Oleh : Irfan Syahrial*
Sampai hari ini tradisi makan berhidang merupakan salah satu adat tradisi masyarakat yang pada umumnya masyarakat menyebutnya dengan makan beradab, tradisi makan berhidang dapat dijumpai pada upacara perkawinan maupun di acara kenduri, dan masyarakat gayo pada umumnya menyebutnya dengan tradisi mangan beredang.
Tulisan ini bukanlah untuk menimbulkan pro dan kontra, tapi lebih menekankan kepada adab didalam beredang, tatacara beredang, siapa dan bagaimana lebih memuliakan tamu, walaupun pada pelaksanaannya tergantung dari persepsi dan kacamata berfikir masing-masing, dikarenakan lain lubuk maka lain pula ikannya, lain adat lain pula khasanahnya.
Mungkin melalui tulisan ini dapat menjadi perbandingan dikarenakan semakin modernnya masa membuat tradisi mangan beredang mulai ditinggalkan sebahagian kalangan disebabkan lebih merepotkan, membutuhkan orang banyak, alat yang banyak, lauk pauk yang banyak dan membutuhkan tempat yang luas pula, sehingga masyarakat apalagi yang dikawasan perkotaan lebih mau memilih cara berprasmanan dalam melayani para tamu dikarenakan cara penyajian dengan meletakan makanan pada meja yang panjang dengan pengunjung atau tamu mengambil sendiri hidangan tersebut maka lebih dianggap praktis dan mengurangi jumlah personil yang diperlukan dalam sebuah acara.
Kebanyakan kita melihat Adab didalam mangan beredang dilakukan oleh tuan rumah dengan mengandalkan tenaga anak muda, bukan dengan orang yang memahami didalam beredang, dikarenakan anak muda mungkin lebih energik, namun terkadang anak muda keseringannya tidak memperdulikan adab dari beredang, dengan pakaian yang tidak layak, berjongkok, tidak memilih siapa yang didahulukan, dan kapan waktu dipersilahkan, terkadang membuat ketidaknyamanan mata tamu.
Adab beredang diawali dari kehadiran para tamu yang sudah masuk berkumpul disuatu acara, kebanyakan tamu mencari tempat duduk yang duduknya keseringan merapat kedinding, sebelum memulai acara inti, maka beredang didahulukan dengan penedang (penghidang) menggunakan pakaian minimal menutupi aurat dengan menggunakan kain sarung dengan duduk bersila ditengah tamu undangan, langsung mengetahui siapa yang didahulukan dan dituakan, selanjutnya menunggu hidangan yang akan dihidang.
Hidangan adalah berupa makanan dan minum yang sebenarnya didalam satu nampan berisi khusus untuk satu orang tamu, bukan yang kebanyakan orang lakukan yaitu satu nampan penuh dengan gelas yang bersusun khusus air, atau satu nampan penuh dengan nasi, akan tetapi permasing – masing nampan adalah khusus hidangan untuk permasing-masing tamu.
Penedang yang lain menunggu didepan pintu masuk, maka satu orang penedang lain akan membawa masuk dengan lutut sebagai tumpuan pelan-pelan membawa nampan maka satu persatu nampan diserahkan kepada penedang yang sudah menunggu ditengah tamu, selanjutnya penedang menerima dari pembawa hidangan dan penedang meletakan makanan dan minum beserta cuci tangan dengan berhadapan langsung dengan tamu terus menerus persatu satu tamu sampai terakhir tempat menuju pintu, maka selanjutnya sebelum acara inti dimulai, maka si tuan rumah menyampaikan maksud hati dan selanjutnya mempersilahkan para tamu untuk menyantap hidangan sampai selesai makan.
Setelah para tamu selesai menyantap hidangan, maka penedang yang menghidangkan sebelumnya kembali masuk dan duduk ditengah para tamu, diikuti pengedang lain, selanjutnya mengambil satu persatu sisa hidangan kembali diletakkan keatas nampan dan menyerahkan kepada pengedang lainnya untuk dibawa ke belakang, demikian seterusnya sama dengan ketika sewaktu beredang sebelumnya masih dengan tatacara semula.
Selanjutnya berlanjutlah acara inti, setelah acara inti maka dilanjutkan dengan hidangan kecil seperti kopi teh dan cemilan, dengan cara beredang yang sama, maka sebelum tamu belum meninggalkan tempatnya maka hidangan tidak boleh diambil oleh si penedang.
Apalagi bagi anak muda kini, ini perlulah penerapan dan dibimbing kedepannya oleh orang tua yang sudah memahami, agar tetaplah terjaga adab dalam beredang (berhidang), apalagi didalam acara perkawinan ataupun kenduri, agar tidaklah muncul bahasa kune kenak (sukahati) terhadap para tamu.
Merujuk kedaerah lain,misalnya dipalembang, lampung, riau dan beberapa daerah lain, pemerintahannya cukup berperan penting untuk menjaga tradisi adab berhidang, mereka memperlombakan cara berhidang, tujuannya adalah melestarikan tradisi adab berhidang, tidak ada salahnya kita mencontoh asal itu punya tujuan yang baik. Demi menjaga tradisi dan generasi yang akan datang. [SY]





