Oleh : Fauzan Azima*
Di kampung kami, Jongok Kebayakan, orang pintar itu banyak. Namun, orang yang mampu mempermainkan pikiran orang lain sampai membuat korbannya tersenyum setelah sadar telah ditipu, jumlahnya sangat sedikit. Salah satunya adalah Awan Prado. Beliau bukan sekadar cerdik, tetapi seolah memiliki gelar profesor dari Universitas Akal Bulus.
Konon, suatu hari beliau berjalan kaki dari Rembele menuju Jongok Kebayakan. Sampai di kawasan Singahmata, entah karena lelah atau memang ingin menguji kepolosan masyarakat, beliau mendadak “mematikan dirinya”.
Tubuhnya terbujur kaku di pinggir jalan. Napas nyaris tak terlihat. Wajahnya begitu tenang hingga siapa pun yang melihat yakin bahwa perjalanan hidupnya telah usai.
Orang-orang yang melintas langsung bergotong royong mengangkat tubuh Awan Prado ke rumahnya. Kabar duka menyebar lebih cepat daripada kabar harga kopi naik. Rumahnya dipenuhi pelayat yang membawa beras, gula, kelapa, bahkan uang sekadarnya sebagai tanda empati.
Namun beberapa saat sebelum dimandikan, Awan Prado tiba-tiba membuka mata, bangkit, lalu bertanya dengan wajah polos, “Ramai sekali, ada apa?”
Sebagian pelayat menjerit. Sebagian lagi berlari tanpa sempat memakai sandal. Sementara Awan Prado hanya tersenyum. Perjalanan jauh selesai tanpa berjalan kaki, dan persediaan dapur pun aman untuk beberapa bulan.
Kisah itu memang lucu. Tetapi di balik kelucuannya tersimpan pelajaran tentang bagaimana persepsi dapat dikendalikan. Orang tidak tertipu karena tidak memiliki akal. Mereka tertipu karena terlalu cepat mempercayai kabar sebelum memastikan kebenarannya.
Pelajaran itulah yang terasa relevan ketika isu pergantian Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah berembus semakin kencang.
Di warung kopi, di ruang kantor, hingga di grup WhatsApp ASN, pembicaraan seolah hanya satu: siapa yang akan menjadi Sekda berikutnya.
Lucunya, keputusan resmi belum diumumkan, tetapi sebagian orang sudah berbicara seolah SK telah berada di tangan. Ada yang mengaku mendapat bocoran dari “orang dekat”.
Ada yang menyebut nama tertentu dengan penuh keyakinan. Ada pula yang mulai menghitung peluang, bukan berdasarkan prestasi, melainkan berdasarkan kedekatan dengan lingkaran kekuasaan.
Suasana birokrasi pun berubah. Fokus sebagian aparatur bergeser dari melayani masyarakat menjadi membaca arah angin politik.
Padahal, jabatan Sekretaris Daerah bukanlah sekadar kursi administrasi. Sekda adalah motor penggerak birokrasi, penghubung kepala daerah dengan seluruh perangkat pemerintahan, sekaligus penjaga kesinambungan administrasi. Karena itu, setiap pembicaraan tentang pergantian Sekda selalu mengundang perhatian besar.
Yang menjadi persoalan bukanlah ada atau tidak adanya pergantian. Kepala daerah memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi sesuai ketentuan perundang-undangan. Yang menjadi pertanyaan publik adalah: apakah proses itu dibangun di atas kebutuhan organisasi, atau justru dibiarkan menjadi panggung spekulasi yang melelahkan?
Ketika isu berkembang tanpa penjelasan, birokrasi kehilangan ketenangan. ASN mulai sibuk menafsirkan rumor. Ada yang memilih diam karena khawatir dianggap berada di kubu yang salah. Ada yang mendadak rajin menunjukkan loyalitas. Ada pula yang lebih sibuk menjaga hubungan dengan para pembisik daripada meningkatkan kualitas pelayanan.
Dalam situasi seperti itu, yang paling dirugikan bukan pejabat, melainkan masyarakat.
Rakyat Aceh Tengah tidak terlalu peduli siapa yang duduk di kursi Sekda. Yang mereka pedulikan adalah pelayanan yang cepat, jalan yang diperbaiki, air bersih yang mengalir, pupuk yang tersedia, dan birokrasi yang bekerja tanpa terganggu oleh kegaduhan politik internal.
Di sinilah Haili Yoga perlu belajar dari kisah Awan Prado.
Bukan belajar bagaimana membuat orang percaya kepada sebuah sandiwara, melainkan belajar bahwa sandiwara yang dibiarkan terlalu lama akan melahirkan ketidakpercayaan.
Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari keputusan yang diambil, tetapi juga dari cara ia mengelola proses menuju keputusan itu. Kepastian adalah bagian dari kepemimpinan. Ketika ruang informasi dibiarkan kosong, ruang itu akan segera diisi oleh rumor, bisik-bisik, dan para “Awan Prado” modern yang hidup dari spekulasi.
Kalau memang Sekda akan dievaluasi dan diganti, sampaikanlah prosesnya secara profesional, berdasarkan aturan, kompetensi, rekam jejak, dan kebutuhan organisasi. Jika belum ada keputusan, jangan biarkan birokrasi larut dalam cerita yang terus diproduksi dari meja ke meja.
Sebab birokrasi bukan panggung sulap. Jabatan Sekda bukan hadiah hiburan, bukan pula hasil adu cepat menyebarkan kabar.
Awan Prado berpura-pura mati untuk menghemat tenaga berjalan kaki. Itu menjadi legenda karena terjadi dalam cerita rakyat.
Namun dalam pemerintahan, kepura-puraan atau bahkan kesan adanya permainan persepsi, tidak akan melahirkan tawa. Yang lahir justru kegelisahan, prasangka, dan menurunnya kepercayaan terhadap proses pemerintahan.
Pada akhirnya, rakyat tidak akan mengingat siapa yang paling sering disebut dalam isu pergantian Sekda. Rakyat hanya akan mengingat satu hal: apakah pergantian itu benar-benar membuat pemerintahan bekerja lebih baik, atau sekadar menjadi cerita panjang yang menghabiskan energi birokrasi tanpa menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Bersambung ke bagian 3…
(Mendale, Juli 11, 2026)
Terkait : Haili Yoga Belajarlah dari Awan Prado, Bagian 1: Politik Membesarkan Kawan





