Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Tidak diketahui sumber yang pasti kapan dimulainya pendidikan formal dan informal di Gayo. Lalu kita juga tidak menemukan secara pasti siapa orang pertama dari Gayo yang meraih gelar sarjana baik berdasarkan sumber bacaan tertulis maupun online.
Pada tahun 1920-an masyarakat Gayo melaksanakan pendidikan informal di mersah, yaitu tempat ibadah yang ada di setiap kampung. Mersah di samping digunakan sebagai tempat ibadah juga digunakan sebagai tempat belajar, musyawarah serta sebagai tempat penyelesaian sengketa antar warga.
Untuk istilah terakhir ini (penyelesaian sengketa) bisa kita sebutkan bahwa mersah merupakan lembaga peradilan adat yang ada di dalam masyarakat Gayo.
Pada tahun 1930-an, mulai berdiri lembaga pendidikan formal di Gayo sehingga banyak masyarakat Gayo yang bersekolah di lembaga pendidikan formal. Berdasarkan informasi dari sumber bacaan berupa buku-buku dan media online, kedua tahun ( 1920-an dan 1930-an) ini merupakan masa penjajahan kolonial Belanda.
Selanjutnya kita tidak dapat menelusuri siapakah orang yang menjadi sarjana yang pertama dari Gayo karena catatan yang jelas tidak ditemukan. Ada informasi secara lisan yang pernah saya dengar dari Prof. Dr. Alyasa Abubakar bahwa sarjana di bidang agama yang pertama sekali dari Gayo adalah alm. Muhammad Daud Remantan.
Beliau adalah sarjana pertama yang tamat dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau berasal dari kampung Kenawat Redelong lalu bersekolah di Jogja, setelah tamat beliau mengabdikan diri sebagai dosen di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Informasi lain dikuatkan oleh Tgk. M. Ali Djadun (suami kakak tertua beliau) bahwa Bapak alm. M. Daud Remantan adalah orang yang pertama sebagai khatib di Masjid Ruhama Takengon. Beliau tidak menginformasikan kapan shalat Jum’at pertama dilakukan di Masjid Ruhama tersebut.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia banyak masyarakat Gayo yang menempuh pendidikan di luar daerah untuk melanjutkan pendidikan setelah tamat dari MI/ SD, MTs/ SMP dan MA/PGA/ SMA. Setelah tamat dari Pendidikan Menengah mereka melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, ada yang ke Banda Aceh, Medan, Jakarta, Jogja, dan daerah-daerah lain di Indonesia.
Mereka yang menyelesaikan pendidikan di lembaga nonformal seperti mersah melanjutkan pendidikan ke pesantren-pesantren yang ada di luar Gayo seperti Aceh dan Sumatera Barat. Dari mereka inilah kita tahu adanya informasi tentang nama-nama pesantren seperti Pesantren Pulau Kitun, Pesantren Tanah Merah, dan pesantren yang ada di Buloh Blang Ara ( nama Blang Ara menjadi nama salah satu kampung di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah).
Mereka melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren Thawalib di Sumatera Barat. Mereka yang melanjutkan pendidikan ke luar daerah gayo disebut dengan bedagang. Jadi bisa dimaknai bahwa kata bedagang dalam masyarakat Gayo bukanlah dalam makna berdagang dalam istilah-istilah yang digunakan di dalam kamus yaitu berbisnis atau melakukan transaksi jual beli.
Tetapi kata bedagang digunakan untuk orang-orang yang keluar dari daerah Gayo untuk mencari sesuatu yang tidak didapatkan di daerah Gayo, baik untuk mencari ilmu atau mencari kehidupan seperti berbisnis, menjadi pegawai, dan lain-lain.
Diantara mereka yang menempuh jalur pendidikan di luar Gayo, baik pada jalur pendidikan agama atau umum, menamatkan program Sarjana Muda atau Sarjana Lengkap dan memilih bekerja di daerah perantauan (bedagang) seperti di Banda Aceh, Medan, Jawa, Jogja, Bandung, dan lain-lain. Sehingga banyaklah orang-orang Gayo di daerah-daerah di seluruh Indonesia yang pada awalnya sebagai penuntut ilmu.
Mereka yang mengabdi di luar daerah berprofesi bermacam-macam seperti PNS, TNI/POLRI, guru, dosen, wiraswasta, dan ada sebagai pedagang. Tidak bisa kita nafikan bahwa kebanyakan dari mereka yang tàmat dari perguruan tinggi di luar Gayo kembali ke daerah asal dan mengabdikan diri sebagai PNS dan TNI/POLRI dan diantara mereka ada yang menjadi pejabat. Bedanya dengan mereka yang bekerja di luar daerah Gayo, mereka yang bekerja di Gayo juga berprofesi sebagai petani.
Ketika mereka yang bekerja diluar Gayo mencapai usia pensiun mereka kembali ke daerah asal dan memulai profesi baru sebagai petani, baik pada lahan yang diwariskan oleh orang tua mereka atau membuka lahan baru.
Dari sini bisa dipahami bahwa masyarakat Gayo ada dua macam bila dilihat dari segi profesi, pertama mereka yang bekerja diluar daerah memiliki profesi tunggal, kedua mereka yang berada di Gayo disamping berprofesi sebagai PNS, TNI/POLRI, pedagang, mereka juga sebagai petani. Bahkan lahan yang mereka miliki jauh lebih luas dari lahan yang dimiliki oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani.
Pola pikir atau mindset sebagai petani dari masyarakat Gayo tidak bisa dipisahkan, sehingga mereka yang berprofesi selain dari petani tidak merasa puas kalau tidak memiliki lahan perkebunan.
Inilah gambaran tentang mindset masyarakat Gayo bila ditilik daris dekat bahwa kehidupan masyarakat Gayo tidak bisa dilepaskan dari mindset petani.[]





