Oleh : Hammaddin Aman Fatih*
“Assalamu’alaikum ibu-ibu, kami baru dapat informasi dari pertamina. Bagi yang mau isi minyak untuk motor, mobil dan lainya silahkan isi penuh, boleh pakai jerigen. Kabarnya minyak pertamina terakhir masuk hari jumat dan tidak tahu kapan masuknya lagi.”
Teks diatas merupakan pesan yang beredar melalui aplikasi WhatsApp. Dampaknya mengakibatkan terjadi antrian yang sangat panjang dan kemacetan parah terjadi di seluruh lokasi SPBU, Pertashop, dan ditempat-tempat penjualan eceran minyak yang berada di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam 2 hari ini. Walaupun telah ada bantahan dari instansi yang berwenang, yang mengatakan bahwa itu beritah hoaks.
Kasus diatas menggambarkan begitu dahsyatnya pengaruh media sosial dengan sangat cepat mempengaruh prilaku masyarakat atau bias dari info yang tersampaikan secara berantai.
Kalau sebuah berita telah viral, dianggap itu sebuah kebenaran dan ditambah adanya budaya sher. Parahnya, baru hanya lihat judul, belum pun dibaca apa maksud isinya sudah langsung teruskan. Seakan-akan ingin jadi orang yang up to date.
Dalam waktu yang sangat singkat. Apa yang terjadi diluar sana yang jarak ratusan kilometer dari kita, dengan serta merta menjadi bagian problem dari kehidupan kita juga disini. Perang AS/Israil vs Iran dengan cepatnya berdampak pada prilaku umum masyarakat kita.
Satu sisi kita tidak menyalahkan masyarakat yang mungkin masih trauma dengan kelangkaan BBM (Bahan Bakar Minyak) pasca bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.
Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Salah satu yang paling terasa adalah kehadiran media sosial. Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, WhatsApp, X (Twitter) dan lain sebagainya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui media sosial, orang dapat dengan mudah berkomunikasi, berbagi informasi, hingga mengekspresikan pendapat. Namun di balik kemudahan tersebut, media sosial juga membawa pengaruh besar terhadap perilaku masyarakat. Sehingga muncul istilah media sosial bisa mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.
Di satu sisi, media sosial memberikan banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang komunikasi, berbagi informasi, dan membangun relasi.
Kemudahan dalam berkomunikasi menjadi salah satu dampak positif yang paling dirasakan. Melalui media sosial, seseorang dapat berinteraksi dengan keluarga, teman, maupun kolega tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Hubungan yang sebelumnya sulit dijaga karena perbedaan tempat kini dapat tetap terjalin dengan mudah.
Selain itu, media sosial juga menjadi sumber informasi yang sangat cepat dan luas. Berbagai berita, pengetahuan, serta perkembangan dunia dapat diakses dengan mudah hanya melalui telepon genggam. Hal ini membantu masyarakat untuk lebih terbuka terhadap berbagai informasi dan meningkatkan wawasan mereka.
Dalam bidang ekonomi, media sosial membuka peluang baru bagi masyarakat. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran produk. Tanpa memerlukan biaya besar, mereka dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Bahkan tidak sedikit usaha yang berkembang pesat berkat promosi melalui media sosial.
Di dunia pendidikan, media sosial juga dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif. Guru, siswa, dan mahasiswa dapat berbagi materi, berdiskusi, serta mengakses berbagai sumber belajar secara lebih mudah. Banyak komunitas pendidikan yang terbentuk melalui media sosial untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman.
Namun di sisi lain, media sosial juga memunculkan berbagai perubahan perilaku yang perlu mendapat perhatian. Salah satu dampak negatif yang sering terjadi adalah penyebaran informasi yang tidak benar atau hoaks. Informasi yang belum tentu kebenarannya dapat dengan mudah menyebar luas dalam waktu singkat.
Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman, memicu konflik, bahkan dapat memecah belah masyarakat.
Baca Juga : Kamuflase Media Sosial
Selain itu, media sosial juga dapat mempengaruhi perilaku dan etika dalam berkomunikasi. Di ruang digital, tidak jarang seseorang menuliskan komentar yang kasar, menghina, atau menyerang orang lain. Fenomena perundungan di dunia maya (cyberbullying) semakin sering terjadi dan dapat berdampak buruk terhadap kondisi psikologis seseorang, terutama di kalangan remaja.
Pengaruh lain yang cukup terasa adalah munculnya kecanduan media sosial. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar hanya untuk melihat unggahan orang lain. Kebiasaan ini dapat mengurangi produktivitas, mengganggu aktivitas belajar maupun bekerja, serta mengurangi interaksi sosial secara langsung di lingkungan sekitar.
Tidak hanya itu, media sosial juga sering memunculkan budaya pamer dan keinginan untuk selalu terlihat sempurna di depan publik. Hal ini dapat menimbulkan perasaan iri, tidak percaya diri, dan tekanan sosial bagi sebagian orang yang merasa kehidupannya tidak sebaik yang ditampilkan di media sosial. Hubungan sosial yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara langsung kini sering digantikan oleh komunikasi melalui layar.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi digital yang baik agar dapat menggunakan media sosial secara bijaksana. Kemampuan untuk menyaring informasi, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang positif menjadi sangat penting. Peran keluarga, sekolah, dan pemerintah juga dibutuhkan untuk membangun kesadaran bersama tentang penggunaan media sosial yang sehat.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat. Dampaknya terhadap masyarakat sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Jika digunakan secara bijak, media sosial dapat menjadi sarana yang bermanfaat untuk berbagi pengetahuan, mempererat hubungan sosial, dan mendorong kemajuan masyarakat. Namun jika digunakan tanpa kendali, media sosial justru dapat mempengaruhi perilaku masyarakat ke arah yang kurang baik.
Takengon, 05 Maret 2026
*Penulis adalah Kepala SMA Negeri 1 Permata, penulis buku People of the Coffee dan Opini Cekgu, serta sekarang sedang dalam proses menyiapkan penerbitan buku dengan judul “Dibalik Papan Tulis’…





