Catatan Mahbub Fauzie (Warga yang suka menulis, mantan jurnalis, ASN Kemenag)
Ada yang bertanya, bahkan mungkin ada yang mengira, setiap tulisan yang saya kirim dan kemudian dimuat di media online tentu mendapatkan bayaran.
Jawabannya: tidak selalu. Bahkan, belakangan ini hampir tidak pernah.
Saya menulis karena memang suka menulis.
Menulis bagi saya bukan semata-mata pekerjaan yang harus selalu dikonversi menjadi rupiah. Menulis adalah hobi, ruang berekspresi, cara merawat gagasan, sekaligus bentuk pengabdian kecil sesuai dengan kemampuan yang saya miliki.
Tentu, saya pernah merasakan masa ketika tulisan benar-benar menjadi sumber penghasilan.
Saat masih mahasiswa, ketika media cetak masih menjadi primadona, honor tulisan sangat berarti. Tulisan yang dimuat di koran atau majalah mendatangkan honor. Dari sanalah, antara lain, uang jajan terbantu dan buku-buku bisa dibeli.
Bagi mahasiswa kala itu, honor menulis bukan sekadar uang. Ia juga menjadi semacam penghargaan bahwa gagasan yang kita tuangkan ternyata memiliki nilai.
Namun, zaman berubah.
Media cetak semakin berkurang, sementara media online tumbuh di mana-mana. Menulis pun menjadi jauh lebih mudah. Tidak perlu menunggu halaman koran atau edisi majalah. Tulisan dapat dibuat, dikirim, diedit, lalu dipublikasikan dalam hitungan waktu.
Tetapi kemudahan publikasi tidak otomatis berarti adanya honor. Banyak media online yang hidup dengan segala keterbatasannya. Ada biaya domain, hosting, server, pengelolaan, desain, keamanan, hingga kebutuhan operasional lainnya.
Karena itu, ketika sebuah tulisan dimuat, saya tidak serta-merta bertanya, “Berapa honornya?”
Kadang justru sebaliknya. Untuk membantu sebuah media tetap hidup dan terus menayangkan informasi kepada publik, saya ikut membantu biaya hosting media tersebut.
Bukan karena saya sedang membeli tempat untuk tulisan saya. Saya hanya merasa bahwa media juga perlu dijaga keberlangsungannya.
Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih luas: Publikasi itu tidak gratis.
Tulisan boleh dibuat dengan sederhana, tetapi sebuah media membutuhkan biaya agar tetap dapat hadir. Di balik satu berita yang kita baca melalui layar telepon genggam, ada orang yang mengelola situs, membayar server, menjaga keamanan, memperbarui sistem, dan memastikan media tetap bisa diakses.
Karena itu, instansi pemerintah, organisasi, yayasan, lembaga pendidikan, perusahaan, komunitas, maupun berbagai kelompok masyarakat yang berkepentingan dengan publikasi perlu memahami bahwa kerja jurnalistik dan publikasi memiliki nilai.
Bukan berarti setiap berita harus dibayar. Bukan pula berarti setiap penulis harus meminta honor. Tetapi kerja-kerja publikasi yang profesional patut dihargai dan ditempatkan secara proporsional.
Apalagi bagi lembaga dan organisasi yang memiliki banyak kegiatan.
Publikasi kegiatan bukan sekadar membuat berita agar nama pimpinan, lembaga, organisasi, yayasan, atau program kerja muncul di media. Publikasi yang baik adalah bagian dari dokumentasi, transparansi, komunikasi publik, membangun citra positif, sekaligus meninggalkan rekam jejak kelembagaan.
Selama ini, ketika ada kegiatan kantor yang perlu diberitakan, saya menulis dan membuat rilis. Saya melakukannya sebagai bentuk pengabdian sesuai dengan keahlian yang saya miliki di dunia jurnalistik. Saya tidak menulis rilis karena mengejar honor.
Saya menulis karena pekerjaan itu bisa saya lakukan dan bermanfaat bagi lembaga. Tetapi dari pengalaman tersebut saya juga belajar satu hal:
Pengabdian jangan sampai membuat kita lupa bahwa sebuah ekosistem media membutuhkan biaya untuk bertahan.
Kalau sebuah lembaga, organisasi, yayasan, perusahaan, atau komunitas mendapatkan manfaat dari publikasi, tidak ada salahnya membangun kemitraan yang sehat dengan media. Tentu dengan mekanisme yang profesional, transparan, dan sesuai ketentuan.
Media membutuhkan keberlanjutan. Lembaga dan organisasi membutuhkan ruang komunikasi publik. Penulis membutuhkan ruang untuk menuangkan gagasan.
Ketiganya sebenarnya bisa bertemu dalam sebuah ekosistem yang saling menghargai.
Bagi saya pribadi, menulis tetaplah menulis. Ada honor, tentu disyukuri. Tidak ada honor, tidak menjadi alasan untuk berhenti.
Sebab sejak awal saya belajar menulis bukan hanya untuk mendapatkan uang. Saya menulis untuk menjaga pikiran tetap hidup, gagasan tetap mengalir, dan pengalaman tetap memiliki jejak.
Dulu, tulisan membantu saya membeli buku ketika masih mahasiswa.
Sekarang, tulisan mungkin tidak lagi menghasilkan honor. Tetapi ia memberi sesuatu yang lain: kesempatan untuk berbagi pikiran, mendokumentasikan peristiwa, menyuarakan kepedulian, dan ikut menjaga agar sebuah kebaikan tidak hilang begitu saja dari ingatan.
Mungkin itulah mengapa sampai hari ini saya masih menulis.
Bukan karena setiap tulisan menghasilkan uang. Bukan pula karena setiap tulisan harus dihargai dengan honor. Tetapi karena menulis adalah cara saya merawat gagasan dan berbagi manfaat.
Dan saya percaya:
Tidak semua yang bernilai harus selalu dibayar. Tetapi semua yang bernilai tetap layak dihargai. []






