Oleh : Zuhra Ruhmi, MPd*
Penerapan etnomatematika telah berkembang dari sekadar wacana teoritis menjadi instrumen praktis yang sangat efektif untuk mendekatkan matematika dengan realitas siswa. Kita dituntut untuk mengejar ketertinggalan teknologi dan standar global, namun di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk menjaga agar anak didik tidak kehilangan pijakan akarnya. Di sinilah Kurikulum Berbasis Cinta menemukan relevansinya yang paling kuat ketika disandingkan dengan identitas Budaya Gayo.
Cinta sebagai Fondasi, Budaya sebagai Jembatan
Kurikulum Berbasis Cinta bukan berarti meniadakan ketegasan, melainkan menempatkan kasih sayang sebagai motor utama pembelajaran. Dalam konteks masyarakat Gayo, cinta ini termanifestasi dalam nilai Semayang, Gemasih. Ketika seorang guru matematika di Takengon menggunakan motif Kerawang Gayo untuk menjelaskan konsep geometri atau aljabar, ia sebenarnya sedang melakukan tindakan “cinta” yang ganda: mencintai ilmu pengetahuannya dan mencintai identitas siswanya.
Pesan yang sampai kepada siswa bukan sekadar angka-angka mati, melainkan sebuah pengakuan bahwa: “Budayamu berharga, dan duniamu adalah laboratorium ilmu pengetahuan”. Inilah esensi kualitas pendidikan yang sebenarnya—ketika siswa merasa relevan dengan apa yang mereka pelajari.
Sinkronisasi Etika: Antara Sumang dan Kebebasan Berekspresi
Seringkali, kurikulum modern yang menekankan pada kebebasan berekspresi disalahpahami sebagai kebebasan tanpa batas. Budaya Gayo memiliki instrumen kendali yang luar biasa dalam bentuk Sumang (norma kesopanan).
Menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta berarti memberikan ruang bagi siswa untuk bersuara, bercerita melalui Kekeberen (sastra lisan), atau menulis berita jurnalistik tentang daerahnya. Namun, nilai Sumang hadir sebagai filter moral. Cinta tanpa batasan akan liar, namun cinta yang dipandu oleh etika Sumang akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga santun secara sosial (berakhlaqul karimah).
Literasi Digital yang Berjiwa Lokal
Kualitas pendidikan di Aceh Tengah akan melompat jauh jika digitalisasi tidak tercabut dari akar. Penggunaan media kreatif seperti komik digital atau esai filosofis tentang alam Gayo—seperti mengambil hikmah dari hujan di kebun kopi atau ketenangan Danau Lut Tawar—adalah bentuk penerapan Kurikulum Berbasis Cinta yang modern.
Guru tidak lagi berperan sebagai instruktur yang kaku, melainkan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menemukan potensi diri. Dengan cinta, seorang guru akan melihat bahwa setiap anak adalah individu yang unik, seunik kerumitan motif Emun.
Penutup: Mewujudkan Pendidikan yang Beradab
Penerapan budaya Gayo dalam Kurikulum Berbasis Cinta adalah sebuah upaya untuk mengembalikan pendidikan kepada fitrahnya: memanusiakan manusia. Kualitas pendidikan di Aceh Tengah tidak hanya diukur dari nilai ujian nasional, tetapi dari seberapa besar rasa bangga siswa terhadap jati dirinya dan seberapa peduli mereka terhadap sesamanya melalui nilai Alang Tulung Berat Bebantu.
Jika kita mampu menanamkan benih cinta melalui kearifan lokal ini, maka sekolah bukan lagi sekadar gedung tempat transfer informasi, melainkan sebuah rumah tempat karakter disemai dan masa depan Aceh Tengah ditenun dengan penuh kasih sayang.
*Penulis adalah guru matematika di Kementerian Agama Aceh Tengah





