Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Bulan Ramadhan merupakan penghulu dari seluruh bulan. Pada bulan ini, Alqur’an diturunkan menjadi petunjuk bagi manusia dan bagi orang-orang yang bertaqwa. Alqur’an merupakan pegangan untuk kehidupan sehari-hari, baik untuk beribadah, bermuamalah, berkeluarga, ataupun yang berhubungan dengan masalah kejahatan dalam kehidupan manusia.
Ditambah lagi, Alqur’an merupakan lahan atau dasar dari ketauhidan yang mengajarkan kepada manusia tentang keesaan Allah. Alqur’an juga merupakan pegangan bagi orang-orang yang beriman, karena dari Alqur’anlah kita tahu tentang keberadaan Allah SWT, tentang keberadaan malaikat-malaikat Allah serta tugas mereka masing-masing.
Dari Alqur’an juga kita meyakini keberadaan kitab-kitab suci selain dari Alqur’an itu sendiri, sehingga kebenaran kitab suci selain dari Alqur’an juga mesti kita imani. Dari Alqur’an juga kita tahu bahwa Rasulullah adalah orang yang dijadikan sebagai suri tauladan, sebagai panutan yang mengajarkan kita dan mengajak kita untuk kesejahteraan hidup di dunia ini dan di akhirat kelak.
Melalui Alqur’an kita diajarkan berkeyakinan bahwa kehidupan ini tidaklah selesai dengan kematian atau selesainya kehidupan di dunia ini, tetapi lebih dari itu. Melalui Alqur’an, kita tahu bahwa masih ada kehidupan di akhirat kelak yang merupakan hasil pertanggungjawaban amal dari kehidupan kita di dunia ini.
Terakhir, kita harus meyakini bahwa usaha dan pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan di dunia ini tidaklah seharusnya atau tidak harus selalu mendapatkan keuntungan, tetapi di balik keuntungan itu terkadang dibarengi dengan kerugian.
Untuk itu, qadha dan qadar Allah diberikan kepada orang-orang yang beriman, sehingga memahami bahwa untung itu datangnya dari Allah, juga demikian dengan rugi.
Bulan Ramadhan sudah sebulan membersamai kita dalam keseharian, baik siang ataupun malam. Bulan Ramadhan dijadikan oleh Allah SWT sebagai fasilitas istimewa, yang di dalamnya manusia diberikan ganjaran pahala yang berlipat ganda, sehingga jumlah pahala yang diterima oleh manusia tidak bisa diketahui oleh manusia itu sendiri.
Hal ini dinyatakan oleh Allah melalui hadis Nabi SAW, bahwa pahala puasa atau pahala perbuatan-perbuatan yang ada di dalam bulan puasa itu merupakan kewenangan Allah untuk memberikannya.
Kita percaya bahwa semua kita telah berupaya berbuat semampu kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan, baik kebaikan itu kepada Allah SWT atau kebaikan kita sesama manusia, atau kebaikan kita dengan alam sekitar.
Untuk aktivitas ini, kita bisa pastikan bahwa Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya, tidak pernah mengingkari apa yang pernah difirmankan, sehingga kita yakin bahwa sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan dalam bulan puasa, maka ganjaran tetap diberikan oleh Allah SWT.
Untuk ini, kita harus percaya dan optimis terhadap apa yang kita lakukan.
Karena sayangnya Allah kepada manusia, dan Allah tidak menginginkan kalau nanti suatu saat manusia meninggalkan dunia dan menuju alam barzah, padang mahsyar, dan hari kiamat dalam keadaan berdosa, karena dosa dari semua pekerjaan salah yang kita lakukan dan dosa dari ibadah-ibadah yang kita tinggalkan itu sangat dahsyat dalam perhitungan Allah. Manusia itu tidak akan sanggup untuk menahannya.
Karena itu, Allah menegaskan dalam Alqur’an dengan firman-Nya bahwa azab Allah itu adalah azab yang sangat pedih.
Allah memberikan fasilitas yang istimewa, yang luar biasa, yang tiada tandingannya, yaitu Allah menurunkan pada bulan Ramadhan malam Lailatul Qadar. Malam ini merupakan rahasia Allah, tidak tampak secara zahir kepada manusia bagaimana proses dan terjadinya malam Lailatul Qadar itu.
Yang jelas, Allah katakan bahwa ada satu malam di antara malam-malam bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar, di mana nilai dari malam ini lebih baik dari 1000 bulan, atau bisa kita konversikan dengan waktu sekitar 83 tahun lebih.
Ini tentu merupakan kasih sayang Allah kepada manusia, dan kita yakin semua yang beriman, semua orang yang muslim, mendapatkan malam Lailatul Qadar ini dengan jumlah dan kualitas ibadah yang mereka lakukan. Tentu kita yakin bahwa pahala yang kita dapatkan pada malam Lailatul Qadar tidaklah sama di antara kita. Boleh jadi ada yang mendapatkan nilai maksimal 1000 bulan lebih, atau ada yang mendapatkan minimal sebagai ganjaran ibadah yang juga sedikit mereka lakukan.
Malam ini adalah malam terakhir bulan Ramadhan. Insya Allah, esok hari bulan Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Seharusnyalah pada malam ini kita merenung, mengevaluasi tentang aktivitas amal ibadah yang kita lakukan, apakah kita telah melakukan ibadah secara maksimal, atau kita hanya melakukan perbuatan ibadah sebagaimana rutinitas pada bulan-bulan yang lain.
Dari renungan kita, kita dapat simpulkan sesuai dengan apa yang kita lakukan, sehingga kita bisa mengatakan: masihkah bulan Ramadhan tahun depan bersama kita? Tentu bulan Ramadhan itu setiap tahunnya ada, namun karena kebaharuan usia kita, mungkin kita tidak sampai pada bulan Ramadhan yang akan datang.
Karena itu, tentu bulan Ramadhan ini bukanlah merupakan penutup selesainya amalan. Allah berharap di dalam Alqur’an, setelah selesainya pelaksanaan puasa pada bulan Ramadhan menjadikan kita sebagai orang yang bertaqwa, artinya orang yang selalu patuh dan taat dalam melaksanakan perintah Allah, dan kita enggan, takut, dan tidak mau melaksanakan larangan-larangan Allah.
Demikianlah, mudah-mudahan perpisahan kita dengan bulan Ramadhan menjadikan kita adalah orang yang menang, orang yang mendapat pahala yang sebanyak-banyaknya dari sisi Allah SWT.
Amin ya Rabbal ‘alamin.





