Catatan Mahbub Fauzie
Melakukan kebaikan membutuhkan dua hal penting: konsistensi dan rasa percaya diri. Dalam berdakwah, keduanya menjadi modal utama. Sebab di zaman sekarang, dakwah tidak lagi hanya dilakukan di mimbar masjid, majelis taklim, atau forum pengajian. Era digital telah membuka ruang dakwah yang jauh lebih luas, cepat, dan menjangkau banyak orang.
Karena itu, para dai, daiyah, juru dakwah, tokoh agama, guru, bahkan siapapun yang memiliki niat baik untuk menyampaikan pesan kebaikan, jangan merasa minder, rendah diri, atau mudah menyerah. Jangan pula terlalu sibuk memikirkan penilaian orang hingga akhirnya memilih diam.
Hari ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Facebook, WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform lainnya dipakai orang untuk berdagang, berpromosi, mencari keuntungan, bahkan membangun popularitas.
Jika urusan dunia saja memanfaatkan media digital secara maksimal, lalu mengapa dakwah dan syiar Islam justru tertinggal?
Dakwah digital bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia hanyalah sarana. Yang terpenting adalah isi dan niatnya. Menyampaikan ayat Al-Qur’an, hadis, pesan moral, nasihat keluarga, motivasi ibadah, atau ajakan berbuat baik melalui media sosial adalah bagian dari amal saleh jika dilakukan dengan niat yang benar.
Sering kali ada orang yang enggan berdakwah karena takut dianggap riya, pencitraan, atau mencari perhatian. Padahal, riya itu urusan hati.
Jangan sampai bisikan semacam itu justru membuat kita berhenti menyampaikan kebaikan. Jika semua orang takut berbagi ilmu karena khawatir dinilai riya, maka ruang digital akan dipenuhi oleh konten yang tidak mendidik.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
Hadis ini menunjukkan bahwa menyampaikan kebaikan tidak harus menunggu menjadi ulama besar atau tokoh terkenal. Selama yang disampaikan benar dan bermanfaat, maka itu sudah menjadi bagian dari dakwah.
Di era digital, dakwah juga harus cerdas. Bukan sekadar banyak berbicara, tetapi mampu menyesuaikan bahasa, media, dan cara penyampaian dengan kondisi masyarakat hari ini.
Konten yang singkat namun menyentuh, video sederhana tetapi bermakna, tulisan ringan namun menggugah — semuanya bisa menjadi jalan hidayah bagi orang lain.
Kadang kita tidak pernah tahu, satu tulisan pendek yang kita unggah bisa mengingatkan seseorang untuk shalat, memperbaiki hubungan keluarga, menghentikan perbuatan buruk, atau menguatkan orang yang sedang putus asa. Di situlah nilai besar dakwah digital.
Karena itu, jangan malas menebar kebaikan. Jangan merasa kecil hanya karena tidak terkenal. Jangan berhenti hanya karena kritik atau komentar manusia. Selama yang dilakukan untuk umat dan kemaslahatan, maka ambillah peran.
Sebab di zaman ini, bukan hanya orang yang berbicara di mimbar yang berdakwah. Orang yang menulis status bijak, membagikan ilmu, membuat video nasihat, dan mengajak kepada kebaikan di media sosial pun sedang berdakwah di jalannya masing-masing.
Mari manfaatkan teknologi bukan hanya untuk hiburan dan kepentingan pribadi, tetapi juga untuk menyebarkan cahaya kebaikan kepada sesama.[]
Atu Lintang, 7 Mei 2026
