Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Bila kita menghitung sejarah kehidupan manusia semenjak Nabi Adam sampai kepada masa sekarang ini, sudah berumur selama 7.000 sampai kepada 8.000 tahun lamanya.
Dalam perspektif lain, ada para ahli yang mengatakan bahwa manusia itu semenjak awal adanya sampai hari ini sudah berumur selama 300.000 tahun. Perbedaan pendapat ini mungkin tidak kita butuhkan dalam kajian ini.
Dalam kajian ini, kita ingin melihat bahwasanya manusia itu semenjak adanya, atau semenjak Adam diturunkan ke bumi ini, atau yang disebut dengan masa prasejarah, mereka berjuang dalam mempertahankan hidup mereka.
Terkadang mereka harus berperang sesama mereka.
Terkadang mereka harus menghadapi binatang-binatang buas untuk mencari makan demi mempertahankan hidup.
Juga, manusia itu terkadang harus berhadapan dengan kerasnya alam, baik itu karena hidup di kutub yang mengharuskan mereka berjuang bertahan dari salju, atau juga dari panas dan teriknya matahari.
Yang jelas, sejarah kehidupan manusia itu sangat membutuhkan kekuatan fisik. Bila kekuatan fisik itu tidak dimiliki oleh manusia, maka manusia itu tidak akan bisa bertahan hidup dalam waktu yang panjang.
Sebenarnya tidak hanya manusia yang membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga hewan yang hidup di dunia ini. Semuanya memerlukan kekuatan fisik untuk berjuang dan mempertahankan kehidupan mereka Hanya saja, menurut penelitian ahli sejarah, manusia karena memiliki akal, terkadang kuatnya fisik mereka tidak sepadan dengan kuatnya fisik hewan atau binatang buas.
Sehingga manusia dengan menggunakan akal dan pikirannya, bisa mengalahkan atau menaklukkan binatang-binatang buas. Boleh jadi binatang buas yang pada masa awal prasejarah sebesar atau berbentuk dinosaurus, namun manusia tetap dengan akalnya bisa mengalahkan binatang-binatang buas tersebut.
Sehingga bisa kita pahami bahwa kuatnya fisik yang dimiliki oleh seseorang, yang melebihi kuatnya fisik dari orang lain, maka dia akan dijadikan sebagai orang yang memimpin atau menguasai orang-orang yang tidak mempunyai kekuatan fisik. Jadi, kebutuhan kekuatan fisik itu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia pada masa awalnya.
Mungkin bisa kita katakan, bila dihadapkan kepada sesama manusia, maka kekuatan fisik itu merupakan modal yang paling awal dibanding dengan kekuatan atau kemampuan berpikir di kalangan manusia itu sendiri.
Berbeda ketika manusia itu dihadapkan dengan hewan. Sebuas apa pun binatang yang ada, bila dihadapkan dengan manusia, hewan tersebut akan kalah karena karunia akal yang diberikan kepada manusia itu melebihi daripada makhluk atau binatang-binatang yang ada di sekitar manusia.
Pada masa prasejarah atau masa-masa selanjutnya, keadaan yang seperti ini tentu berlangsung lama, mungkin dalam hitungan ribuan tahun.
Karena manusia itu diawali dengan masa yang disebut dengan masa berburu, kemudian masa mengumpulkan makanan, dan seterusnya. Setelah itu, baru manusia menjadi makhluk yang menetap di satu tempat, lalu menciptakan atau membuka lahan untuk bertani.
Semenjak itulah manusia dianggap sebagai makhluk yang hidup dalam lingkungan agraris, atau mereka yang memenuhi kebutuhannya, di samping berburu, juga sebagai manusia yang berprofesi sebagai petani. Ketika masyarakat ini menjadi masyarakat agraris, kekuatan fisik masih tetap diperlukan.
Bila kita membaca sejarah manusia, maka mereka-mereka yang pergi untuk berburu adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan fisik. Hal ini identik dengan kaum laki-laki. Demikian juga ketika mereka memperluas lahan pertanian.
Dalam hal ini, mereka tetap menggunakan kekuatan fisik karena harus menaklukkan alam dan menebang pohon-pohon yang sangat besar. Sehingga kekuatan fisik itu tetap menjadi kebutuhan yang paling awal.
Peran akal atau pikiran tetap dibutuhkan oleh manusia semenjak manusia itu ada.
Akal atau pikiran itu tetap melekat pada diri manusia itu sendiri. Namun, bila kita lihat dari perkembangannya, peran akal itu menjadi posisi nomor dua karena posisi kekuatan fisik menjadi yang paling utama.
Selanjutnya, ketika masyarakat sudah memulai mengandalkan kekuatan pikiran dan kecerdasan, maka kehidupan manusia tidak lagi bertumpu pada kekuatan fisik, tetapi lebih kepada menggunakan kekuatan atau kecerdasan untuk berpikir.
Dalam kondisi yang seperti ini, bila kita pahami, maka peran mereka yang mempunyai kekuatan fisik sudah menjadi nomor dua, sedangkan yang dikedepankan adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan yang sangat tinggi.
Semakin mereka cerdas, maka mereka semakin bisa menguasai atau menaklukkan alam. Bahkan, mereka yang cerdas dapat menaklukkan manusia-manusia yang lainnya.
Namun, tetap dalam kondisi mereka yang mengutamakan kecerdasan, orang-orang yang mempunyai kekuatan fisik tetap mempunyai posisi dalam kehidupan mereka.
Karena secerdas apa pun manusia itu, kekuatan fisik tetap dibutuhkan, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk memenuhi kepentingan kekuasaan, kepemimpinan, atau bagaimana upaya mereka menguasai orang lain dan alam itu sendiri.
Kemudian, sekitar abad ke-18 dan ke-19, sebagaimana kita membaca sejarah kemajuan manusia itu sendiri, mulai abad ini manusia sudah beralih dari kekuatan fisik dan kekuatan kecerdasan menuju kekuatan teknologi. Masa ini disebut dengan masa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Dalam kondisi yang demikian, orang-orang yang mempunyai kekuatan fisik hampir tidak lagi digunakan atau keberadaannya tidak terlalu diakui. Namun, kemampuan kecerdasan sangat dibutuhkan dalam menggunakan dan mengelola teknologi serta ilmu pengetahuan.
Masa ini juga berlangsung sangat lama, bahkan sampai tahun 2000-an dan dapat dikatakan berlanjut hingga tahun 2020-an.
Selanjutnya, kecerdasan yang dimiliki oleh manusia mempunyai keterbatasan.
Karena itu lahirlah yang disebut dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence), yaitu bagaimana kecerdasan itu dibuat sehingga teknologi terkadang mampu melebihi kecerdasan manusia itu sendiri.
Dalam masa kecerdasan buatan ini, manusia tidak lagi selalu memerlukan kecerdasan sebagaimana sebelumnya. Mereka yang mempunyai keahlian atau skill dalam menggunakan teknologi terkadang lebih cepat mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan dibanding dengan mereka yang hanya memiliki kecerdasan dalam berpikir.
Sehingga masa ini bisa kita sebut dengan masa teknologi, atau juga disebut dengan masa digital, yaitu bagaimana pengaruh digit atau angka-angka dalam mengelola teknologi yang dimiliki oleh manusia. Karena itu, generasi ini kita sebut dengan generasi jemari.
Artinya, semua teknologi itu berada pada tombol-tombol yang dimiliki oleh komputer dan perangkat digital. Kemampuan menekan tombol itu ada pada jemari yang dimiliki oleh manusia.
Karena itulah digunakan istilah jemari atau digit yang berkaitan dengan angka-angka, yaitu dari angka 0 sampai angka 9.
Dalam masa generasi jemari pada saat ini, manusia mulai kembali memusatkan kemampuannya. Dahulu kemampuan itu berada pada tingkatan kekuatan fisik, kemudian berpindah kepada kekuatan kecerdasan atau kemampuan berpikir. Selanjutnya, bagaimana mereka menggunakan akal atau pikiran dalam mengelola teknologi untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tujuan hidup mereka.
Namun kini keadaan sudah mulai berubah. Walaupun menurut sebagian orang hal ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, dalam realitasnya banyak teknologi yang kecerdasannya melebihi kemampuan orang yang menggunakannya.
Akibatnya, kemampuan manusia sangat bertumpu pada kemampuan jemari mereka dalam menekan tombol-tombol teknologi.
Bila kita memperhatikan keutamaan manusia, apakah mereka yang mempunyai kekuatan fisik yang identik dengan kaum laki-laki, atau mereka yang mempunyai kekuatan fisik yang relatif lebih rendah yang identik dengan perempuan, demikian juga halnya ketika berbicara pada tingkatan kecerdasan otak.
Banyak para ulama dalam menafsirkan Al-Qur’an mengatakan bahwa perempuan memiliki tingkat kecerdasan yang berada di bawah kemampuan laki-laki.
Namun, dalam kondisi atau era yang disebut dengan era digital, atau yang dalam tulisan ini disebut dengan generasi jemari, kita tidak lagi mampu mengatakan bahwa laki-laki lebih mampu menggunakan jemarinya daripada perempuan.
Sebagai contoh, kita melihat di mana-mana alat-alat yang menggunakan tombol atau jemari sebagai sarana utama. Banyak kaum perempuan yang bekerja dalam bidang tersebut dan tidak lagi dibatasi oleh dominasi kaum laki-laki.
Sehingga kita bisa mengatakan bahwa dalam generasi jemari tidak lagi dikenal adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menggunakan jemari untuk memenuhi kebutuhan digital maupun kebutuhan hidup mereka. []






