Oleh : Fauzan Azima*
Di sebuah negeri yang makmur oleh kata-kata, berdirilah Pendopo sebagai panggung utama sandiwara kebijakan. Di sanalah berkumpul para “orang pintar” yang konon lulus dengan nilai cumlaude, tetapi mendadak amnesia saat nurani diminta berbicara.
Sembilan puluh lima persen dari mereka adalah ahli dalam satu cabang ilmu: mengangguk. Mereka mengangguk dengan ritme yang indah, seperti padi tertiup angin, hanya saja padi punya isi, sementara anggukan ini sering kali kosong dari makna.
Ketika sang pemimpin berbicara, bahkan ide yang melompat lebih tinggi dari logika pun disambut tepuk tangan meriah. Tak penting apakah rencana itu bisa dijalankan, yang penting suara tepuknya kompak dan wajahnya tampak yakin.
Tak ada yang berani berkata “tidak”. Kata itu seolah haram, seperti makanan basi yang disajikan di pesta resmi, semua tahu rasanya, tapi tak ada yang berani menolak. Mereka memilih menelan, lalu tersenyum, sambil berharap tidak keracunan.
Ironisnya, inovasi pun mati sebelum lahir. Bukan karena tak ada ide, tetapi karena ide-ide itu dikurung dalam kepala yang takut kehilangan kursi. Di negeri ini, jabatan lebih mahal dari kejujuran, dan keberanian sering dianggap penyakit.
Namun sandiwara belum selesai. Begitu pintu Pendopo tertutup, para pengangguk berubah menjadi komentator handal. Di meja kopi, lidah yang tadi kaku mendadak lincah, menguliti setiap kata sang pemimpin dengan tawa yang tak lagi ditahan.
Di sanalah keberanian menemukan panggungnya, bukan di ruang rapat, melainkan di antara cangkir kopi dan asap rokok. Kritik yang seharusnya membangun, berubah menjadi hiburan ringan yang cepat menguap bersama uap panas minuman.
Beginilah wajah loyalitas yang kebablasan: setia di depan, sinis di belakang. Sebuah bentuk kepengecutan yang dibungkus rapi dengan jas dan dasi, lengkap dengan senyum profesional yang sulit dibedakan dari ketulusan.
Maka, wahai yang duduk di kursi empuk Pendopo, ingatlah satu hal sederhana: keberanian berkata jujur mungkin membuat suasana menjadi tidak nyaman, tetapi justru itulah satu-satunya jalan agar negeri ini tidak terus dipimpin oleh tepuk tangan kosong.
Bersambung ke pasal 25…
(Mendale, April 7, 2026)
Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 23: Bukan Waktunya Bicara dari Hati ke Hati





