Catatan Redaksi*
Perang antara Amerika, Israel, dan Iran terjadi jauh di Timur Tengah. Namun gaungnya sampai juga ke dataran tinggi Gayo. Bukan berupa rudal atau kapal perang, melainkan antrean sepeda motor di pom bensin.
Di beberapa SPBU Aceh Tengah dan Bener Meriah, masyarakat datang berbondong-bondong. Ada yang membawa motor, ada yang membawa jeriken. Wajah-wajah tampak cemas, seolah perang dunia sudah berpindah dari Timur Tengah ke tangki bensin.
Isu bergerak lebih cepat dari kendaraan. Satu pesan WhatsApp cukup untuk membuat masyarakat percaya bahwa bensin akan habis. Dalam hitungan jam, logika ekonomi kalah oleh bisikan panik yang beredar dari warung ke warung.
Padahal jika dipikir dengan kepala dingin, bensin tidak pernah tahu ada perang di Timur Tengah. Yang tahu hanyalah manusia. Dan manusia sering kali lebih cepat panik daripada cepat mencari informasi benar.
Fenomena ini sebenarnya bukan hanya soal BBM. Ini soal kepercayaan publik. Ketika masyarakat tidak yakin pada informasi resmi, mereka lebih percaya pada rumor, kabar tetangga, bahkan cerita sopir L-300 yang baru turun gunung.
Di sinilah pemerintah daerah diuji. Pemimpin daerah tidak cukup hanya pandai memotong pita proyek dan berfoto di baliho. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan masyarakat adalah suara yang menenangkan.
Jika pemerintah lambat bicara, maka rumor akan menjadi kepala desa baru di kampung-kampung. Ia tidak pernah dilantik, tetapi kata-katanya lebih dipercaya daripada pengumuman resmi yang datang terlambat.
Antrean panjang di pom bensin akhirnya menjadi cermin kecil keadaan kita. Perang global memang tidak bisa dihentikan oleh orang Gayo. Namun kepanikan lokal seharusnya bisa dihentikan oleh pemimpin daerahnya sendiri.
Jika tidak, masyarakat akan terus antre setiap ada isu. Hari ini antre bensin, besok mungkin antre minyak goreng. Lama-lama yang paling langka bukan barang kebutuhan, melainkan rasa percaya kepada pemerintah. []





