Mengapa Menjadi ASN Masih Jadi “Impian” Generasi Muda?

oleh

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

Pertambahan populasi penduduk yang semakin ‘meledak’ dalam beberapa dekade terakhir, membawa konsekwensi persaingan hidup semakin ketat dan keras. Jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja, membuat pengangguran dimana-mana.

Sementara lapangan kerja informal yang sejatinya mampu menampung banyak tenaga kerja seperti menjadi sektor pertanian, kurang diminati para pencarai kerja dari kalangan muda. Untuk berwira usaha sebagai entrepeneur, para pencari kerja juga sering beralasan tidak ada modal dan minim skill.

Padahal menjadi seorang entrepreneur mestinya jadi pilihan ‘merdeka’ generasi milenial, karena seorang entrepreneur adalah ‘boss’ bagi dirinya sendiri, bahkan bagi orang lain, bisa memenej usaha sendiri, tanpa harus disuruh-suruh atau diperintah orang lain.

Banyaknya usaha besar di bidang retail, factory maupun jasa kontruksi yang belakangan bnayk yang ‘gulung tikar’ akibat berbagai hal, semakin membuat angka pengangguran semakin ‘meroket’.

Kondisi iklim makro yang semakin terpuruk, seakan menjadi ‘pelengkap penderita’ masalah tenaga kerja yang sampai saat ini seolah belum menemukan solusi. Kondisi seperti inilah yang kemudian menjadi pemicu permasalahan sosial seperti meningkatnya tindak kejahatan, sensitivitas gesekan sosial antar agama, etnis dan golongan dan berbagai krisis sosial lainnya.

Ratusan ribu atau bahkan jutaan lulusan perguruan tinggi, saat ini hanya bisa ‘bermimpi’ untuk memperoleh kesempatan kerja untuk jaminan masa depan mereka. Tapi itu tidak mudah mudah, karena lapangan kerja memang semakin sempit, ditambah konon tenaga kerja asing juga berebut peluang kerja di negeri kita.

Menjadi ASN masih jadi impian

Salah satu sektor yang kemudian menjadi tumpuan harapan para pencari kerja adalah sektor birokrasi, karena sektor ini dianggap bisa menjadi solusi bagi banyaknya ‘pengangguran intelek’ yang selama ini telah mengorbankan tenaga, fikiran dan tentu saja dana untuk meraih selembar ijazah dan sebuah gelar.

Sayangnya selama empat tahun terkahir, lowongan pengangkatan pegawai negeri sipil atau yang sekarang disebut Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengisi formasi di sektor birokrasi, nyaris tertutup rapat.

Entah karena faktor politis atau pertimbangan lainnya, baru pada tahun 2019 yang lalu, ‘kran’ itu kembali dibuka oleh pemerintah. Tak ayal lagi, para lulusan sekolah maupun perguruan tinggi dari tahun 2014 sampai 2018 dan lulusan tahun-tahun sebelumnya, begitu antusias menyambut ‘angin surga’ tersebut.

Jutaan pelamarpun sibuk melengkapi persyaratan untuk mengadu nasib meraih formasi yang tersedia. Meski peluang mereka ibarat ‘masuk ke lubang jarum’, tapi ‘mimpi’ mereka untuk bisa duduk di kantor mengenakan seragam, membuat mereka begitu bersemangat untuk mengjar impian mereka.

Menjadi seorang ASN, kenyataannya masih menjadi impian jutaan orang generasi muda yang saat ini masih menganggur. Apalagi ‘bayangan’ untuk bisa menduduki sebuah ‘jabatan basah’ juga menjadi obsesi mereka.

Realita di lapangan yang sering mereka lihat bahwa pejabat itu hidupnya mewah, bergelimang fasilitas dan berbagai kemudahan, membuat mereka begitu menggebu untuk meraih jalan kesana. Dan satu-satunya jalan untuk meraih itu semua, ya harus lulus dulu sebagai PNS atau ASN.

Kalaupun pada akhirnya mereka tidak bisa meraih jabatan impian, toh secara ekonomi, para ASN itu sudah lumayan terjamin. Standar gaji ASN yang berlaku saat ini, untuk pangkat dan golongan terendah saja sudah diatas Upah Minimun Regional (UMR), masih ditambah lagi dengan hak pensiun yang bisa dinikmati seumur hidup.Tak heran jika kemudian banyak orang menjadikan profesi ASN ini sebagai idaman dan idola mereka, apalagi ada ‘dalil’ kultural di kalangan masyarakat masih bertahan asumsi bahwa menjadi ASN itu adalah kebanggaan bagi keluarga.

Sayangnya tidak semua lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang mengikuti tes, bisa melenggang ke kantor-kantor pemerintah atau lembaga pendidikan. Selain karena formasi yang memang terbatas, seleksi penerimaan ASN yang mulai diberlakukan tahun lalu, menggunakan sistem Computer Assitance Test (CAT) dan standar kellulusan ditentukan melalui Passing Grade.

Dengan sistem seperti itu, secara logika hanya mereka yang punya kemampuan akademik dan skill teknis saja yang bisa menembus ‘lubang jarum’ tersebut. Dan kalau kita lihat pada saat pengumuman kelulusan, memang kebanyakan mereka yang lulus rata-rata ‘anak pintar’, hanya sedikit sekali yang lulus karena faktor keberuntungan. Tidak dapat dinafikan juga, bahwa masih ada juga ‘permainan’, tapi sudah sangat jauh berkurang dibanding dengan periode-periode sebelumnya.

Bagi mereka yang mendapat keberuntungan lulus seleksi, tentu sejuta harapan sudah ada dalam angan mereka. Bekerja dalam ruangan ber AC dengan pakaian rapi dan berbagai fasilitas, seolah sudah membayang di benak mereka, apalagi setiap ‘tanggal muda’, mereka akan menerima gaji tetap dan tunjangan lainnya. Tapi mereka harus bersabar menanti terbitnya ‘surat ajaib’ bernama SK pengangkatan sebagai CPNS.

Kondisi keuangan di daerah yang beragam, membuat penerbitan SK ini juga tidak seragam, ada daerah yang yang sudah menerbitkan SK pengangkatan, tapi masih ada juga daerah yang belum menerbitkannya, meskipun telah menggelar seleksi CPNS pada waktu nyaris bersamaan.

Butuh kesabaran ekstra melalui penantian panjang pasca dinyatakan lulus seleksi CPNS, penantian sebagian besar para kandidat yang telah lolos seleksi, mulai menampakkan ‘happy ending’nya. Setelah melewati berbagai proses selama hampir setahun, sebagian besar daerah yang mengalokasikan penerimaan CPNS pada tahun lalu, mulai menerbitkan surat keputusan pengangkatan mereka sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Tentu saja ini langsung disambut sumringah oleh para calon pegawi pemerintah itu.

Mengenakan baju putih dengan celana atau rok hitam, terlihat wajah-wajah mereka berbinar saat mereka menerima SK pengangkatan mereka dari Gubernur, Bupati atau Walikota di daerah mereka masing-masing. Secercah harapan akan masa depan, jelas terpancar dari raut wajah mereka. Betapa tidak, pasca menerima ‘surat sakti’ tersebut, awal bulan berikutnya mereka sudah punya hak untuk menerima gaji perdana mereka.

Dan yang membuat mereka begitu ‘menggebu’ untuk menjadi ASN, dengan memegang ‘surat sakti’ tersebut, mereka sudah bisa mewujudkan angan-angan yang selama ini hanya menjadi ‘mimpi’. Keberadaan ‘surat sakti’ ini benar-benar ajaib, melebihi kartu-kartu dari kantong ajaib Dora Emon. Dengan menggennggam SK CPNS ini, mereka akan dpat memperoleh berbagai kemudahan untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder mereka, mulai dari kebutuhan pangan, pakaian, smartphone canggih sampai membeli kendaraan.

Meski hanya berupa selembar kertas, SK pegawai negeri bisa ‘disekolahkan’ ke bank atau lembaga keuangan lain untuk memperoleh fasilitas kredit sampai ratusan juta. Meski dengan ‘menyekolahkan’ SK, sejatinya mereka sudah ‘terjerat’ utang jangka panjang, tapi setidaknya mereka bisa tampil keren dengan pakaian bagus dan mobil mulus, gaya hidup hedonis memang sudah menggejala seakan menjadi tren kekinian, meski terkadang harus ‘memaksakan diri’.

Mungkin itulah salah satu motivasi, mengapa menjadi ASN itu menjadi idaman banyak orang, masih ada juga sih yang menjadi ASN karena idealisme untuk mengabdi kepada negara dan masyarakat, tapi mungkin bisa dihitung dengan jari. []

Comments

comments