REDELONG-LintasGAYO.co : Lahmuddin warga Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh ini tak bisa menyimpan rasa kecewanya terhadap pemerintah.
Lahmuddin merupakan sosok yang diusulkan Pemerintah Aceh sebagai nominator penerima penghargaan Kalpataru (penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia) untuk kategori Perintis ini.
Kepada LintasGAYO.co, Rabu 3 Maret 2021, Lahmuddin tak mampu menyimpan rasa kecewanya tersebut. Betapa tidak, beberapa waktu lalu saat peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Provinsi Aceh yang dipusatkan di Aceh Tengah, Lahmuddin hadir untuk menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
“Saat itu, plakat dan piagam penghargaan diberikan oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah di Gedung Olah Seni Takengon,” kata Lahmuddin.
Lahmudin yang mengelola hutan Pentago di kawasan Blang Panas, Bener Meriah ini mengaku bahwa dirinya hanya menerima plakat dan piagam saja. “Sementara tak ada sepeserpun uang pembinaan yang diberikan kepada pegiat lingkungan seperti kami ini. Saya merasa tak enak hati sampai saat ini,” katanya.
Meski tak terpilih sebagai pemenang, namun Lahmuddin menjadi satu-satunya orang yang diusul oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh sebagai nominator peraih anugerah tersebut untuk kategori perintis.
“Memang saya dengar selama ini, kalau kita bergerak dibidang pelestarian, jarang sekali diperhatikan oleh pemerintah. Contohnya seperti ini, harusnya Dinas yang berwenang mengurusi masalah ini, adalah perhatiannya sedikit. Ini artinya tidak ada penghargaan dari Pemerintah Aceh kepada pegiat lingkungan,” terangnya.
Kekecewaan Lahmuddin kemudian memuncak saat BPSKL Wilayah Sumatera menghubunginya untuk membuatkan proposal bantuan atas apa yang telah dia lakukan menjaga lembah Pentago yang asri dan rindang.
“Ada dari BPSKL Wilayah Sumatera menghubungi saya untuk membuat proposal bantuan. Tapi saya bilang, tak usah lagi, karena sebelimnya saya sudah kecewa kepada Pemerintah Aceh, saya sudah menolak tawaran bantuan dari BPSKL tersebut,” demikian Lahmudin.
Sebagaimana diketahui, lembah Pentago yang dikelola Lahmuddin saat ini terlihat rindang dan asli. Lahmudin sukses mengembalikan lahannya menjadi fungsi hutan di tengah kota.
Lulusan teknik elektro, ITM ini mengaku dirinya sangat hoby berinteraksi dengan alam. Di lahan seluas lebih kurang 6 hektar tersebut, ia menamam, tanaman industri, buah lokal, tanaman obat-obatan, kayu endemik (grupel dan pungkih).
Lokasi ini, juga teraedia tempat camping ground, syuying dan dalam waktu dekat akan dibuat lintas alamnya.
[Darmawan]







