Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, M.A*
Hari Jumat, 30 Ramadhan (20 maret 2026) adalah hari terakhir melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan. Sehabis maghrib masuklah bulan syawal tahun 1447 H, diikuti dengan gema takbir di seluruh penjuru mata angin. Di rumah-rumah para ibu sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk shalat dan juga merayakan hari raya Idul Fitri.
Saya tidur sekitar jam 00.00 pada malam itu. Ketika jam 01.00 orang rumah baru tidur dan mengatakan kepada saya bahwa sekarang ini adalah jam 01.00 malam, kemudian saya tertidur kembali.
Kira-kira pukul 02.30 saya bermimpi berjalan pulang dari shalat berjama’ah (tidak jelas apakah shalat jum’at atau shalat ‘Id) bersama para jama’ah yang ramai sekali.
Kami menelusuri jalan di hutan-hutan dan sangat jauh. Dalam hati saya bertanya, kalaulah mereka ini hanya mengejar untuk shalat satu waktu di tempat yang jauh bahkan mereka akan menghabiskan beberapa waktu shalat di perjalanan.
Setelah jauh berjalan dan di jalan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki, tidak ada kendaraan sepeda motor, mobil, atau kendaraan lainnya. Kami menelusuri jalan di hutan di bawah pohon-pohon pinus.
Setelah jauh berjalan, ada satu jalan menurun. Jalan tersebut sangat licin karena dipenuhi dengan daun pinus yang berjatuhan.
Saya sangat sulit untuk berjalan pada saat itu, akhirnya secara perlahan saya dan jama’ah yang lain menuruni jalan tersebut dan sampailah di sebuah lembah.
Terlihat di mata saya lembah yang luar biasa indahnya. Sesampainya di sana saya berkata, ini ternyata tempat tinggal dan tempat berusaha para jama’ah.
Pemandangan yang pertama disuguhkan ke mata saya adalah sawah dengan padi yang subur. Tinggi pohon padi mungkin sekitar 1 meter. Padi tersebut baru mulai berbuah jarang-jarang dan terbentang luas.
Saya minta berfoto. Anak saya yang nomor 4 saya suruh memotret saya, tetapi dia tidak mampu memotret saya karena semua pemandangan di sekitar saya sangat indah sekali sehingga dia tidak mampu memilih arah mana yang harus difoto.
Ketika sampai di persimpangan jalan ditengah persawahan, satu menuju ke kanan dan satu lagi menuju ke sebelah kiri, saya terhenti di persimpangan tersebut. Sementara semua jama’ah pulang ke rumah mereka masing-masing di lereng pegunungan. Mereka tidak punya kampung, mereka tinggal dan punya rumah di lahan usaha mereka masing-masing.
Saya tidak tahu di sekitar lahan usaha mereka apa yang mereka tanam. Dalam gambaran mata saya dari kejauhan bahwa lahan-lahan yang mereka tanami adalah cabe, namun saya tidak bisa pastikan karena itu hanya bayangan dari penglihatan saya. Kemudian ada juga tanaman-tanaman mereka di celah bebatuan.
Mereka tidak merusak tanaman lain walaupun itu ilalang. Mereka hanya menanam sebatas pohon yang mereka butuhkan, artinya ada tempat yang hanya mereka menanam dua atau tiga batang pisang, kemudian di tempat lain juga menanam yang seperti itu.
Saya tidak melihat di sekitar tempat tinggal mereka yang saling berjauhan adanya orang perempuan atau ibu-ibu dan juga anak-anak. Mereka semua terus berjalan menuju rumah mereka masing-masing. Tiba-tiba saya terbangun dari tidur dan para jama’ah menghilang dari penglihatan saya.
Sedangkan pemandangan ( sawah, kebun dan hutan di sekitar) yang saya lihat itu tetap nampak jelas di mata saya, tidak ada yang kurang. Saya memperhatikan setiap jengkal dari tempat berusaha para jama’ah, tempat usaha mereka sangat luas, indah dan tidak ada alam sekitar yang rusak.
Mungkin saya memperhatikannya lebih dari satu jam. Setelah saya lihat pemandangan yang terus berjalan, akhirnya saya membangunkan istri dari tidurnya, meminta untuk dilihatkan sekarang jam berapa. Istri terbangun, dia mengatakan sekarang jam setengah lima pagi.
Saya menceritakan semua kronologi apa yang saya jalani dari awal dan istri mendengarkan apa yang saya ceritakan dengan seksama.
Akhirnya saya yakin apa yang saya lihat semuanya adalah tontonan yang disuguhkan oleh Allah kepada saya. Tidak banyak yang bisa saya katakan kecuali Subhanallah, Maha Suci Allah. []





