Oleh : Fauzan Azima*
Ada satu kelebihan orang Gayo yang kadang tidak dimiliki orang kota besar. Kami bisa ribut berhari-hari hanya karena sesuatu yang sebenarnya sudah diselesaikan oleh alam sejak ribuan tahun lalu.
Belakangan ini, misalnya. Pejabatnya sedang serius memperdebatkan apakah Gedung DPRK Aceh Tengah perlu dipasang AC atau tidak.
Saya tersenyum mengingat Awan Prado. Kalau Awan Prado masih hidup, mungkin dia akan menggelar rapat di pinggir Danau Lut Tawar sambil menyeruput kopi panas.
“Untuk apa kita beli hawa dingin, kalau Allah sudah kirim gratis setiap hari?” katanya sambil mengusap jaket lusuhnya.
Takengon bukan Banda Aceh. Bukan Medan. Apalagi Dubai.
Kita tinggal di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 1.000–1.500 meter di atas permukaan laut. Bahkan tamu dari pesisir sering menggigil ketika malam tiba. Ada yang sampai mencari selimut tambahan hanya karena angin sore berembus sedikit lebih kencang.
Lucunya, di tengah udara yang membuat kopi cepat dingin, kita malah ingin mendinginkan ruangan lagi. Ini namanya dingin dilawan dingin.
Kalau begini terus, jangan-jangan nanti kulkas juga dipasang AC agar es batu tidak kepanasan.
Awan Prado pasti punya solusi yang lebih sederhana.
Ia akan mengusulkan agar rapat DPRK dipindahkan ke bawah pohon pinus. Tidak perlu AC. Cukup angin Bur Kelieten sebagai kipas alam.
Kalau masih gerah, berarti yang panas bukan udaranya. Mungkin pembahasannya. Atau mungkin… kepalanya.
Sejak dulu orang Gayo punya filosofi yang unik. Rumah dibuat menghadap arah angin. Ventilasi diperbanyak. Jendela dibuka lebar. Alam dijadikan sahabat, bukan musuh.
Sekarang, pelan-pelan kita mulai curiga kepada alam. Angin dianggap kurang profesional. Kabut dianggap tidak memenuhi standar. Embun dianggap belum sesuai spesifikasi teknis. Maka dipanggillah AC sebagai penyelamat.
Yang lucu lagi, rakyat di luar gedung sering menunggu berjam-jam di udara yang sejuk. Begitu masuk ke ruang rapat, para wakilnya menikmati udara yang dibuat lebih dingin daripada udara di luar.
Ini seperti orang berenang di Danau Lut Tawar sambil membawa satu karung es batu. Tidak salah. Tetapi lucu.
“Kalau Tuhan sudah memberi gratis, jangan buru-buru beli yang sama,” kata Awan Prado pernah berkata kepada kami ketika kecil.
Dulu kami mengira ia sedang bicara soal ikan. Ternyata nasihat itu cocok juga untuk urusan AC.
Tentu, tidak ada yang melarang memasang pendingin ruangan apabila memang benar-benar diperlukan. Ada dokumen yang harus dijaga, ada peralatan elektronik yang membutuhkan suhu tertentu, atau ada pertimbangan teknis lainnya.
Tetapi sebelum membeli hawa dingin dengan uang rakyat, alangkah baiknya bertanya lebih dulu kepada hawa dingin yang sudah setiap hari berembus di Takengon.
Barangkali ia sedang tersinggung. Karena selama ribuan tahun telah bekerja tanpa listrik, tanpa kontraktor, tanpa tender, tanpa biaya perawatan. Kini, jasanya hendak digantikan oleh sebuah mesin.
Mungkin inilah satu-satunya kota yang penduduknya memakai jaket pada pagi hari, minum kopi panas sepanjang hari, menggigil ketika hujan turun, tetapi masih sempat memperdebatkan perlunya AC.
Kalau Awan Prado menulis notulen rapat itu, mungkin kesimpulannya hanya satu kalimat:
“Takengon ini sudah AC sejak Allah menciptakan Bur Kelieten. Tinggal manusianya saja yang kadang lupa menekan tombol syukur.”
Bersambung ke bagian 7…
(Mendale, Juli 24, 2026)






