TAKENGON-LintasGAYO.co : SMA Negeri 11 Takengon menggelar kegiatan edukasi pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos yang dimulai pada Sabtu, 16 Mei 2026 lalu.
Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai cara mengubah barang sisa yang tidak terpakai menjadi produk bernilai guna sekaligus memiliki nilai jual yang menguntungkan.
Berlangsung di lingkungan sekolah, kegiatan ini melibatkan siswa dan tenaga pendidik secara langsung dalam proses pembuatan kompos.
Berbagai jenis limbah organik yang mudah dijumpai di masyarakat dijadikan bahan baku utama, antara lain sekam, limbah pengolahan kopi, kotoran hewan, sampah sisa dapur, hingga pelepah pisang.
Seluruh bahan tersebut dicampur dan diolah melalui tahapan fermentasi hingga berubah menjadi pupuk organik yang kaya unsur hara dan siap dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.
Kepala SMA Negeri 11 Takengon, Vera Hastuti, M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran nyata bagi siswa agar mampu melihat potensi besar dari apa yang sering kali dianggap sampah.
Menurutnya, prinsip dasar yang diterapkan adalah mengolah limbah menjadi berkah, di mana sesuatu yang tidak berguna dapat disulap menjadi barang bermanfaat.
“Kami ingin memberikan edukasi kepada seluruh siswa, bagaimana cara mengolah limbah atau barang sisa ini menjadi sesuatu yang bernilai jual,” kata Vera, Selasa 19 Mei 2026.
“Apa yang tadinya dibuang, kami ubah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Ini pembelajaran penting bahwa menjaga lingkungan juga bisa mendatangkan keuntungan,” ujar Vera Hastuti, M.Pd.
Lebih lanjut, Vera menjelaskan rencana keberlanjutan program ini. Pihak sekolah bertekad, apabila proses pembuatan hingga pematangan kompos berjalan sukses dan menghasilkan kualitas yang baik, produk karya siswa ini akan diperjual belikan
Para siswa terlihat antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari pemilahan bahan, pencacahan, hingga pencampuran adukan kompos.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami ilmu pengetahuan alam, tetapi juga dilatih untuk berpikir kreatif, bekerja sama, dan memiliki jiwa wirausaha sejak dini.
[Ril]





