi juga perlu dirangkul dengan kasih sayang dan pendekatan humanis. Masjid harus menjadi tempat yang nyaman, menenangkan, dan dirindukan oleh semua kalangan.
Karena itu, memakmurkan masjid hari ini harus dimulai dengan memakmurkan hati manusia. Masjid perlu dihidupkan kembali melalui: shalat berjamaah, majelis ilmu, pembinaan akhlak, kegiatan sosial, dan pendekatan penuh kasih sayang kepada jamaah, terutama anak muda.
Pengurus masjid juga dituntut menjadi teladan dalam akhlak, keramahan, dan pelayanan kepada umat. Sebab sering kali orang tertarik ke masjid bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena suasana persaudaraan yang mereka rasakan di dalamnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, salah satunya adalah seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa kedekatan dengan masjid bukan sekadar kebiasaan, tetapi tanda hidupnya iman dalam hati.
Pada akhirnya, masjid yang makmur bukan hanya menghadirkan jamaah yang banyak, tetapi juga melahirkan masyarakat yang: berakhlak, peduli, tenang jiwanya, dan kuat persaudaraannya.
Jangan sampai masjid kita megah bangunannya, tetapi sunyi dari dzikir, ilmu, dan kepedulian umat. Sebab kemuliaan masjid sejatinya bukan pada temboknya, melainkan pada manusia yang menghidupkannya dengan iman dan amal saleh.
[SP]





