Adat Sebuku Dalam Perkawinan Masyarakat Gayo

oleh

Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Sebuku dalam bahasa Gayo sama dengan pongot atau dalam bahasa Indonesia sama dengan tangisan atau ratapan. Sebuku dalam masyarakat Gayo didapati dalam dua tempat.

Pertama, Sebuku biasa kita temukan ketika ada salah seorang dari anggota keluarga yang meninggal dunia, di mana mereka yang ditinggalkan oleh almarhum/ almarhumah biasanya menangis sejadi-jadinya atau dikenal dengan sebuku (meratap).

Ini sering dilakukan oleh orang perempuan baik itu ibu yang meratapi kepergian anaknya atau seorang anak yang meratapi kepergian kedua orang tua mereka.

Meratap seperti ini tidak dibenarkan dalam agama, sehingga ketika ada orang yang meratapi dalam kematian, maka ulama, tengku, dan saudara-saudara melarang seseorang untuk meratapi mereka yang sudah meninggal.

Sebuku yang kedua kita dapati dalam mungerje atau perkawinan, karena adat perkawinan dalam masyarakat Gayo menganut adat eksogami, artinya seorang perempuan ketika menikah maka ia keluar dari belah atau urang atau kampung dari orang tua mereka dan menjadi bagian dari belah, urang atau kampung dari suami. Dalam adat Gayo perkawinan seperti ini disebut dengan kerje juelen.

Kata dasar dari istilah Sebuku dalam bahasa Gayo sangat sulit ditemukan. Apakah kata dasar dari buku atau dari kata lainnya yang jelas maknanya adalah tangisan dari seseorang perempuan yang akan menikah dan akan berpindah kepada belah atau bagian dari keluarga suami.

Perempuan yang sudah menikah dia tidak lagi kembali kepada belahnya sendiri tetapi menjadi belah suami dan anak-anak mereka juga nanti menjadi keturunan atau belah dari suami.

Kemudian juga semua tanggung jawab terhadap diri mereka akan berpindah kepada suami atau keluarga suami, sedangkan keluarga perempuan (istri) dengan menikahnya maka ia tidak ada lagi menjadi tanggung jawab orang tua dan keluarganya.

Sebuku dalam pengerjen atau perkawinan biasanya berlangsung pada dua tempat, pertama ketika acara beguru. Acara beguru merupakan acara adat yang dilakukan secara formal dan satu sesi di mana anak perempuan yang akan menikah (inen mayak belem) melakukan salam semah kepada kedua orang tua dan seluruh keluarga.

Salam yang pertama biasanya dilakukan kepada ayah si perempuan (ama) kemudian dilanjutkan dengan salam semah kepada ibu ( ine) dan dilanjutkan dengan semua keluarga yang hadir.

Ketika salam semah kepada ama biasanya belum terjadi curahan isi hati yang diekspresikan dengan sebuku ( tangisan kesedihan), kendati sebenarnya ama menangis juga ketika anaknya melakukan salam semah.

Ketika inen mayak belem salam semah kepada ine barulah curahan hati pecah dengan tangisan antara inen mayak belem dan ine. Biasanya isi dari tangisan ini adalah menceritakan bagaimana jerih payah ine atau ama dalam membesarkan, mendidik dengan kasih sayang semenjak dari kecil sampai kepada inen mayak akan iluahi (menikah).

Sebuku dari ine biasa bercerita tentang susahnya membesarkan, mendidik anak, terkadang seorang anak mendengar apa yang dikatakan oleh orang tua, terkadang juga anak mengabaikan apa yang dikatakan oleh orang tua, bahkan terkadang seorang anak melawan ketika seorang ine mengajari anaknya.

Lalu apakah ketika nanti Inen mayak belem menjadi bagian dari keluarga suami sanggup mengikuti aturan, melaksanakan pekerjaan, bersikap baik kepada suami atau orang tua bahkan keluarga besar dari suami. Apakah pengajaran orang tua selama ini telah cukup untuk membuat anak bisa mandiri dan hidup bersama keluarga yang akan dijalani.

Hal inilah yang menjadi kegelisahan, kesusahan, dan keperihan hati seorang ibu ketika anaknya menikah di dalam masyarakat Gayo.

Seorang anak atau inen mayak belem juga menyadari, merasakan, apakah semua pengajaran orang tua terhadap dirinya yang diberikan selama ini sudah cukup menjadi bekal ketika dia masuk ke dalam keluarga suami, karena dia juga menyadari bahwa selama ini terkadang dia mendengar apa yang diajarkan oleh orang tua, terkadang dia tidak mendengarkan bahkan terkadang dia melawan.

Saat itu dia menyadari dengan sesadar-sadarnya mengungkapkan isi hatinya bahwasanya apa yang dilakukan selama ini dalam pengabdian terhadap orang tua rasanya belumlah cukup sehingga dia bertanya pada dirinya dan menanyakan kepada orang tuanya apakah sebenarnya dia sudah sanggup untuk menjalani kehidupan dengan keluarganya yang baru.

Sebuku dari ine atau ibu dari Inen mayak biasa ditutup dengan ucapan maaf apabila pendidikan, pengajaran yang diberikan selama ini tidak mencukupi sehingga diharapkan inen mayak belem bisa belajar dan menyesuaikan diri dengan keluarga yang baru.

Orang tua memesankan inen mayak belem harus bisa mendekati dan mencuri hati keluarga suami atau dalam bahasa Gayo dikenal dengan istilah menantui ate keluarga suami.

Demikian juga dengan tangisan dari Inen mayak belem biasa ditutup dengan permintaan maaf kepada kedua orang tua dengan harapan doa karena dia akan pergi dan belum tahu kapan bisa bertemu kembali.

Melihat isi Sebuku dari inen mayak belem dan orang tua dari inen Mayak maka bisa kita pahami dan bisa kita telusuri dari awal sampai akhir merupakan sebuah cerita yang lengkap baik dari ine sebagai orang yang melahirkan, membesarkan dan mendidik si anak dan Sebuku dari anak yang dilahirkan, dibesarkan, dididik oleh orang tua sampai menjelang masa-masa pernikahan tidak ada kiranya yang luput dari Sebuku tersebut.

Karena itu penulis menganggap makna kata Sebuku adalah sebuah cerita atau riwayat yang diekspresikan dalam bentuk tangisan mulai dari awal kehidupan sampai lepasnya tanggung jawab orang tua dan berpindah tanggung jawab kepada suami sehingga bisa dikatakan termuat dan tercatat dalam satu buku (sebuah buku) dari tangisan inen Mayak dan ine. []

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.