[Puisi Lirik] Abu Rahmat* Gayo, Tempat Lahir dan Wafatmu Gayo, Kota awal dan akhir Setelah benih cinta menangis Dua
[Cerpen] Sarjana dari Kampung Rawa Menggali
Darmawansyah, S.Pd.I* Kabut berselimut dingin menusuk tulang saat bangun dari ranjang, kenikmatan tidur setelah terlelap dan bangun di pagi hari. Matahari bersinar,
Elegi Pendidikan
[Puisi Lirik] Jupri Agusriawan Jika rakyat butuh ilmu Jika negara butuh pendidikan Mengapa pemerintah menjual pendidikan Yang dididik hanya orang-orang yang ber-uang
Siluet Dinda
[Puisi Lirik] Muhammad Azni Siluet Dinda Dinda, Kata yang elok dan indah Kala disebut pada surya Kala dilihat pada mentari Dan
Ziarah Mistis Menjelang Pesta Demokrasi
[Cerpen] Irama Br Sinaga Akhir Maret, menjelang pesta demokrasi aku sering merasa aneh. Perjalanan menuju tempat kelahiran aku menemukan tiga binatang. Pertama
[Puisi Gayo] Baji Kin Saksi
*Sahuri Ramadana Soboh lao waktu Ine uwet semiang Pies jepang renye mujerang Ama muremes parang Pasang baji peneking ni jelbang Leboh ni
Purnama Empat Belas
[Puisi Lirik] Purnama Empat Belas Subhan Gayo Bulat penuh Seperti pecahan uang logam yang kau sambit ke langit Jatuh kembali dekat kakimu Tetaplah masih sekeping saja Tidak ada hujan uang seperti yang kau dendangkan Kau memang si penghayal nomor satu yang pernah kukenal Meski diam-diam akupun berharap koin-koin berjatuhan Menimpuk kepalaku agar rasa papa terusir selamanya Hujan duit… Hujan duit… Lirih kuikuti nyanyianmu Kau selalu pandai menghibur Bulan empat belas Warna perak seperti kepingan logam
- Sebelumnya
- 1
- …
- 191
- 192
- 193
- …
- 214
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
