Ujian Transparansi dan Inovasi Reje Kampung di Puing Pasca Bencana

oleh

Oleh : Kurnianda, SH

Pelaksanaan pemilihan Reje Kampung (Kepala Desa) serentak di wilayah tengah Aceh baru saja usai dengan tertib.

Gejolak politik tingkat akar rumput telah melahirkan barisan pemimpin baru yang membawa sejuta harapan di pundak mereka. Namun, setelah euforia kemenangan dan jabat tangan selamat itu mereda, sebuah realitas yang amat berat langsung menghadang membayang – bayangi ruangan baru mereka, tantangan memimpin desa di era abad ke-21 yang tidak hanya menuntut transparansi, tetapi juga percepatan pemulihan ekonomi pascabencana di tengah himpitan mahalnya biaya produksi pertanian sangat menambah jeritan para petani.

Tantangan yang dihadapi oleh para Reje Kampung terpilih hari ini sudah jauh berbeda dengan era satu dekade lalu. Saat ini, kepemimpinan mereka langsung diuji oleh situasi darurat di sektor hulu pertanian, dikarenakan memang wilayah tengah memang mayoritas komoditi pertanian. Rentetan bencana alam yang melanda dataran tinggi Gayo belakangan ini telah meninggalkan luka mendalam bagi ruang hidup masyarakat desa. Kita melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana warga kehilangan tempat tinggal, serta hancurnya hektaran kebun kopi dan cabai akibat tertimbun material longsor dan amblasan tanah.

Penderitaan petani Gayo kian berlipat ganda karena di saat lahan mereka rusak, mereka juga harus berhadapan dengan kenyataan pahit: meroketnya harga pupuk dan obat-obatan pertanian di pasaran. Bagi masyarakat Gayo, hilangnya kebun kopi dan cabai, ditambah dengan cekikan harga sarana produksi pertanian (saprotan) yang mahal, adalah kombinasi sempurna yang melumpuhkan fondasi dapur serta masa depan keluarga. Petani yang ingin bangkit dan menanam kembali kini terbentur modal yang kian menipis karena biaya perawatan tanaman yang tidak masuk akal. Dimana Trauma pascabencana belum pulih, harga pupuk melonjak mahal malah datang lagi deretan isu rupiah yang melemah sehingga keperluan hidup mahal, anak tak lagi bersekolah.

Oleh karena itu, kucuran Dana Desa yang bernilai miliaran rupiah per tahun harus digeser prioritasnya secara berani dan transparan. Anggaran desa tidak boleh lagi habis untuk program rutinitas yang monoton atau pembangunan infrastruktur fisik pelengkap yang kurang berdampak langsung pada urusan perut warga yang sedang kesusahan.

Energi dan anggaran desa harus dialokasikan untuk memulihkan modal kerja petani yang terdampak, merenovasi rumah warga, serta membuka kembali akses logistik pertanian yang terputus. Mengingat masyarakat Gayo saat ini sudah semakin kritis dan melek media sosial, Reje terpilih harus berani membuka ruang seluas-luasnya bagi keterbukaan informasi. Setiap rupiah Dana Desa yang dialokasikan untuk subsidi atau bantuan pascabencana harus dipublikasikan secara mendetail agar tidak menimbulkan kecurigaan atau ketimpangan sosial di tingkat kampung.

Di sinilah kreatifitas dan inovasi Reje Kampung benar-benar diuji untuk memotong mata rantai mahalnya biaya pertanian. Pemimpin baru harus mampu mendorong optimalisasi Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk menjamin ketersediaan pupuk dan obat pertanian dengan harga yang lebih terjangkau bagi para petani melalui kerja sama langsung dengan distributor besar.

Reje juga harus mampu merangkul pemuda/pemudi desa dan menggunakan teknologi digital untuk mencari solusi alternatif, seperti memfasilitasi pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan cair berskala desa untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang mahal. Inovasi ini tidak hanya menyelamatkan dompet petani, tetapi juga mengembalikan kesuburan tanah Gayo dalam jangka panjang.

Menjadi Reje Kampung di era sekarang memang tidak mudah. Di satu sisi, mereka adalah pemangku adat yang harus menjaga kelestarian nilai-nilai luhur dan tatanan Sarak Opat.

Di sisi lain, mereka adalah manajer krisis modern yang harus adaptif, cepat tanggap, dan transparan dalam mengurai benang kusut ekonomi warga yang terjepit di antara puing bencana dan mahalnya harga pupuk.

Selamat bertugas kepada para Reje Kampung terpilih di Tanah Gayo. Pesta demokrasi tingkat desa telah selesai. Kini saatnya membuktikan bahwa kepercayaan mahal yang diberikan oleh warga di bilik suara dibayar tuntas dengan kerja nyata, kerja keras, kerja cerdas serta transparansi, dan komitmen penuh untuk membangun kembali kampung halaman yang lebih tangguh. []

*Warga Bener Meriah

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.