Hardikda dan Masa Depan Akhlak Generasi Aceh

oleh

Catatan: Mahbub Fauzie (Pemerhati Sosial Kemasyarakatan, ASN Kemenag di KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh yang diperingati setiap 2 September bukan sekadar agenda seremonial. Hardikda seharusnya menjadi momentum untuk bertanya secara jujur: ke mana arah pendidikan Aceh hari ini dan manusia seperti apa yang sedang kita siapkan untuk masa depan?

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang gedung sekolah, angka kelulusan, sertifikat, atau banyaknya kegiatan. Pendidikan adalah tentang membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak, cerdas sekaligus beradab.

Pertanyaan ini penting kita renungkan di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, termasuk di Aceh Tengah dan Tanah Gayo.

Kita patut bersyukur karena masih banyak anak-anak Aceh yang berprestasi. Mereka mampu bersaing dalam bidang akademik, olahraga, seni, teknologi, dan berbagai bidang lainnya. Namun, di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap berbagai persoalan generasi muda.

Melemahnya sopan santun kepada orang tua dan guru, perundungan, pergaulan yang tidak sehat, kecanduan game, judi daring, paparan pornografi, penyalahgunaan narkoba, serta penggunaan media sosial tanpa kendali merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Ini bukan berarti generasi muda kita adalah generasi yang rusak. Justru sebaliknya, mereka adalah generasi yang sedang tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda. Mereka hidup di tengah banjir informasi, teknologi, dan media sosial yang tidak mengenal batas.

Kemampuan mengakses informasi berkembang sangat cepat, sementara kemampuan menyaring dan mengendalikannya belum tentu ikut berkembang. Di sinilah pendidikan menghadapi tantangan besar.

*Jangan Menyalahkan Anak Semata*

Ketika terjadi kenakalan atau persoalan moral pada anak, kita sering terburu-buru menyalahkan mereka. Padahal anak tumbuh dari sebuah lingkungan.

Keluarga memiliki tanggung jawab. Sekolah memiliki tanggung jawab. Pemerintah memiliki tanggung jawab. Tokoh agama dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang salah dengan anak-anak kita?”

Tetapi juga:
“Apa yang sudah kita berikan kepada mereka?”
Apakah mereka mendapatkan keteladanan di rumah? Apakah sekolah menjadi ruang yang aman dan nyaman? Apakah guru memiliki kesempatan yang cukup untuk mendidik, bukan sekadar mengajar? Apakah masyarakat menyediakan lingkungan sosial yang sehat?

Sebab anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat. Mereka belajar terutama dari apa yang mereka lihat dan saksikan setiap hari.

Kita meminta anak jujur, tetapi jangan sampai mereka melihat orang dewasa mempertontonkan ketidakjujuran. Kita meminta mereka sopan, tetapi ruang publik justru dipenuhi komunikasi yang kasar. Kita meminta mereka tidak pragmatis, tetapi mereka melihat keberhasilan sering dikaitkan dengan kepentingan dan kedekatan.

*Gayo Memiliki Modal Besar*

Masyarakat Gayo sesungguhnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun pendidikan karakter. Nilai sumang, adat, agama, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta semangat musara pakat merupakan kekayaan sosial yang tidak boleh ditinggalkan.

Kita tidak perlu selalu mencari konsep pendidikan karakter dari luar, sementara nilai-nilai luhur sudah tumbuh dalam kehidupan masyarakat sendiri. Pendidikan modern harus membuat anak-anak Gayo mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Berakar kuat, tetapi berpikiran luas.

Menjadi generasi digital, tetapi tetap memiliki adab. Menguasai teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi. Berani bersuara, tetapi tetap santun.

*Sekolah Tidak Bisa Sendirian*

Krisis akhlak tidak mungkin diselesaikan oleh sekolah saja. Orang tua tidak boleh menyerahkan seluruh pendidikan kepada guru. Guru juga tidak mungkin menggantikan seluruh peran orang tua.

Karena itu, pendidikan harus menjadi gerakan bersama. Sekolah, keluarga, pemerintah, Kementerian Agama, dayah, masjid, lembaga adat, organisasi kepemudaan, tokoh agama, dan masyarakat harus membangun sinergi.

Dalam konteks ini, lembaga seperti KUA juga memiliki ruang strategis. KUA bukan hanya tempat pencatatan pernikahan, tetapi memiliki fungsi bimbingan dan penyuluhan agama, pembinaan keluarga, serta edukasi masyarakat.

Pembinaan remaja perlu diperkuat. Mereka tidak cukup hanya dilarang atau dinasihati, tetapi harus diajak berdialog, didengar kegelisahannya, diberikan pemahaman agama, dan dibekali kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Kita perlu mendatangi generasi muda di ruang mereka, bukan sekadar menunggu mereka datang kepada kita.

*Hardikda Harus Menjadi Refleksi*

Hardikda jangan berhenti pada upacara, spanduk, sambutan, dan dokumentasi. Hardikda harus menjadi momentum mengevaluasi kualitas pendidikan kita: kualitas guru, budaya literasi, perlindungan anak, kekerasan di sekolah, pendampingan keluarga, pendidikan karakter, hingga bagaimana anak-anak menghadapi dunia digital.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar angka, tetapi kehilangan manusia. Jangan sampai pendidikan menghasilkan anak yang pintar menjawab soal, tetapi gagap menghadapi kehidupan.

Aceh memiliki sejarah besar dalam ilmu dan peradaban. Gayo memiliki adat dan nilai yang kuat. Aceh Tengah memiliki modal sosial yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana semua kekayaan itu kita hidupkan kembali dalam pendidikan masa kini.

Kita tidak sedang kehilangan generasi. Kita sedang menghadapi generasi yang membutuhkan arah, pendampingan, dan keteladanan.

Karena itu, mari merawat rumah besar pendidikan Aceh. Rawat ilmunya. Rawat gurunya. Rawat budayanya. Rawat akhlaknya. Rawat generasinya.

Sebab masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya pembangunan, tetapi terutama oleh manusia seperti apa yang kita lahirkan melalui pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Daerah ke-67.[]

Takengon, 2 September 2026

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.