Fitrah yang Diucapkan, Dosa yang Diulang : Membongkar Ilusi Kesucian di Hari Raya

oleh

Oleh : Dr. Zakiul Fuady Muhammad Daud, Lc, MA (Dosen IAIN Takengon)

Takbir berkumandang, tangan saling bersalaman, dan kalimat yang paling sering terdengar di hari raya adalah:  mohon maaf lahir dan batin, semoga kita kembali fitrah. Kalimat ini begitu akrab, begitu hangat, dan terasa begitu benar.

Namun justru di titik inilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: benarkah kita telah kembali kepada fitrah, atau hanya merasa demikian tanpa benar-benar menjalaninya?

Istilah fitrah dalam masyarakat sering dipahami secara sederhana: selesai Ramadhan berarti dosa telah dihapus, dan manusia kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Pemahaman ini terdengar indah, tetapi dalam perspektif ilmiah—baik dalam Al-Qur’an, hadis, maupun penjelasan para ulama—ia tidak sesederhana itu. Fitrah bukanlah status otomatis yang datang begitu saja setiap kali Ramadhan berakhir.

Ia adalah kondisi asal manusia yang suci, tetapi kesucian itu harus diperjuangkan, dijaga, dan dipertahankan dengan amal.

Allah ﷻ berfirman:
*فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا*
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurutnya.” (QS. Ar-Rum: 30)

Ayat ini tidak berbicara tentang momen sesaat, tetapi tentang _keadaan dasar manusia_ yang harus dijaga sepanjang hidup. Fitrah bukan hadiah instan di hari raya, melainkan amanah yang harus dirawat setelah Ramadhan berakhir.

Ramadhan sendiri, dalam kerangka ini, bukan sekadar bulan ibadah, tetapi proses tazkiyah—proses penyucian jiwa. Selama sebulan penuh, manusia dilatih untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan mendekat kepada Allah. Ia seperti bengkel spiritual tempat hati diperbaiki dan jiwa dibersihkan.

Namun pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah bagaimana kita menjalani Ramadhan, tetapi apa yang terjadi setelahnya. Di sinilah letak ironi yang sering tidak disadari. Masjid yang penuh selama Ramadhan mendadak lengang setelah hari raya. Al-Qur’an yang setiap hari dibaca kembali tersimpan rapi di rak.

Qiyamullail yang dahulu terasa ringan tiba-tiba menjadi berat. Seolah-olah Ramadhan adalah puncak, dan Syawal adalah titik turun.

Padahal secara spiritual, Syawal justru seharusnya menjadi titik ujian: apakah penyucian itu bertahan atau justru menguap begitu saja. Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan hal ini dengan sangat tajam. Diriwayatkan dari sebagian salaf:

> *ليس العيد لمن لبس الجديد، إنما العيد لمن طاعته تزيد*
“Bukanlah hari raya itu bagi yang mengenakan pakaian baru, tetapi bagi mereka yang ketaatannya bertambah.”

Perkataan ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi kritik keras terhadap cara manusia memahami hari raya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali kepada kebiasaan lamanya—lalai dalam shalat, ringan dalam dosa, jauh dari Al-Qur’an—maka di mana letak “kemenangan” yang selama ini dirayakan?

Rasulullah ﷺ bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas:
> “Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menghancurkan satu asumsi besar yang sering hidup di tengah masyarakat: bahwa setiap orang pasti keluar dari Ramadhan dalam keadaan suci. Tidak. Tidak semua orang diampuni. Tidak semua orang kembali kepada fitrah. Ada yang hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak mendapatkan perubahan apa-apa dalam jiwanya.

Dalam sejarah, para sahabat justru menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan kebanyakan kita hari ini. Mereka tidak sibuk merayakan kemenangan, tetapi justru diliputi rasa cemas: apakah ibadah mereka selama Ramadhan diterima oleh Allah atau tidak.

Diriwayatkan bahwa mereka berdoa selama enam bulan setelah Ramadhan agar amal mereka diterima, dan berdoa enam bulan berikutnya agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan.

Ini menunjukkan bahwa fokus mereka bukan pada euforia hari raya, tetapi pada kualitas hubungan mereka dengan Allah. Di sinilah letak kesalahan besar yang sering terjadi dalam cara kita memahami fitrah.

Kita menganggapnya sebagai titik akhir, padahal ia adalah titik awal. Kita mengira ia adalah status yang diberikan, padahal ia adalah kondisi yang harus dipertahankan. Kita merasa telah suci, padahal kesucian itu belum tentu benar-benar ada.

Fenomena ini semakin diperkuat oleh budaya modern yang menjadikan hari raya sebagai ajang euforia. Media sosial dipenuhi dengan foto pakaian baru, hidangan mewah, dan perjalanan liburan.

Semua itu tidak salah, tetapi menjadi masalah ketika ia menutupi dimensi spiritual yang seharusnya menjadi inti dari hari raya itu sendiri. Akibatnya, hari raya tidak lagi menjadi momentum refleksi, tetapi justru menjadi titik kembali kepada kelalaian.

Padahal dalam logika ibadah, yang lebih penting dari memulai adalah menjaga keberlanjutan. Ramadhan melatih manusia untuk berubah, tetapi Syawal menguji apakah perubahan itu nyata atau hanya sementara.

Jika setelah Ramadhan seseorang kembali kepada dosa yang sama dengan ringan, maka itu tanda bahwa proses tazkiyah belum benar-benar menyentuh hatinya.

Di titik ini, kita perlu jujur pada diri sendiri. Fitrah bukanlah kalimat yang diucapkan, tetapi keadaan yang dibuktikan. Ia terlihat bukan pada ucapan “minal ‘aidin wal faizin”, tetapi pada shalat yang tetap terjaga, pada lisan yang tetap bersih, pada hati yang tetap lembut, dan pada hubungan dengan Allah yang tetap hidup setelah Ramadhan berlalu.

Hari raya seharusnya bukan hanya tentang kembali kepada keluarga, tetapi juga kembali kepada Allah dengan cara yang lebih baik. Ia bukan hanya tentang memulai dari nol, tetapi tentang naik ke level yang lebih tinggi dalam ketaatan. Jika Ramadhan tidak meninggalkan bekas dalam hidup kita, maka yang perlu dipertanyakan bukanlah makna fitrah, tetapi kesungguhan kita dalam menjalani ibadah itu sendiri.

Maka di tengah gema takbir dan ucapan saling memaafkan, ada satu pertanyaan yang seharusnya terus kita bawa pulang: *apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah, atau hanya sekadar merasa suci tanpa pernah benar-benar berubah?

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.