(Arsip Syamsuddin Said): Seberu Gayo dan Tradisi musik canang di Gayo Lues

oleh
Seberu Gayo. (Foto : Khalis)
Seberu Gayo. (Foto : Khalis)

ZAMAN dulu calon pengantin Pria di Gayo Lues diantar ramai-ramai ke rumah calon mempelai Wanita, pada malam hari untuk menerima akad nikah di sebut juga “Mah Bai” (Bahasa Gayo).

Agar suasana nya cukup meriah lebih-lebih bila kediaman calon mempelai wanita agak jauh diiringi dengan musik Tradisional yaitu canang, yang di tabuh oleh anak-anak gadis (Seberu) atau wanita separuh sebaya.

Akan tetapi sebelum masuk Kampung calon mempelai wanita rombongan pengantar pengantin calon pengantin Pria harus menunggu sejenak  di suatu tempat yang di sebut “Pesilangan”  untuk di jemput oleh “Telangke” atau perantara dari pihak calon pengantin wanita yang telah di sepakati kedua belah pihak sewaktu “Nginte” (peresmian lamaran).

Guna mengusir kejenuhan selama menanti maka canang terus menerus di tabuh kadang-kadang bersahut-sahutan dengan irama canang dari kediaman calon mempelai wanita.

Alat musik ini cukup sederhana kerena hanya dari lima atau enam buah canang serta sebuah gong yang mirip melanja Jawa dan supaya mudah menabuhnya sambil berjalan canang di beri tali.

Irama canang antara Kampung dengan Kampung berbeda sehingga gampang mengenalnya.

Tetapi sejak era tujuh puluhan bunyi canang sudah jarang kita dengar dan bendanya pun satu persatu sudah hilang dari Kampung-kampung tidak diketahui kemana raibnya, sehingga penabuh canang pun mulai langka.

Setelah bergulirnya reformasi dengan penguatan otonomi, pemerintah daerah menyerukan agar seni tradisional dihidupkan kembali sebagai khasanah Budaya Bangsa, namun sayangnya belum semua kampung memiliki alat musik canang, sehingga bila ada keperluan terpaksa meminjam kesana kesini.

Akibat Irama canang pun tidak beraturan lagi kadang-kadang menggelikan kita tidak seperti dulu enak mendengarnya, lebih-lebih gadis (seberu) sekarang tidak pandai menabuhnya entah apa penyebabnya, apakah malu atau gengsi, sehingga penabuh canang adalah Nenek-nenek.

Sebenarnya untuk menabuh canang cukup mudah bila seberu sudah bisa memetik “Kecapi”, alat musik Tradisional Gayo terbuat dari sebuah bambu Betung yang di beri senar dari kulitnya sendiri dan di sampingnya di beri lubang dalam Bahasa Gayo Aceh Tengah dan Bener Meriah dinamai “Teganing”.

Dulu kecapi di mainkan gadis  (Seberu) Gayo pada waktu senggang atau saat menunggu jemuran padi di lapangan agar tidak di makan ayam atau merpati.

Mungkin karena sekarang sudah ada kilang padi dan  setelah panen semua petani menyerahkan hasil panennya kesana, lalu tiap bulang hanya terima bersih berasny, sehingga seberu menunggu jemuran padi pun sudah jarang kita temukan di Kampung-kampung.

Kini bunyi kecapipun tidak terdengar lagi sudah berganti dengan bunyi musik Keyboard melantunkan lagu-lagu seronok melalui tape recorder, atau CD meupun DVD sebab hampir tiap rumah sedah memiliki.

Oleh kerena itu alat musik Tradisional Gayo seperti, Canang, Kecapi, Popo, Suling dan Bangsi, sudah menjadi barang langka.
Namun kita sudah sukup bangga Masyarakat Alas di Kabupaten Aceh Tenggara hingga sekarang masih menggunakan canang sebagai musik pengiring pengantin, juga mengiringi anak-anak yang akan di Khitan ( Pengantin Sunatan Naik Kuda ).

Harapan kita semoga betapa pun pesatnya kemajuan teknologi di segala bidang, Seni Budaya Tradisional tidak punah di telan masa kerna merupakan asset Bangsa yang tidak ternilai harganya.

Guna menjadi daya tarik Wisatawan Mancanegara maupun domistik berkunjung ke Aceh umumnya dan Negeri Seribu Bukit khususnya, cukup ideal rasanya bila Dinas Perawisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Bidang Kebudayaan Dinas Dikbud Kabupaten Gayo Lues menggelar Festival Musik Tradisional Gayo, yang waktunya apakah dalam rangka peringatan hari Ulang Tahun Kabupaten atau ulang tahun Kemerdekaan RI, terserah saja..!!!

sumber: infogayo

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *