Cerita dari Kampungku (Episode 4); Pemimpinku Nge Kona Film

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

POLITIK itu cerdik. Tapi sebagian praktiknya licik. Ini berlangsung sejak lama. Bahkan hal itu terjadi pada generasi emas yang dibina langsung oleh Nabi Muhammad saw.

Setelah Rasulullah wafat, terjadi beberapa kali perang antarsesama kaum muslim. Tercatat sejumlah perang ini melibatkan keponakan Nabi Muhammad saw, Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Dia berkonflik dengan istri Nabi, Siti Aisyah RA.

Perang juga terjadi antara sahabat Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra dengan sahabat lainnya; Muawwiyah ra. Saat itu, Ali meminta Muawwiyah meninggalkan jabatan gubernur. Namun Muawwiyah menolak.

Ali, Muawwiyah, dan Siti Aisyah adalah orang terdekat Nabi. Mereka juga mendapat jaminan tempat di surga. Namun karena perbedaan pandangan politik, mereka satu sama lain saling berperang. Banyak perang; banyak korban. Banyak di antara mereka syahid. Para suhada itu banyak penghapal Alquran dan para intelektual.

Perang antarmuslim ini tidak membuat perjuangan yang diwariskan Rasulullah semakin maju. Pertengkaran, perselisihan, dan perang ini menghancurkan umat Islam. Menjadikan umat Islam menjadi kerdil.

Pada satu masa, masing-masing utusan dari sahabat Ali dan sahabat Muawwiyah berunding untuk memutus mata rantai peperangan. Mereka sepakat akan mengundurkan diri dari kekuasaan.

Lantas umat Islam saat itu dikumpulkan dalam sebuah rapat akbar di suatu tempat di Madinah. Masyarakat dari berbagai kabilah berkumpul untuk mendengarkan pengumuman penting. Mereka ingin mendengar kesepakatan antara kedua sosok penting itu yang bakal menunjuk orang di luar kelompok sahabat Ali dan sahabat Muawwiyah.

“Saudara dari perwakilan sahabat Ali dipersilakan untuk membacakan surat pengunduran diri. Setelah itu Sahabat Muawwiyah juga akan membacakan hal sama,” kata ketua panitia rapat akbar itu.

Lantas utusan sahabat Ali maju. “Pada hari ini, sahabat Ali mengundurkan diri dari kekuasaan.”

Namun pernyataan yang sama tidak keluar dari mulut utusan Muawwiyah. “Oleh karena sahabat Ali menyatakan mundur dari kekuasaan, maka dengan ini sahabat Muawwiyah yang menjadi pemimpin umat Islam,” kata ketua panitia.

Bagi masyarakat yang berkumpul tidak ada masalah karena mereka tidak tahu sama sekali skenario apa yang dijalankan. Mereka tidak peduli tentang politik kelompok Muawwiyah karena tidak tahu jalan ceritanya.

Sahabat Ali dan kelompoknya menyadari bahwa mereka menjadi “korban” politik. Namun mereka tidak berkonfrontasi secara frontal meski kelompok sahabat Ali bisa saja melakukan hal itu.

Sejak rapat akbar itu, sahabat Ali bersikap pasif dalam politik dan pemerintahan. Tapi berbeda dengan penerus sahabat Muawwiyah, yaitu Yazid. Dia justru berambisi meneruskan kekuasaan ayahnya dengan membunuh anak-anak sahabat Ali dan Fatimah, yaitu Hasan dan Husin serta pengikutnya. Peristiwa ini dikenal dengan “Tragedi Karbala.”

Kita tidak gegabah memandang sejarah itu dengan penilaian benar dan salah. Kita hanya perlu mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Apa yang dialami sahabat Ali dalam istilah Gayo disebut Nge kona film. Kalimat itu berarti “sudah kena tipu”. Istilah tersebut baru saja berkembang di Gayo, seiring dengan perkembangan dunia sinematografi atau dunia perfilman.

Pemimpin kami di kampung juga menjadi korban kona film karena merasa memegang kendali terhadap semua orang. Tetapi kenyataannya, dia telah menjadi korban skenario dari kelompok tertentu, yang tentu saja lebih cerdik.

Baca Juga : Cerita dari Kampungku (Episode 3); Seperti Kisah Banjir pada Masa Nabi Nuh AS Mulai Surut, Satwa Saling Berebut Kelamin

Kami menyarankan agar pemimpin kami mundur total dari dunia perpolitikan. Jika mundur, dia hanya mengalami kerugian moral dan materiil. tetapi kalau pemimpin kami meneruskan bermain politik, maka akan menjadi korban kona film lebih besar.

(Mendale, November 11, 2022)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.