Oleh : Fauzan Azima*
Di tanah dingin yang dipeluk kabut pagi di tepian Danau Lut Tawar, kisah lama berdenyut pelan, seperti riak air yang tak pernah benar-benar diam, menyimpan jejak waktu, memanggil ingatan kolektif, dan menuntut tafsir yang tak pernah benar-benar usai.
Di Kampung Nosar, masyarakat menuturkan legenda tentang Muyang Perupi, seorang tokoh yang diyakini berasal dari Negeri Rum di ufuk Barat, kini dikenal sebagai Turki, sosok yang melampaui batas manusia biasa, menjadi simpul antara sejarah panjang, mitos yang hidup, dan keyakinan spiritual masyarakat.
Kelahiran Muyang Perupi menyimpan tanda ganjil yang sulit dinalar. Tali pusatnya menjelma seekor ular, dipisahkan lalu disimpan dalam periuk ukuran sedang, orang Gayo menyebutnya; kuren senere. Keajaiban berlanjut ketika ular itu membesar, setia menyertai hidupnya, dinamai Gempulo, simbol hubungan darah, alam, dan takdir yang menyatu.
Waktu mengantar Muyang Perupi menjadi sosok alim dan bijaksana. Bersama tujuh ulama yang dikenal sebagai Muyang Pitu, ia mengemban tugas menyebarkan ajaran Islam ke seluruh Aceh, menanamkan tauhid, mengikis animisme, dan perlahan mengubah arah sejarah spiritual masyarakat setempat.
Di Ujung Gempulo, daratan menyerupai pulau, kisah persaudaraan menemukan ruang hidupnya. Gempulo berjemur di tepian, gua di selatan menjadi tempat berteduh, sementara batu besar menghadap kiblat di tengah danau menjadi saksi ibadah yang hingga kini terus diziarahi masyarakat.
Namun sejarah tidak selalu berjalan lurus dalam cahaya. Dari Kota Raja datang kabar kecemasan tentang Ule Berang, ular ganas yang mengusik ketenteraman.
Permintaan bantuan diajukan, dan Muyang Perupi bersama Gempulo menjawab panggilan itu, menyusuri Sungai Peusangan menuju takdir yang belum mereka ketahui.
Di ambang pertempuran, Muyang Perupi berhenti menunaikan salat ashar. Ia mengalungkan kain putih ke leher Gempulo sebagai tanda dan mungkin perlindungan. Gempulo melanjutkan perjalanan sendiri, hingga akhirnya bertemu Ule Berang dalam pertarungan sengit yang menentukan.
Pertarungan berlangsung keras dan panjang. Gempulo akhirnya berhasil mengalahkan Ule Berang, menumbangkan ancaman yang meresahkan.
Namun kain putih yang kini berlumur darah justru menjadi sumber kesalahpahaman, mengaburkan kenyataan, dan mengubah kemenangan menjadi awal dari tragedi yang tak terduga.
Pasukan Kota Raja yang datang melihat sosok berdarah itu sebagai ancaman. Tanpa memastikan kebenaran, meriam ditembakkan. Gempulo roboh seketika, menghembuskan napas terakhirnya di tanah yang kini dikenal sebagai Ulhelhe, meninggalkan luka yang tak hanya bersifat pribadi, tetapi juga historis.
Ketika Muyang Perupi tiba, yang tersisa hanyalah sunyi. Tangisnya pecah, meratapi kehilangan saudara lahir dan kesalahan yang tak dapat diperbaiki. Pimpinan Kota Raja menyesal, namun waktu tidak memberi ruang untuk mengulang, dan sejarah tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Sejak peristiwa itu, Muyang Perupi melanjutkan dakwahnya ke berbagai wilayah, dari pedalaman hingga pesisir Aceh, bahkan sampai ke Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai Muyang Setie, bergelar Syah Utama, meninggalkan warisan spiritual yang terus hidup dalam keturunannya.
Namun satu pertanyaan tetap menggantung di balik kabut Lut Tawar. Benarkah kematian Gempulo hanya karena salah paham, atau ada maksud tersembunyi yang tak terungkap, sebuah konspirasi yang sengaja dikaburkan, menunggu waktu untuk dibaca ulang oleh generasi berikutnya.
Sebab terkadang, yang membunuh bukanlah senjata atau kekuatan, melainkan ketergesaan dalam menilai, ketakutan yang membutakan, dan kegagalan manusia mengenali kebenaran di balik rupa yang berubah, menjadikan tragedi sebagai pelajaran yang terus berulang dalam sejarah kehidupan.
Bersambung ke pasal 26…
(Mendale, April 7, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 24: Antara Loyalitas dan Kepengecutan






