Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA*
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai identitas dengan ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Identitas juga merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi.
Semua orang mempunyai identitas yang menjadi kekhususan diri sendiri, baik dari keluarga, gender, budaya, etnis dan itu semua akan menjadi identitas yang dikenal oleh semua orang, karena itu identitas harus disosialisasikan kepada semua orang dengan menggunakan berbagai media, terlebih lagi sekarang banyak jenis media yang bisa digunakan.
Identitas bagi setiap orang sangat penting karena identitas merupakan pembeda antara satu orang dengan orang lain, antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.
Karenanya ada identitas yang bersifat individu seperti nama yang melekat kepada seseorang, anak yang melekat pada diri yang pernah dilahirkan. Demikian juga dengan identitas yang melekat pada kelompok, suku dan bangsa.
Identitas yang melekat pada kelompok seperti keluarga (marga, clain, urang dan kuru atau keluarga kecil), identitas suku seperti, suku Gayo, Aceh, Jawa dan lain-lain. Juga yang melekat sebagai suatu bangsa, Indonesia, Malaysia, Arab dan lain-lain.
Keberagaman identitas dalam penciptaan manusia dimaknai dengan Keagungan Allah sebagai Maha Pencipta, kalau Allah menghendaki manusia diciptakan dalam satu identitas yang sama tentu saja bagi Allah bukanlah sesuatu yang sulit, namun penciptaan yang beragam tentu mengandung makna yang lebih dalam lagi.
Diantara hikmah penciptaan dalam keberagaman identitas adalah untuk saling mengenal “li ta’arafu”, Allah berfirman :
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (49:13)
Kita temukan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan adalah identitas, yang dari identitas ini berkembang dan lahir identitas-identitas yang lebih besar bukan hanya identitas laki-laki dan perempuan tapi juga menjadi suku-suku dan bangsa, dengan harapkan semua orang tetap memelihara identitas yang dia miliki dan selalu mengetahui dan mengakui keberadaan identitas lain, serta tidak pernah berupaya mengganti mengganti identitas diri dan menghilangkan identitas orang lain karena identitas juga merupakan taqdir Tuhan.
Inilah makna saling mengenal atau saling mengakui sehingga tidah muncul adanya diskriminasi identitas.
Nabi Muhammad dilahirkan mempunyai identitas sebagai orang Quraisy, identitas kequraisyannya tidak pernah dia ganti dengan yang lain, padahal demi kepentingan penyebaran agama boleh saja ia mengganti identitasnya, namun itu tidak dilakukan.
Kenapa…tentu karena kalau dia menggunakan identitas lain maka ia tidak lagi mempunyai identitas. Allah menambah identitas lain kepada Muhammad yakni identitas Nabi dan Rasul. Orang-orang quraisy menambah identitas Muhammad dengan al-amin, karena kejujurannya.
Perkembangan dunia semakin maju dan semakin berkembang, persaingan hidup semakin berat, sehingga banyak orang tidak sanggup lagi hidup dengan identitas yang dimiliki, boleh jadi karena identitas yang dimiliki tidak dapat memberi keuntungan kepadanya, atau juga ia ingin mengganti identitasnya karena ingin menguasai dan mengaburkan identetas orang lain.
Karena sebenarnya diantara penyebab runtuhnya peradaban manusia adalah karena hilang atau kaburnya identitas.
Persoalan pengaburan dan penghilangan identitas seperti ini sering terjadi dalam masyarakat, diantara sebabnya adalah karena pengaruh materialis.
Kita masih ingat dengan sejarah Nabi, ketika Nabi ditawarkan harta, kedudukan dan perempuan untuk menghilangkan identitas kenaniannya, namun Nabi tidak mau mengganti identitasnya hanya karena kemegahan dunia.
Lala ajaran Nabi dalam mempertahankan identitas bagi kita adalah sunnah yang harus diikuti, jangan karena kita bukan Nabi sehingga kita dengan mudah mengatakan kalau harta lebih penting bagi kita dibanding dengan identitas demikian juga dengan tawaran akan jabatan, semoga itu tidak terjadi, karena memang identitas tidak bisa diganti apalagi hanya sekedar menggadainya dalam waktu yang singkat.
Nilai yang paling tinggi dalam hidup manusia adalah identitas, karena itu jangan pernah mengganti atau menukarnya, bila itu kita lakukan maka tidak ada lagi orang yang bisa memanggil kita. []






