Oleh : Nanda Winar Sagita*
Awal abad ke-20 dan awal abad ke-21 sama-sama dibuka dengan rentetan masalah kemanusiaan. Sekitar tahun 1900-an, orang-orang di Eropa dan Amerika yakin bahwa kemajuan industri, sains, dan perdagangan global akan membuat perang besar mustahil akan terjadi. Seratus tahun kemudian, kita berkata hal serupa dengan hadirnya internet, globalisasi, dan pasar bebas.
Dulu orang bangga dengan telegraf dan kapal uap; sekarang kita bangga dengan ponsel pintar dan kecerdasan buatan. Polanya mirip: manusia merasa sudah cukup pintar untuk menghindari bencana, lalu bencana datang dengan cara yang sangat tradisional.
Di awal abad ke-20, penderitaan manusia datang bertubi-tubi dan hampir tanpa jeda. Setelah dunia dilanda pandemi Flu Spanyol pada 1918–1920 yang menewaskan puluhan juta orang di berbagai benua. Lalu setelah itu ekonomi global dihancurkan oleh krisis finansial besar yang meledak pada 1929 yang dikenal sebagai Great Depression. Pengangguran massal, kelaparan, dan runtuhnya sistem keuangan membuat banyak negara limbung.
Ketika orang masih sibuk bertahan hidup, dunia justru terseret ke dalam Perang Dunia II, perang paling mematikan dalam sejarah modern. Seolah-olah abad itu dibuka dengan wabah, diselingi kebangkrutan, lalu ditutup dengan ledakan besar. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah keyakinan bahwa “zaman modern” sudah terlalu beradab untuk kekacauan semacam itu.
Awal abad ke-21 tidak sepenuhnya meniru, tapi nadanya terasa sama. Tahun 2008 dunia diguncang krisis finansial global yang bermula dari runtuhnya Lehman Brothers, efeknya merambat ke Eropa, Asia, hingga negara-negara berkembang. Belum lama kita menata ulang ekonomi, pandemi COVID-19 menyapu hampir seluruh planet, menutup perbatasan, merobohkan sistem kesehatan, dan mengubah cara manusia bekerja serta berduka.
Kini ketegangan geopolitik meningkat di berbagai kawasan. Perang terbuka di beberapa wilayah, perlombaan senjata, dan retorika yang makin panas, membuat istilah “ambang perang dunia” kembali terdengar, meski semua orang berharap itu hanya judul berita, bukan kenyataan. Secara global, kita menghadapi inflasi, krisis energi, dan ketidakpastian politik.
Di Indonesia, kita ikut merasakan imbasnya: harga-harga yang naik, tekanan ekonomi keluarga, serta kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Sejarah memang tidak pernah menyalin persis, tetapi ia pandai mengulang pola. Dan entah kenapa, setiap generasi selalu merasa sedang menonton musim terbaru dari serial lama, bedanya, kali ini kita yang menjadi pemerannya. []





