Pacuan Kuda Gayo: Antara Derap Tradisi dan Tarikan Komersialisasi

oleh

Oleh : Hammaddin Aman Fatih*

Belakangan ini kita disajikan tentang polemik, apakah event pacuan kuda dalam rangka HUT Kota Takengon tahun 2026 dilaksanakan atau tidak.

Endingnya Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah resmi dipastikan tidak akan melaksanakan kegiatan tersebut untuk tahun ini dengan alasan saat ini kita masih berada dalam tahap pemulihan intensif pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi 27 November 2025 yang lalu.

Dalam tulisan singkat ini, penulis tidak mengulas tentang alasan mengapa tidak dilaksanakan yang katanya sebagai ajang public hearing dan stimulus pembangkit ekonomi pascabencana. Tapi, dalam konteks ini penulis mengupas dari sudut mata antropolog.

Pacuan kuda di Tanah Gayo bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah hidup turun-temurun. Tradisi ini mengandung nilai historis, sosial, bahkan spiritual yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.

Namun, di tengah perkembangan zaman, pacuan kuda kini berada di persimpangan: antara menjaga kemurnian tradisi atau mengikuti arus komersialisasi yang kian kuat

Sebagai simbol kebanggaan masyarakat Gayo, pacuan kuda kerap digelar pada momen penting seperti perayaan hari besar atau event daerah. Ia menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguat kebersamaan.

Ciri khasnya, joki anak-anak tanpa pelana,menjadi daya tarik unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Dalam tradisi ini, tercermin nilai keberanian, kearifan lokal, serta hubungan harmonis antara manusia, hewan, dan alam.

Namun, dinamika mulai berubah ketika komersialisasi masuk. Kehadiran sponsor, praktik taruhan terselubung, hingga orientasi pada keuntungan ekonomi perlahan menggeser makna awalnya.

Pacuan kuda tak lagi semata perayaan budaya, melainkan juga ajang bisnis dan hiburan massal. Dampaknya, muncul potensi praktik yang kurang sehat, seperti eksploitasi joki anak, perlakuan tidak layak terhadap kuda, hingga konflik kepentingan.

Meski demikian, komersialisasi tidak selalu menjadi ancaman. Jika dikelola dengan bijak, ia justru dapat memperkuat keberlangsungan tradisi.

Dukungan dana, promosi wisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah peluang yang bisa dimanfaatkan. Pacuan kuda bahkan berpotensi menjadi magnet pariwisata yang mengangkat nama Gayo ke tingkat nasional dan internasional. Tantangannya terletak pada bagaimana menjaga agar nilai-nilai luhur tidak terkikis oleh kepentingan ekonomi semata.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya diuntungkan? Jawabannya tidak tunggal. Keuntungan tersebar ke berbagai pihak, meski tidak selalu merata.

Pemilik kuda dan pelatih menjadi pihak yang paling terlihat merasakan manfaat. Kuda yang menang meningkatkan prestise sekaligus nilai ekonomi. Nama pemilik terangkat, peluang bisnis pun terbuka lebar, baik dari penjualan maupun pembiakan kuda.

Di sisi lain, pelaku usaha lokal ikut menikmati dampaknya. Pedagang makanan, penyedia penginapan, transportasi, hingga UMKM mengalami peningkatan pendapatan selama pergelaran berlangsung. Pacuan kuda menjadi penggerak ekonomi rakyat, terutama ketika pengunjung datang dari luar daerah.

Pemerintah daerah pun turut diuntungkan melalui promosi wisata. Event ini menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan budaya Gayo, meningkatkan citra daerah, dan membuka peluang investasi di sektor pariwisata.

Namun, tidak semua pihak berada pada posisi yang sama. Joki anak sering menjadi kelompok rentan, dengan aspek keselamatan dan kesejahteraan yang belum tentu terjamin.

Jika praktik komersial seperti taruhan semakin dominan, keuntungan bisa terkonsentrasi pada segelintir pihak, sementara masyarakat luas hanya menjadi penonton.

Di balik itu, ada keuntungan non-materi yang kerap terabaikan: masyarakat Gayo sebagai pemilik budaya. Mereka memperoleh ruang untuk menjaga identitas, mempererat kebersamaan, dan mewariskan tradisi leluhur. Nilai ini tak dapat diukur dengan uang, tetapi sangat menentukan keberlangsungan budaya itu sendiri.

Karena itu, diperlukan keseimbangan yang bijak. Pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat harus bersama-sama menetapkan batas yang jelas: mana yang dapat dikembangkan secara ekonomi, dan mana yang harus dijaga sebagai warisan budaya. Perlindungan terhadap joki anak, kesejahteraan kuda, serta pelestarian nilai tradisional harus menjadi prioritas utama.

Pada akhirnya, pacuan kuda di Tanah Gayo bukan hanya soal kecepatan di lintasan. Ia adalah cermin arah perjalanan sebuah budaya, apakah tetap berakar pada jati diri, atau larut dalam arus perubahan. Tradisi boleh berkembang, tetapi maknanya tidak boleh hilang. Berangkat dari yang asli diberi baju baru.

Takengon, 22 April 2026

*Penulis adalah antropolog dan penulis buku ( People of the Coffe Penerbit Mujahid Press 2015 dan Goresan Pena Cekgu Penerbit Guepedia, 2018).

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.