Oleh : Fauzan Azima*
Ada satu falsafah hidup yang diam-diam menjadi pegangan sebagian lelaki: tampak biasa saja di luar, tapi “bertenaga dalam” di rumah. Bukan karena dirinya sakti, melainkan karena menikah dengan seseorang yang katanya punya “akses khusus” ke hal-hal tak kasatmata. Maka lahirlah ungkapan legendaris itu: kite gere mudowa, tapi pake umahni ari Blang.
Dulu, Blangkejeren bukan sekadar nama daerah. Ia semacam “merk dagang” untuk hal-hal yang bikin orang lain mikir dua kali sebelum macam-macam. Seperti stiker “awas anjing galak” di pagar, meskipun yang punya rumah sebenarnya cuma pelihara kucing kurus. Efek psikologisnya tetap jalan.
Lucunya, banyak yang menikmati status ini tanpa benar-benar paham apa yang sedang mereka wakili. Di warung kopi, gaya bicara mendadak berubah. Tatapan dibuat dalam, kalimat dipilih pelan-pelan, seolah tiap kata punya getaran gaib. Padahal di rumah, yang gaib itu justru suara istri yang memanggil: “Beli cabai dulu sebelum pulang!”
Fenomena ini menarik. Kita seperti menemukan jalan pintas untuk terlihat “berisi” tanpa harus mengisi diri. Tidak perlu belajar ilmu apa pun, cukup menikah dengan “label tertentu,” maka wibawa pun otomatis terinstal. Ini semacam upgrade sosial tanpa perlu update diri.
Padahal kalau dipikir-pikir, ini bukan soal mistik. Ini soal persepsi. Kita hidup di masyarakat yang masih menghargai aura, simbol, dan cerita. Jadi selama narasinya kuat, realitas bisa sedikit ditawar. Yang penting orang percaya dulu, urusan benar atau tidak, itu nanti saja.
Masalahnya muncul ketika “pinjaman wibawa” ini mulai dipakai untuk hal-hal yang lebih serius. Dari sekadar gaya di warung kopi, naik kelas jadi alat untuk menekan orang lain, memengaruhi keputusan, bahkan menghindari kritik. Di titik ini, kita tidak lagi sedang bercanda dengan tradisi, tapi sedang memanfaatkannya.
Padahal, kalau jujur, kekuatan paling nyata dalam rumah tangga bukanlah hal gaib, melainkan komunikasi yang jujur dan saling menghargai.
Bukan soal dari mana pasangan berasal, tapi bagaimana kita saling membangun. Mau dari Blangkejeren, Lut Tawar, atau ujung dunia sekalipun, kalau tidak ada saling pengertian, yang ada justru “ilmu sabar tingkat tinggi.”
Akhirnya, ungkapan kite gere mudowa, tapi pake umahni ari Blang seharusnya kita baca sebagai humor sosial, bukan strategi hidup. Ia lucu karena menyentil kecenderungan kita untuk mencari jalan pintas dalam mendapatkan wibawa. Ia menggelitik karena kita tahu, sedikit banyak, kita pernah atau sedang ada di posisi itu.
Jadi, kalau hari ini masih ada yang mengandalkan “label pasangan” untuk terlihat hebat, mungkin sudah waktunya upgrade. Bukan upgrade cerita, tapi upgrade diri. Karena pada akhirnya, yang paling ditakuti bukanlah yang punya cerita mistik, tapi yang punya integritas, meski tanpa embel-embel apa pun.
Bersambung ke bagian 7…
(Mendale, April 23, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 5: Lima Ujian yang Membongkar Watak Asli Manusia






