Sejuta dalam Rumah Tangga

oleh

Oleh : Sahri Ramadhan, S.HI*

Didalam menjalin hubungan rumah tangga berjuata alasan untuk dapat meraih kebahagiaan, dimulai dari awal menentukan pilihan untuk menjadi suami atau istri tentu memiliki berjuta alasan sehingga jatuh pilihan kepada pasangan saat ini lalu dijalin dengan ikatan pernikahan.

Dengan harapan, pilihan kita akan mendatangkan kebahagiaan sehingga berjuta usaha dan perjuangan untuk meraih kebahagiaan tersebut, namun didalam perjalanan berumah tangga banyak tantangan dan kendala yang akan dihadapi masing-masing pasangan yang menjalaninya.

Karena setiap orang yang akan melangsungkan pernikahan pasti yang nampak pada calon suami/istri adalah kelebiahannya bukan kekurangan sehingga setelah menikah kekurangan itu akan nampak satu-persatu sehingga butuh kesabaran dan waktu menyesuaikan diri untuk menerima kekurangan tersebut.

Tulisan ini membahas tentang memberikan sejuta kepada pasangan dalam meraih kebahagian, yang terlintas dibenak kita kalau kalimat sejuta itu pasti berupa uang namun sejuta ini bukanlah berupa uang atau materi melainkan setia, jujur dan tanggung jawab.

Sejuta ini merupakan beberapa komitmen yang dijalani secara terus-menerus didalam berumah tangga sehingga kebahagiaan hadir didalam keluarga yang dibina, sebagaimana kita ketahui bahwa jodoh seseorang merupakan salah satu rahasia Allah yang ditetapkan untuk manusia, sebagaimana Allah berfirman didalam Al-Qur’an “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan Pasangan(istri-istri) dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantara kalian rasa kasih sayang…” (QS. Ar-Ruum 30.21)

Setia adalah berpegang teguh pada janji, pendirian, dan sebagainya(KBBI), setia juga diartikan ketulusan untuk menyimpan satu hati di dalam hati, dan berjanji untuk tidak akan mengkhianati. (B.J Habibie). Dengan demikian kesetiaan itu merupakan ketulusan kepada seseorang tanpa mengkhinati dengan pindah kelain hati.

Setia ini juga merupakan kunci dari kebahagiaan sebuah rumah tangga, jika salah satu mulai berkhianat didalam rumah tangga tentu akan menimbulkan gejolak mulai dari kerenggangan hubungan rumah tangga sampai ada yang berakhir pada perceraian.

Kesetiaan ini bisa kita teladani dari kisah Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi Muhammad dikenal sangan mencintai dan menyayangi istri pertamanya, yaitu ibunda Siti Khadijah. Selama bersama Khadijah, Rasulullah tidak pernah membagi cinta atau berpoligami dengan wanita manapun sampai Khadijah meninggal, diriwayatkan Rasulullah menjalani hidup berumah tangga bersama Khadijah selama 25 tahun lamanya kemudian Khadijah wafat saat Rasulullah berusia 50 tahun. (Sirah Nabawiyah).

Setia kepada pasangan merupakan hal penting didalam berumah tangga antara suami dan istri. Sebagaimana Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata bahwa Rasulullah bersabda Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini.

“Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191)

pada penjelasan hadis tersebut kesetiaan mendapatkan posisi yang sangat mulia disisi Allah SWT. Meskipun pada aturan yang lain membahas tentang seorang suami boleh berpoligami dengan ketentuan dan syarat yang mengiringinya yaitu adil, secara hukum negara Republik Indonesia juga dibolehkan asalkan mendapat izin dari isteri pertama dan mendapatkan putusan dari Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah.

Dengan demikian kesetiaan dalam menjalin hubungan rumah tangga merupakan kunci kebahagiaan, ketika kesetiaan ini di aplikasikan didalam kehidupan sehari-hari akan menimbulkan rasa saling diantaranya saling menghargai, saling membutuhkan, saling menyayangi, saling mengghormati saling ketergantungan dan sebagainya.

Jujur didalam bahasa Arab dikenal dengan istilah shidqu atau shiddiq yang berarti berkata benar atau nyata. Jujur merupakan bentuk kesamaan atau kesesuaian antara kata yang diucapkan dengan perbuatan yang dilakukan, atau antara informasi dan kenyataan.

Dalam arti yang lebih luas, jujur artinya tidak melakukan kecurangan, mengikuti kaidah atau aturan yang berlaku dan memiliki kelurusan hati. Jujur merupakan salah satu sifat mulia dari empat sifat wajib Nabi Muhammad SAW yang merupakan sosok mulia dan teladan sempurna bagi seluruh umat manusia.

Nabi Muhammad SAW sudah dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah bahkan sejak beliau belum diangkat menjadi seorang Rasul.
Allah berfirman didalam Al-Qur’an

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sidiqin (benar), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS. 33:35).

Kejujuran ini akan mengantarkan seseorang menjadi insan yang mulia disisi Allah SWT, dan akan disenangi oleh manusia kebanyakan karena sifat jujur yang dimilikinya.

Begitu juga didalam menjalankan rumah tangga antara suami dan istri harus ada kejujuran yang mengiringi keduanya dengan tidak berbohong satu sama lain, misal jujur didalam pekerjaan, jujur dalam pergaulan, jujur dalam mendapatkan penghasilan bagi suami dan istri.

Karena sejatinya kejujuran itu merupakan modal keberlangsungan rumah tangga, setiap ada masalah antara suami dan istri jika diungkapkan secara baik dan jujur dan tidak mengumbar ke orang lain pasti akan aman dan tentram.

Lain halnya dengan orang yang berbohong kepada pasangannya, dia akan merasa khawatir akan kebohongannya dan hidup penuh kebimbangan, dia akan terbiasa membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lamanya sehingga hidupnya dipenuhi dengan kebohongan, orang yang seperti ini tidak akan mendapat kebahagiaan melainkan hanya kebahagiaan palsu saja.

Rasulullah SAW bersabda : “Tinggalkanlah apa apa yang meragukanmu dengan mengerjakan apa apa yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan kepada keraguan atau kebingungan”. (HR. At-Tirmidzi).

Tanggung Jawab, Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan di mana wajib menanggung segala sesuatu sehingga kewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatu yang menjadi akibat. Bertanggung jawab dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana semua tindakan atau perbuatan atau sikap merupakan penjelmaan dari nilai-nilai moral serta nilai-nilau kesusilaan.

Dapat diartikan tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingklah laku atau perbuatan, baik yang disengaja atau tidak disengaja. Tanggung jawab menjadi bagian kehidupan manusia di mana masing-masing memikulnya, sehingga tanggung jawab menjadi kodrat manusia.

Didalam rumah tangga tanggung jawab sangat melekat antara suami, istri dan anak. Tanggung jawab suami adalah memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan sandang diantaranya adalah kenyamanan, perlindungan, kasih sayang.

Kebutuhan pangan yaitu berupa kebutuhan pokok berupa makanan, gizi seimbang dan lain-lain. Sedangkan kebutuhan papan yaitu tempat tinggal yang layak menurut kemampuan seorang suami.

Selain itu kebutuhan ruhani dan ketauhidan juga termasuk pada tanggung jawab seorang suami seperti sebagaiman Allah Berfirman “Jagalah dirimu dan Keluargamu dari api neraka” (Qs. At-Tahrim ayat 66).

Kesuksesan rumah tangga seseorang akan tercermin dari cara seorang suami memimpin sebuah keluarga yaitu seimbang antara memenuhi kebutuhan jasmani dan menunaikan kebutuhan ruhani semua isi rumah yaitu istri dan anaknya.karena tugas menjaga dalam hal ini dibebankan kepada seorang suami untuk menjaganya didunia dan harus mempertanggung jawabkanya di hadapan Allah SWT diakhirat kelak.

Sebagaimana firman Allah SWT “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya…” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)

Tugas seorang istri yang utama adalah mentaati suami sebagaimana Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari “seorang istri bertanggung jawab terhadap rumah suaminya serta anak suaminya” (HR. Bukhari), jika dijabarkan tugas istri didalam keluarga mencakup, mengurus rumah tangga, merawat anak, merawat diri sendiri dan menjaga harta suami dengan penuh amanah.

Istri menjadi penentu kebahagiaan didalam rumah tangga sebagaimana Rasulullah bersabda “wanita shalehah, yang apabila dilihat menyenangkan, jika diperintah menaati suaminya, jika suaminya tidah ada maka dia memelihara harta suaminya” (HR. An-nasa’i. 3231)

Didalam rumah tangga seorang istri harus mampu menjadi sumber keteduhan dan kasih sayang didalam keluarga karena seorang istri dititipkan satu kelebihan oleh Allah berupa rahim sebagaimana rahim itu sendiri merupakan sifat Allah yaitu penyayang.

Ketika sebuah keluarga memiliki seorang istri atau ibu yang penyayang maka dapat dipastikan semua isi rumah akan mendapatkan kenyamanan, ketika kenyamanan itu ada maka terciptalah yang diungkapkan oleh Rasulullah “Bayti Jannati” rumahku adalah syurgaku.

Tanggung Jawab Anak. Anak memiliki tanggungjawab berbakti kepada kedua orang tua dan menaati perintah orang tua selama berada dalam syari’at Allah dan Rasulnya dan tidak bermaksiat kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah “dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al Israa. 17:23).

Allah memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tua karena kasih sayang dan usaha kedua ibu bapak telah dicurahkan kepada anak-anaknya agar mereka menjadi anak-anak yang saleh, dan terhindar dari jalan yang sesat.

Maka sepantasnyalah apabila kasih sayang yang tiada taranya itu, dan usaha yang tak mengenal susah payah itu mendapat balasan dari anak-anak mereka dengan memperlakukan mereka dengan baik dan mensyukuri jasa baik mereka.

Anak-anak adalah belahan jiwa dari kedua ibu bapak.Sejak masih bayi hingga dewasa, pertumbuhan dan pendidikan anak-anak menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Maka seharusnyalah anak-anak menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya.

*inspirasi Nasehat Pernikahan Tgk. Syahrir dan telah mendapatkan izin untuk di publikasikan

Penulis adalah Penghulu Muda KUA Kec.Bukit, Bener Meriah

Comments

comments