Guru, Buku dan Mutu = Bukan Guru Biasa

oleh
Murid SD penerima bantuan alat sekolah hasil lelang buku Gayo 6,2 SR

CatatanDarmawan Masri

Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia, kehadiran guru bagi peserta didik ibarat sebuah lilin yang menjadi penerang tanpa batas juga tanpa membedakan siapa yang diterangi nya demikian pula terhadap peserta didik. Tetapi, dalam mengemban amanah sebagai seorang guru, perlu kiranya tampil sebagai sosok profesional. Sosok yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan, sosok yang dapat memberi contoh teladan dan sosok yang selalu berusaha untuk maju, terdepan dan mengembangkan diri untuk mendapatkan inovasi yang bermanfaat sebagai bahan pengajaran kepada anak didiknya.

Guru selalu dihadapkan dengan aktifitas mengajar dan mendidik, proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan. Proses pembelajaran berhasil dan mutu pendidikan dapat meningkat apabila guru mampu memahami dan menghayati profesinya dan dan tentunya guru yang memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif, guru mampu menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan.

Guru dalam melaksanakan tugas profesinya dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti cara bertindak bagaimana yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai, metode penyajian bagaimana yang paling efektif, alat bantu apa yang paling cocok, langkah-langkah apa yang paling efisien, sumber belajar mana yang paling lengkap, sistem evaluasi apa yang paling tepat, dan sebagainya.

Kualitas guru yang terkadang kurang mampu memenuhi kualifikasi guru profesional, acap kali membuat produk suatu institusi pendidikan “tidak terpakai”. Alasannya sangatlah jelas, kurang berkualitas.

Hal tersebut kiranya ada beberapa penyebab. Pertama, orientasi nilai pada guru ketika menempuh studi kuliah, kebanyakan kuliah di Fakultas Keguruan adalah sebagai pelarian  semata, karena tidak lulus di fakultas-fakultas lain yang lebih bonafit menurut mereka, seperti fakultas kedokteran, fakultas teknik dan lain-lain. Hal ini yang mengakibatkan bahan pengetahuan, pengajaran dan skill hanya diukur berdasar nilai yang didapat. Sehingga, terkadang semasa menjadi mahasiswa, pendalaman pada penguasaan materi kurang dikuasai.

Kedua, guru kurang memperluas pengetahuan lewat buku. Singkatnya, ada kecenderungan malas membaca buku. Dan tampaknya gejala malas membaca buku perlu menjadi sorotan. Sebagai guru, sudah menjadi kewajiban untuk berlaku dan berpikir cerdas. Membiasakan aktifitas yang bersifat pengayaan intelektual, seperti diskusi, membaca buku, dan seminar, adalah kebutuhan pokok. Malas membaca menyebabkan kualitas guru kurang matang. Kerap kala waktu menjadi mahasiswa bersentuhan dengan buku hanya untuk urusan tugas semata. Selebihnya, menjadi sesuatu yang sulit untuk direalisasikan.

Membaca, pada dasarnya adalah proses penciptaan generasi intelektual. Dengan kebiasaan membaca, tentunya secara tidak sadar, kita dilatih untuk berpikir analisis, serta semakin melatih pemikiran yang bersifat kritis. Ada ungkapan yang sering dikaitkan untuk memahami kecerdasan seseorang. Kecerdasan seseorang adalah apa yang dibacanya. Dan kebebasan membaca buku sekarang sudah tidak lagi ada pembatasan. Kita bebas membaca buku apa saja. Semua tersedia, tidak dilarang pula. Berbeda pada zaman Orde Lama, untuk membaca buku tertentu, seperti buku beraliran kiri dan karya sastra serupa, sangatlah dilarang, bahkan sampai pada penangkapan. Hanya karena membaca buku.

Kualitas guru dan buku akan meningkatkat peningkatan mutu peserta didik, memang guru dan buku selalu berkaitan dengan proses peningkatan mutu pendidikan, bukan hanya itu ketiganya sering kali dijadikan sebagai moto di dunia pendidikan. Mengapa tidak belajar tanpa guru sangat bisa terlaksana asalkan peserta didik mempunyai keinginan untuk mendapatkan dan membeli serta membacanya. Sangat mungkin terjadi bahwa seorang murid akan lebih banyak tau dari pada guru. Karena muridnya lebih aktif menggali informasi-informasi teraktual lewat buku maupun tulisan-tulisan yang tersebar dijejaring dunia maya. Terlebih zaman sekarang dimana informasi dan teknologi merajai dunia pendidikan. Oleh sebab itu, sebagai seorang yang harus lebih pintar dan lebih pandai dari anak didik nya, mau tak mau harus lebih banyak membaca buku dan selalu mengupdate informasi terbaru agar selalu lebih tau dari pada siswanya. Bila tidak guru tersebut akan merasa tersindir akibat ketidaktahuannya.

Ketiga, tunjangan sertifikasi guru yang menuntut seorang guru tersebut harus profesional bukanlah hal yang paling efektif dalam menunjang kemajuan mutu pendidikan. Akan tetapi tunjangan itu diberikan semata-mata hanya untuk menambah kelayakan hidup seorang guru, bukan menjadi jaminan bahwa pendidikan akan menjadi bermutu. Memang dalam mendapat tunjangan sertifikasi akan menambah gairah guru dalam mengajar, akan tetapi kualitas seorang guru juga perlu dipertanyakan. Sangat banyak profesi yang sangat mulia ini dijadikan sebagai alternatif atau pelampiasan (jalan keluar untuk mencari nafkah) saja. Hal tersebut akan terasa sangat mengerikan dan paling berbahaya, mengapa tidak walau ditambah tunjangan sertifikasi yang tinggi pun pasti guru tersebut tidak mampu membentuk karakter kecerdasan anak didiknya.

Sangat banyak terjadi sekarang ini seorang murid tidak lagi menghormati gurunya. Proses belajar mengajar semata-mata bukan lagi menjadi hal yang wajib dilakukan oleh seorang guru akan tetapi sudah menjadi suatu bagian dari sunat. Kenapa ? apakah semua ini terjadi karena guru tidak lagi menjadi yang lebih tau dari siswanya ? atau siswanya menganggap bahwa guru itu tidak lagi diperlukan, yang diperlukan hanyalah bagaimana jika mereka nantinya menghadapi Ujian Nasional dapat lulus dengan dibantu oleh pihak sekolah, karena kalau tidak dibantu, sekolah dan daerah yang akan tersudutkan, dan menggagap proses belajar mengajar adalah suatu formalitas belaka. Tingkat kelulusan pun selalu dipuja dan diagungkan untuk mencari gengsi dan pujian serta kebanggaan oleh pihak terkait. Wallahua’lam.

Sosok profesional tentu saja idaman bagi profesi guru. Dewasa ini, tak dipungkiri lagi profesi guru adalah profesi yang paling diminati oleh banyak kalangan orang, ditambah dengan semakin berpihaknya pemerintah pada profesi ini yang membuat orang berlomba-lomba menjadi guru.

Keprofesionalan guru dapat dilihat dari pengabdian hidupnya menuangkan ilmu-ilmu kepada peserta didik, dan tak lari dari masalah akan tetapi mereka yang mencari solusi tentang cara penyelesaiannya.

Ada yang mengibaratkan bahwa profesionalisme seorang guru seharusnya kokoh bagaikan akar pohon yang terus menembus kerasnya tanah. Demi mendapatkan makanan dan dedaunan, dia terus menembus tanah agar semakin berdiri kokoh. Di mengibaratkan, dedauanan itu sebagai anak didiknya. Saat daun itu menjadi sekuntum bunga, itulah saat anak didiknya  dapat menunjukkan kemampuannya. Dan saat bunga itu sudah menjadi buah, itulah saat anak didiknya telah mencapai puncak prestasi dalam hidupnya.

Kuatnya akar mampu mempertahankan berdirinya pohon itu saat diterpa angin seperti halnya kuatnya guru itu diterpa masalah dan cobaan dalam kehidupannya. Pohon itu tetap berusaha berdiri tegak, sama halnya seperti guru yang tetap berdiri tegak untuk tetap mencurahkan ilmu pada murid-muridnya. Akar juga tak memikirkan dirinya sendiri, ia rela berkorban agar pohon tercukupi ilmunya.

Sosok seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri, namun ia memikirkan bagaimana membuat anak didiknya menjadi sukses. Sosok guru idaman adalah pekerja keras, tidak egois tidak mementingkan diri sendir, dia akan beralih dari satu murid ke murid yang lain untuk memberikan perhatian. Meskipun guru tidak mendapat imbalan apa-apa dari anak didiknya. Ia menaburkan serbuk-serbuk ilmu yang ia miliki agar ilmu tersebut nantinya dapat berbuah kesuksesan.

Terlepas dari ilustrasi  diatas, tentu juga banyak menemukan para guru yang hanya menjadikan profesi guru sebagian dari cara untuk bertahan hidup, begitu banyak guru yang tidak peduli dengan profesinya yang sangat stategis itu. Tentu saja hal ini menjadi suatu hal yang sangat dilematis dalam dunia pendidikan kita pada saat ini, guru hanya menjadi aktor yang bekerja sekedar pelepas tanggung jawab, bahkan itupun tidak dibarengi dengan kemampuan yang memadai sebagai aktor yang cakap untuk mentransformasikan pengetahuannya. Lebih jauh lagi, tentu kita tidak menafikkan bahwa banyak guru yang benar-benar bertanggungjawab dengan profesinya, terlebih banyaknya hambatan yang terjadi saat ini terutama soal kompetensinya.

Maka dari itu untuk membentuk suatu karekter guru yang betul-betul menjadi panutan bagi siswanya, janganlah semata-mata profesi yang mulia ini ternodai dengan sekedar hanya mencari penghasilan dari kehidupan semata.

Guru-guru luar biasa adalah mereka yang mengajar murid-muridnya dengan cara-cara yang luar biasa, sehingga murid-murid yang diajar oleh guru-guru tersebut mencapai prestasi belajar yang luar biasa.

Untuk menjadi guru luar biasa, perlu memiliki keberanian dan kesiapan mengambil resiko yang lebih besar daripada guru-guru biasa. Sukses sebetulnya adalah akumulasi dari sejumlah permainan. Mereka yang terbaik adalah mereka yang mengembangkan mindset tidak memilih kegagalan. Kuncinya, jika seorang guru memimpikan mimpi-mimpi besar dan bertindak dengan penguasaan lebih besar,  maka guru akan mencapai keberhasilan yang lebih besar. Memang, semakin tinggi posisi akan semakin banyak kritikan terhadap terhadap guru tersebut. Untuk itu diperlukan keberanian untuk bertahan terhadap berbagai kritikan dan menerima resiko terhadap keputusa. Jika guru tidak berani menerima resiko itu, maka guru itu akan berhenti sebelum sampai pada hasil-hasil yang Anda mimpikan.

Dengan melakukan cara-cara yang benar, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran serta tak membiarkan dunia pendidikan tercoret akan hal-hal yang dipolitisir yang hanya mengharapkan gengsi yang lebih dengan cara mencederai pendidikan itu sendiri, bisa pasti guru tersebut dikatakan sebagai guru yang luar biasa dan menjadi bukan guru biasa.

*Pemred LintasGAYO.co

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *