Petuah untuk Haili Yoga, Pasal ke-11: Saat Rakyat Diam, Itu Bukan Berarti Mereka Puas

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Takengon hari ini bukan hanya tentang dinginnya udara pegunungan dan indahnya Danau Lut Tawar. Ia juga tentang bau yang pelan-pelan mengalahkan harum kopi Gayo, bau sampah yang tak lagi bisa disembunyikan di sudut kota dan permukiman warga sehari-hari.

Diamnya rakyat sering disalahartikan sebagai tanda penerimaan yang tulus. Padahal, dalam banyak peristiwa, diam justru lahir dari rasa lelah yang panjang. Masyarakat melihat, mencium, dan merasakan sendiri bagaimana persoalan sampah terus berulang tanpa penyelesaian yang benar-benar menyentuh akar masalah yang ada.

Sampah yang menumpuk bukan sekadar urusan kebersihan semata. Ia adalah cermin rapuhnya tata kelola kota. Ketika pengangkutan tidak terjadwal, fasilitas terbatas, dan solusi bersifat sementara, maka yang terjadi adalah pembiaran yang perlahan berubah menjadi kebiasaan yang berbahaya bagi lingkungan masyarakat.

Haili Yoga perlu memahami bahwa rakyat tidak menuntut janji besar yang sulit diwujudkan. Mereka hanya menginginkan hal sederhana: kota yang bersih, udara yang layak dihirup, dan lingkungan yang tidak dipenuhi bau busuk akibat sampah yang dibiarkan berhari-hari tanpa penanganan yang jelas.

Ironisnya, di tengah narasi pembangunan yang kerap digaungkan, persoalan sampah justru seperti kehilangan perhatian. Seolah-olah ia bukan prioritas penting. Padahal, dari urusan sederhana inilah publik menilai kesungguhan seorang pemimpin, bukan dari pidato panjang atau baliho yang memenuhi sudut kota setiap saat.

Jika hari ini rakyat masih memilih diam, itu bukan berarti mereka puas. Bisa jadi mereka sedang menunggu perubahan yang dijanjikan. Namun, jika harapan itu terus diabaikan, diam akan berubah menjadi kekecewaan yang perlahan menggerus kepercayaan terhadap kepemimpinan yang seharusnya hadir untuk melayani.

Pasal ini adalah pengingat keras bahwa kepemimpinan tidak runtuh secara tiba-tiba. Ia hancur perlahan karena hal-hal kecil yang diabaikan. Sampah adalah salah satunya. Jika terus dibiarkan, bukan hanya kota yang kotor, tetapi juga kepercayaan publik yang ikut membusuk tanpa terasa.

Bersambung ke pasal ke-12…

(Mendale, Maret 24, 2026)

Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal ke-10 : Jadilah Ksatria, Bukan Penikmat Tidur Siang

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.