Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 30: Ramalan yang Menakjubkan (Pasal Penutup)

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di sebuah warung kopi yang asap rokoknya lebih tebal daripada keyakinan pejabat menjelang audit, seorang peramal tua membuka kitab kusam bernama Nasib Para Penguasa Daerah. Ia menatap langit, menyeruput kopi tanpa gula, lalu berkata pelan, “Aku melihat seseorang bernama Haili Yoga sedang berdiri di persimpangan.”

Orang-orang langsung mendekat. Sebab di negeri ini, ramalan lebih dipercaya daripada laporan evaluasi.

“Di depannya ada dua jalan,” lanjut sang peramal. “Jalan pertama dipenuhi tepuk tangan, pujian staf, baliho senyum, dan pidato penuh janji. Jalan kedua sepi, berbatu, penuh kritik, namun di ujungnya ada kehormatan.”

“Lalu dia pilih yang mana?” tanya seorang pemuda.

Sang peramal menutup mata. “Sebentar… aku sedang melihat lebih jelas… ah iya… dia malah sibuk foto-foto di tengah persimpangan.”

Warung kopi pun hening.

Ramalan belum selesai.

Peramal itu kembali membuka kitabnya. “Aku juga melihat bahaya besar. Jika seseorang terlalu lama dikelilingi orang yang hanya pandai berkata ‘siap laksanakan’, maka telinganya akan alergi terhadap kejujuran. Ia akan mengira pujian adalah data, sanjungan adalah fakta, dan kritik adalah makar.”

Seorang bapak-bapak mengangguk pelan. Ini terdengar seperti banyak kantor pemerintahan.

“Namun,” kata sang peramal sambil mengangkat jari telunjuk, “masih ada harapan. Sebab masa depan belum ditentukan oleh ramalan, melainkan oleh keberanian bercermin.”

“Bercermin bagaimana?” tanya seorang ibu penjual gorengan.

“Bercermin untuk melihat apakah kursi kekuasaan sudah dipakai bekerja, atau hanya dipakai duduk merasa penting.”

Beberapa orang tersedak kopi.

Sang peramal lalu menyampaikan nubuat terakhir, yang katanya paling menakjubkan.

“Akan datang masa ketika rakyat tidak lagi silau oleh spanduk besar, slogan manis, atau pencitraan heroik saat hujan. Mereka hanya akan bertanya sederhana: siapa yang benar-benar bekerja?”

Kini seluruh warung diam total. Bahkan sendok kopi seperti kehilangan bunyi.

Peramal menutup kitabnya perlahan.

“Kalau Haili Yoga mengerti pesan ini,” katanya sambil berdiri, “maka ramalan buruk bisa berubah menjadi sejarah baik.”

“Kalau tidak?” tanya si pemuda lagi.

Sang peramal tersenyum tipis.

“Ya paling nanti diramal lagi, episode berikutnya.”

Tamat

(Mendale, April 9, 2026)

Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 29: Jangan Pernah Katakan, “Kehilangan Satu Wanita Bukan Kiamat”

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.