Oleh: Mahbub Fauzie*
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan memperoleh informasi. Kehadiran media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, TikTok, dan berbagai platform lainnya kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, melintasi jarak dan batas wilayah.
Tulisan Hammaddin Aman Fatih berjudul “Media Sosial, Antara Resiko dan Manfaat” di media online LintasGayo. Co ini (6/3/2026) memberikan gambaran yang menarik tentang bagaimana media sosial memiliki dua sisi: manfaat sekaligus risiko.
Salah satu contoh nyata yang diangkat adalah peristiwa beredarnya pesan WhatsApp tentang kabar pasokan BBM yang disebut-sebut akan habis di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Pesan tersebut memicu kepanikan masyarakat, sehingga terjadi antrean panjang di berbagai SPBU dan penjualan BBM eceran.
Peristiwa ini menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh media sosial dalam membentuk perilaku masyarakat. Sebuah pesan singkat yang belum tentu benar dapat memicu reaksi massal dalam waktu yang sangat cepat. Ketika sebuah informasi telah viral, sering kali ia langsung dianggap sebagai kebenaran.
Budaya share tanpa verifikasi menjadi salah satu masalah utama di era digital. Banyak orang hanya membaca judul atau potongan informasi, kemudian langsung meneruskannya kepada orang lain.
Bahkan ada kecenderungan untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan berita, tanpa mempertimbangkan apakah informasi tersebut benar atau tidak.
Padahal, penyebaran informasi yang tidak benar dapat menimbulkan dampak yang luas. Selain memicu kepanikan, hoaks juga dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik sosial, bahkan merusak kepercayaan masyarakat terhadap berbagai pihak.
Di sisi lain, sebagaimana disampaikan dalam tulisan Hammaddin Aman Fatih, media sosial juga memiliki banyak manfaat. Ia memudahkan komunikasi, memperluas jaringan pertemanan, menjadi sarana berbagi pengetahuan, bahkan membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Dalam bidang pendidikan pun media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang berbagi ilmu dan pengalaman. Guru, siswa, dan mahasiswa dapat saling berdiskusi serta mengakses berbagai sumber pembelajaran dengan lebih mudah.
Namun semua manfaat tersebut hanya akan terasa jika media sosial digunakan secara bijaksana. Tanpa literasi digital yang baik, media sosial justru dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ini, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi. Tidak semua berita yang beredar di media sosial dapat langsung dipercaya. Sumber informasi perlu diperiksa, isi berita perlu dipahami secara utuh, dan kebenarannya perlu diverifikasi.
Dalam perspektif Islam, sikap kritis terhadap informasi sebenarnya telah diajarkan sejak lama melalui konsep tabayyun. Tabayyun berarti memeriksa dan memastikan kebenaran suatu berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Prinsip ini sangat relevan di era media sosial saat ini. Ketika menerima sebuah pesan, berita, gambar, atau video, seorang Muslim seharusnya tidak langsung percaya apalagi menyebarkannya. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa sumbernya dan memastikan kebenarannya.
Jika informasi tersebut belum jelas kebenarannya, maka sikap yang paling bijak adalah menahan diri untuk tidak ikut menyebarkannya.
Selain itu, etika dalam berkomunikasi di ruang digital juga perlu diperhatikan. Tidak jarang media sosial menjadi tempat munculnya komentar kasar, penghinaan, bahkan perundungan. Padahal ruang digital seharusnya menjadi ruang yang sehat untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.
Karena itu, literasi digital menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat saat ini. Kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, serta menjaga etika dalam berkomunikasi harus terus dibangun.
Harus menjadi kesadaran bersama, bahwa media sosial hanyalah sebuah alat. Ia dapat menjadi sarana kebaikan atau justru sumber masalah, tergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Belajar dari peristiwa hoaks BBM yang sempat menimbulkan kepanikan masyarakat, kita diingatkan bahwa kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi sangatlah penting.
Dengan membangun budaya tabayyun, berpikir kritis, dan6 bersikap bijak dalam bermedia sosial, masyarakat tidak hanya terhindar dari hoaks, tetapi juga dapat menjadikan media sosial sebagai sarana untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas, beretika, dan saling menjaga satu sama lain.[]





